Jakarta, SeputarSumut — Presiden Tiongkok Xi Jinping dikabarkan bakal melangsungkan kunjungan langsung secara personal untuk menemui Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di wilayah Pyongyang, Korea Utara dalam waktu dekat. Agenda rencana kedatangan Xi Jinping menuju Pyongyang ini diposisikan sebagai sebuah momentum kunjungan yang terhitung langka, terlebih karena kegiatan tersebut bakal dieksekusi hanya berselang beberapa minggu pasca-Xi menerima kedatangan Trump dan Putin di kota Beijing.
Kondisi tersebut memperlihatkan corak yang kontras dengan model pertemuan bilateral dari dua pucuk pimpinan negara kuat lainnya, yakni Amerika Serikat dan Rusia, di mana Xi Jinping diketahui sempat menerima kunjungan resmi dari Presiden Donald Trump sekaligus Presiden Vladimir Putin pada periode Mei yang lalu.
Dunia Internasional: Presiden Tiongkok Xi Jinping Dijadwalkan Lakukan Kunjungan Langka Menemui Kim Jong Un di Korea Utara
Berdasarkan rilis informasi resmi yang dikeluarkan oleh kantor berita Tiongkok Xinhua beserta agensi berita milik pemerintah Korut KCNA sebagaimana dikutip dari CNN, Xi dijadwalkan untuk menjalankan misi lawatan di teritorial Korut guna bersua dengan Kim Jong Un selama durasi dua hari yang dimulai pada hari Senin (8/6) waktu setempat. Langkah perjalanan ini sendiri diposisikan sebagai wujud kunjungan balasan bagi sosok Xi Jinping yang tercatat pernah menerima kedatangan Kim Jong Un pada periode September 2025 yang lalu. Pada momen kala itu, Xi melayangkan undangan resmi kepada sejumlah kepala negara termasuk di dalamnya Kim Jong Un demi menghadiri agenda peringatan berakhirnya peristiwa Perang Dunia 2 di kota Beijing.
Perjalanan ini dipastikan bakal menorehkan catatan sebagai lawatan perdana bagi Xi ke kawasan Korea Utara sejak tahun 2019 silam, sekaligus menandai status perjalanan luar negeri pertama bagi Xi di sepanjang tahun ini. Agenda pertemuan bilateral tersebut dianalisis bakal menjelma sebagai bentuk pergerakan terbaru dari pihak Beijing untuk kembali menghangatkan jalinan hubungan bersejarah namun kerap kali dinilai rumit dengan negara tetangganya tersebut, yang sempat terindikasi mendingin dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan.
Dikutip dari media The New York Times, kalangan pengamat memberikan penilaian bahwa pihak Tiongkok kemungkinan besar memiliki keinginan untuk kembali menegaskan pengaruh kuatnya terhadap wilayah Korut yang belakangan ini dinilai mulai condong ke arah Rusia. Di sisi lain, Kim diproyeksikan tidak mempunyai keinginan untuk diposisikan atau diperlakukan layaknya seorang mitra junior oleh pihak Beijing, dan mengantongi kemungkinan besar untuk memanfaatkan keakraban barunya dengan pihak Rusia guna menekan Beijing agar bersedia mendistribusikan konsesi pada sektor ekonomi.
Sekiranya pihak Korea Utara sukses mengeksekusi strategi penyeimbangan terhadap dua negara tetangga raksasanya tersebut, Kim diprediksi mungkin bakal merasa tidak terlalu terkendala dalam hal memajukan rupa-rupa program senjata nuklir miliknya. Kondisi semacam itu dinilai berpotensi menggoyang stabilitas di kawasan setempat, di mana segenap sekutu dari AS sudah berada dalam pusaran kekhawatiran mengenai parameter peningkatan kekuatan militer Tiongkok serta kapasitas Washington untuk mematuhi poin perjanjian pertahanannya lantaran negara tersebut tengah menghabiskan pasokan sumber daya untuk kebutuhan berperang dengan Iran.
Sosok Xi Jinping memiliki kecenderungan bakal memanfaatkan jalur akses langka yang dikantonginya kepada Kim Jong Un guna memberikan peringatan kepada dunia internasional bahwa pihak Korea Utara sejatinya tetap bergantung pada Tiongkok, dan menegaskan bahwa kedudukan Beijing sama sekali tidak dapat dikesampingkan. Muatan pesan kuat tersebut dinilai bakal berjalan selaras dengan rupa-rupa upaya dari Xi Jinping dalam memproyeksikan citra Tiongkok sebagai sebuah kekuatan negara adidaya yang berada pada level setara dengan AS. Pihak Tiongkok memiliki keinginan untuk memperlihatkan bahwa di saat Washington dinilai menabur situasi kekacauan, baik lewat jalur peperangan dengan Iran ataupun melalui langkah pemberlakuan tarif pada mitra sekutu maupun pihak musuh, Beijing memosisikan diri sebagai kekuatan penstabil di lingkup dunia.
Poin esensial tersebut terpantau ikut diperkuat di dalam momentum pertemuan puncak yang dilangsungkan oleh Xi Jinping baru-baru ini bersama dengan Presiden Trump, yang kemudian disusul oleh pertemuan dengan Presiden Putin di Beijing.
”Xi Jinping berusaha menunjukkan bahwa ia memiliki hubungan yang lebih baik dengan anggota kelompok otoriternya daripada Presiden Trump dengan mitra-mitra demokrasinya,” kata mantan wakil menteri luar negeri era Presiden Joseph Biden dan ketua Asia Group, Kurt Campbell, kepada the New York Times.(*/cnni)

