Jakarta, SeputarSumut — Spirit Airlines yang merupakan maskapai penerbangan asal Amerika Serikat secara resmi mengumumkan penghentian seluruh operasionalnya. Keputusan ini diambil setelah perusahaan dinyatakan mengalami kebangkrutan yang berdampak pada penghentian layanan secara total.
Melalui pengumuman di situs resminya, pihak maskapai menyampaikan bahwa seluruh jadwal penerbangan kini telah dibatalkan. Selain pembatalan jadwal terbang, Spirit Airlines juga mengonfirmasi bahwa layanan pelanggan sudah tidak lagi tersedia bagi publik.
Berita Ekonomi: Spirit Airlines Resmi Berhenti Beroperasi Akibat Kebangkrutan dan PHK 17.000 Karyawan
Dikutip dari laporan AP pada Sabtu, 2 Mei 2026, pihak maskapai menyampaikan rasa bangganya terhadap kontribusi model bisnis berbiaya sangat rendah yang mereka jalankan selama 34 tahun terakhir. Dalam pernyataan tersebut, perusahaan semula berharap dapat terus melayani para pelanggan setianya untuk masa-masa yang akan datang.
Mengenai hak-hak penumpang, manajemen perusahaan memastikan bahwa semua pelanggan akan memperoleh pengembalian dana atau refund. Namun, maskapai menegaskan bahwa tidak tersedia opsi untuk melakukan penjadwalan ulang atau penggantian rute ke penerbangan lainnya bagi penumpang yang terdampak.
Langkah penghentian operasi ini terpaksa ditempuh oleh manajemen karena tidak adanya bantuan dana dari pemerintah. Kondisi kebangkrutan ini dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar jet yang sangat tajam sebagai dampak dari peperangan yang melibatkan Iran.
Konsekuensi dari penutupan operasional ini juga menyasar sektor ketenagakerjaan, di mana sekitar 17.000 karyawan akan kehilangan pekerjaan. Seluruh pekerja tersebut dipastikan terkena pemutusan hubungan kerja atau PHK massal sebagai buntut dari berhentinya aktivitas perusahaan.
Jika menilik ke belakang, Spirit Airlines sebenarnya telah mengalami kesulitan finansial sejak masa pandemi COVID-19 akibat beban biaya operasional yang tinggi serta tumpukan utang. Ketika mengajukan perlindungan Bab 11 pada November 2024, perusahaan tercatat telah menderita kerugian melebihi 2,5 miliar dolar AS sejak awal tahun 2020.
Kondisi keuangan maskapai bertarif rendah ini semakin memburuk hingga kembali mengajukan perlindungan kebangkrutan pada Agustus 2025. Pada periode tersebut, Spirit Airlines melaporkan posisi keuangan dengan total aset senilai 8,6 miliar dolar AS, namun dibebani oleh utang yang mencapai 8,1 miliar dolar AS.(*/dtk)

