Medan, SeputarSumut — Harga cabai rawit di wilayah Sumatra Utara (Sumut) mengalami gejolak yang sangat fluktuatif dan menunjukkan tren kenaikan yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir akibat menipisnya stok persediaan. Kondisi ini berbanding terbalik dengan harga daging ayam di tingkat peternak yang masih terpuruk di bawah harga ideal karena lemahnya permintaan dari masyarakat.
Ekonom Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa pergerakan harga cabai rawit sangat tidak stabil karena ketergantungan pasokan yang tinggi dari luar provinsi. Pada hari Minggu, harga komoditas tersebut bahkan sempat menyentuh angka Rp55.000 per kilogram di wilayah Deli Serdang.
Berita Ekonomi: Harga Cabai Rawit di Sumut Melonjak Akibat Pasokan Minim, Daging Ayam Justru Lesu
“Jika melihat tren perubahan harganya, cabai rawit terpantau mulai alami kenaikan sejak pekan keempat Juni kemarin,” ujarnya di Medan, Senin, 6 Juli 2026.
Gunawan menjelaskan bahwa pada akhir Juni lalu, harga cabai rawit sebenarnya masih berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp32.000 per kilogram. Namun saat ini, di pasar yang sama di Deli Serdang, komoditas tersebut sudah diperdagangkan di kisaran Rp48.000 per kilogram.
“Kenaikan harga cabai rawit belakangan ini lebih dipengaruhi oleh faktor persediaan yang menurun,” tuturnya.
Situasi yang berbeda justru terjadi pada komoditas cabai merah yang harganya menunjukkan tren menurun meskipun sempat mengalami lonjakan singkat. Pada pekan terakhir Juni, harga cabai merah sempat mencapai Rp50.000 per kilogram di Deli Serdang dan wilayah sekitar Kota Medan sebelum akhirnya kembali melandai.
“Dan saat ini di pasar yang sama harga cabai merah ditransaksikan pada kisaran harga 32 hingga 35 ribu per Kg,” jelasnya.
Menurut analisisnya, ketidakstabilan harga pada cabai merah utamanya dipicu oleh faktor cuaca yang tidak menentu serta kelancaran jalur distribusi barang dari luar daerah. Sementara itu, komoditas tomat terpantau masih bertahan tinggi di kisaran Rp16.000 per kilogram dan relatif stabil dalam rentang Rp13.000 hingga Rp16.000 per kilogram selama sebulan terakhir.
“Petani diuntungkan dengan mahalnya harga tomat tersebut,” paparnya.
Di sisi lain, sektor peternakan justru menghadapi kondisi yang kurang menguntungkan karena harga daging ayam di tingkat pedagang masih tertahan murah di angka Rp28.000 hingga Rp32.000 per kilogram. Penurunan ini terasa lebih berat di tingkat peternak karena harga ayam hidup per kilogramnya hanya dihargai sekitar Rp17.000 hingga Rp18.000.
“Gambaran ini sangat miris karena peternak ayam harus menanggung beban kenaikan harga pakan ternak sebelumnya,” tambahnya.
Gunawan menegaskan bahwa rendahnya daya beli atau faktor permintaan masyarakat yang lesu menjadi akar masalah utama dari anjloknya harga daging ayam belakangan ini. Selain daging ayam, harga telur ayam juga ikut merosot dan saat ini ditransaksikan dalam rentang Rp1.600 hingga Rp2.100 per butir.
“Dalam sepekan kedepan diproyeksikan sejumlah harga kebutuhan pangan pokok tersebut stabil dari posisi saat ini,” pungkasnya.
Stabilitas harga bahan pangan tersebut diperkirakan akan bertahan dalam tujuh hari ke depan. Hal ini disebabkan oleh belum adanya indikasi perubahan yang signifikan dari sisi permintaan maupun pasokan barang di pasar.(Siong)


