Medan, SeputarSumut — Kemiskinan tidak sekadar perkara rasa lapar atau pakaian serba kekurangan, melainkan juga terkait hilangnya harga diri seseorang. Luka mendalam tersebut akan terus membekas dalam ingatan akibat dipandang sebelah mata hanya karena lahir dari keluarga yang serba kekurangan.
Pernyataan tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan di hadapan ratusan orang tua siswa penerima Program Indonesia Pintar (PIP) tingkat SMA dan SMK di Kampus Satya Terra Bhinneka, Kecamatan Medan Sunggal, Medan, Sabtu (25/7).
Sorot Politik: Sofyan Tan Bagikan Pengalaman Hidup dan Dorong Pendidikan Anak Kurang Mampu
Kisah Masa Lalu dan Perjuangan Bersekolah
Sofyan Tan membuka pidatonya dengan membagikan lembaran masa lalunya yang penuh kepedihan alih-alih memaparkan statistik. Ia menceritakan rasa sakit hati yang dialaminya semasa hidup miskin, termasuk saat dituduh mencuri atau dianggap hendak meminjam uang ketika berkunjung ke rumah kerabat.
Lahir sebagai anak kesepuluh dari 10 bersaudara dalam keluarga kurang mampu membuat mayoritas kakaknya tidak berkesempatan melanjutkan pendidikan. Namun, Sofyan Tan kecil bersikeras ingin tetap bersekolah hingga mengancam akan mogok makan jika tidak diizinkan.
Ia bahkan mengungkapkan fakta yang jarang diketahui publik bahwa orang tuanya sempat berniat menyerahkannya kepada orang lain saat lahir karena faktor ekonomi. Pengalaman pahit itulah yang meyakinkannya bahwa pendidikan merupakan satu-satunya jalan paling realistis untuk memutus rantai kemiskinan.
“Bapak dan ibu boleh miskin harta, tetapi jangan miskin otak. Anak-anak bapak dan ibu harus menjadi orang pintar supaya tidak lagi hidup miskin. Mereka yang akan mengangkat harkat dan martabat keluarga,” katanya.
Pentingnya Kualitas Pembangunan Sumber Daya Manusia
Menurutnya, kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan. Ia mencontohkan Korea Selatan yang merdeka pada tahun sama dengan Indonesia namun mampu melesat jauh karena berhasil membangun sumber daya manusia.
Sekitar 70 persen tenaga kerja di Korea Selatan merupakan lulusan perguruan tinggi dan memiliki jumlah peneliti yang jauh lebih banyak ketimbang Indonesia. Perbandingan ini menjadi cermin bahwa investasi terbesar sebuah negara berada pada pembangunan manusia melalui jalur pendidikan.
Penyaluran Bantuan PIP dan Imbauan Penggunaan Dana
Sofyan Tan memilih mengumpulkan langsung para orang tua siswa saat penyerahan Surat Keputusan beasiswa PIP agar bantuan dapat segera diterima keluarga yang membutuhkan. Ia menegaskan agar dana PIP tidak dipotong pihak mana pun serta dilarang keras digunakan di luar kebutuhan sekolah.
“Dana ini sepenuhnya untuk biaya sekolah anak. Jangan dipakai untuk kebutuhan pribadi. Gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah, seragam, buku, atau kebutuhan pendidikan lainnya,” pesannya.
Sofyan Tan memastikan akan terus memperjuangkan akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu selama masih mengemban amanah sebagai anggota DPR RI. Ia berharap anak-anak penerima bantuan kelak mampu menjadi pemimpin nasional dan mengubah nasib melalui ilmu pengetahuan.(Siong)

