Medan, SeputarSumut — Provinsi Sumatera Utara membukukan angka inflasi sebesar 0,23 persen secara bulanan pada Juni 2026. Realisasi tersebut tercatat jauh lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang mencapai 0,44 persen, serta berada di bawah proyeksi awal yang diperkirakan menyentuh angka 0,56 persen.
Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin menyampaikan bahwa pencapaian ini tergolong menarik. Pasalnya, kondisi tersebut terjadi di tengah adanya lonjakan harga bahan bakar minyak jenis Pertamax yang sempat memicu aksi demonstrasi di tengah masyarakat.
Berita Ekonomi: Sumut Catat Inflasi 0,23 Persen pada Juni, Kenaikan Harga Pertamax Terbendung Penurunan Harga Tomat
Badan Pusat Statistik Sumatera Utara mencatat lonjakan harga bensin Pertamax tersebut memberikan andil inflasi sebesar 0,14 persen. Efek kenaikan ini dinilai masih kecil karena momentum penyesuaian harga baru terjadi di pertengahan bulan Juni.
“Andilnya akan lebih besar jika kenaikan harga Pertamax dilakukan di awal bulan. Bahkan untuk sektor transportasi di bulan Juni hanya memberikan andil inflasi sebesar 0,23 persen,” kata Gunawan saat memberikan keterangan di Medan pada Jum’at, 03 Juli 2026.
Realisasi pada sektor transportasi tersebut tercatat masih berada di bawah perkiraan awal yang diprediksi akan menyentuh angka 0,31 persen. Oleh sebab itu, dampak dari penyesuaian harga Pertamax pada bulan lalu dinilai masih memiliki potensi untuk menyumbang inflasi pada sektor transportasi di bulan Juli ini.
“Dengan catatan Pemerintah tidak lantas menurunkan harga Pertamax seiring dengan penurunan harga minyak mentah dunia belakangan ini. Harga Pertamax serta harga BBM non subsidi memang berpeluang turun harga pada bulan Juli ini,” jelasnya.
Di sisi lain, kontribusi inflasi dari kenaikan harga Pertamax tersebut ternyata masih berada di bawah andil deflasi yang dipicu oleh merosotnya harga komoditas tomat. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa komoditas tomat menyumbang andil deflasi sebesar 0,17 persen sepanjang bulan Juni.
Gunawan menilai penurunan harga komoditas hortikultura tersebut sukses menjadi penyeimbang utama dari dampak kenaikan harga BBM non subsidi. Berdasarkan catatan yang dimilikinya, harga komoditas tomat mengalami penurunan rata-rata bulanan hingga mencapai 16 persen.
“Pada periode antara Mei hingga Juni, pemantauan saya menemukan bahwa harga tomat itu turun dari kisaran 23 hingga 25 ribu per Kg, ke kisaran harga 16 ribuan per Kg,” paparnya.
Meskipun demikian, harga jual komoditas tomat di pasaran saat ini dinilai masih relatif tinggi karena bertahan pada rentang Rp13.000 hingga Rp16.000 per kilogram. Kondisi ini membuat tomat kembali berpeluang menjadi penyumbang deflasi pada bulan Juli apabila harganya terus bergerak turun.
Namun, Gunawan mengingatkan adanya sejumlah ancaman lonjakan inflasi pada bulan Juli ini yang berasal dari beberapa komoditas pangan hortikultura lainnya. Salah satu komoditas yang dinilai berpotensi kuat memicu inflasi dalam waktu dekat adalah cabai.
Langkah antisipasi saat ini sudah mulai berjalan dengan mendatangkan pasokan cabai kotak dari luar wilayah Sumatera Utara, sehingga pergerakan harganya sejauh ini masih relatif terkendali. Di samping itu, potensi melimpahnya pasokan dari wilayah Batubara juga diharapkan mampu menyokong ketersediaan barang.
“Namun belum bisa dipastikan apakah akan mampu menjaga harga cabai stabil, mengingat wilayah lain di luar Sumut justru berpeluang mengalami penurunan pasokan cabai,” tuturnya.
Faktor eksternal lain seperti kembali dibukanya Selat Hormuz diperkirakan membuka peluang bagi penurunan harga minyak mentah dunia. Kondisi global tersebut diproyeksikan dapat ikut mendorong penurunan harga jual untuk bahan bakar minyak non subsidi domestik.
“Meskipun perang di teluk belum sepenuhnya berakhir. Namun potensi Sumut merealisasikan inflasi kecil atau bahkan deflasi cukup berpeluang pada bulan Juli ini,” pungkasnya.(Siong)


