Bener Meriah – Upaya pencarian masih terus dilakukan oleh personel TNI, Polri, serta Basarnas terhadap sedikitnya 14 warga Kabupaten Bener Meriah yang hingga kini belum ditemukan setelah bencana banjir melanda satu bulan silam.
Ilham Abdi, selaku Kepala Pusat Data dan Informasi Posko Penanganan Bencana Hidrometeorologi Kabupaten Bener Meriah, mengungkapkan bahwa belasan korban hilang tersebut berasal dari empat wilayah kecamatan yang berbeda.
Kabar Daerah: 14 Warga Bener Meriah Hilang Pascabencana Banjir
Berdasarkan data rincian, Kecamatan Pintu Rime Gayo mencatat jumlah korban hilang terbanyak yaitu tujuh orang. Mereka adalah Ismail (30) dan Irham (30) asal Desa Blang Ara, serta lima warga Desa Rime Raya yakni Robi Yusuf (36), Alesya Zahira (4), Aliya Humaira (9), Rukinem (56), dan Ribut (80).
Situasi serupa terjadi di Kecamatan Gajah Putih di mana dua orang dilaporkan hilang di Desa Simpang Rahmat, yaitu Rabumahati (40) dan Eramli (50). Sementara itu, di Kecamatan Wih Pesam terdapat tiga korban hilang, masing-masing adalah Ruhdini (33) dari Desa Bener Mulie, Muhammad Jhon (40) dari Desa Cinta Damai, serta Jihan Fadiyah (5) dari Desa Kebun Baru.
Daftar pencarian juga mencakup dua warga dari Kecamatan Bandar yang belum ditemukan hingga saat ini. Korban tersebut teridentifikasi sebagai Muhammad Fery (17) dari Desa Bahgie Bertona dan Juliadi Syahputra (30) yang berasal dari Desa Tensaran Bidin.
”Hingga detik ini, ke-14 korban tersebut statusnya masih belum ditemukan. Personel di lapangan kini membagi fokus antara proses pencarian intensif dan penanganan dampak pascabencana banjir,” ujar Ilham saat memberikan konfirmasi kepada AJNN pada Sabtu, 27 Desember 2025.
Tragedi yang terjadi pada 26 November 2025 lalu ini juga telah merenggut nyawa 31 orang lainnya. Korban meninggal tersebar di Kecamatan Permata (18 orang), Pintu Rime Gayo (8 orang), Wih Pesam (2 orang), Timang Gajah (2 orang), dan Kecamatan Bukit (1 orang).
Kerugian materiel juga sangat signifikan, di mana Ilham menyebutkan bahwa terjangan banjir telah merusak sekitar 336,3 hektar perkebunan kopi milik warga. Kerusakan lahan kopi ini meliputi Kecamatan Bukit seluas 198,1 hektar, Wih Pesam 72,2 hektar, Pintu Rime Gayo 24,5 hektar, Gajah Putih 8,469 hektar, dan Timang Gajah 0,125 hektar.
Selain wilayah tersebut, kerusakan kebun kopi juga meluas ke Kecamatan Syiah Utama sebesar 248,7 hektar, Mesidah 59,1 hektar, Bener Kelipah 1,7 hektar, serta Kecamatan Bandar seluas 1,5 hektar.
”Sektor pertanian lainnya juga terdampak serius, dengan kerusakan sawah di Syiah Utama seluas 64,7 hektar dan Bandar 0,5 hektar, serta perkebunan umum seluas 214,2 hektar di Syiah Utama. Fasilitas kolam di Bukit dan Wih Pesam juga ikut mengalami kerusakan,” tambahnya.
Seluruh rincian data ini masih bersifat sementara berdasarkan rangkuman per tanggal 26 Desember 2025. Ilham mengingatkan bahwa angka-angka tersebut berpotensi mengalami kenaikan karena masih ada beberapa titik di Bener Meriah yang aksesnya terputus atau terisolasi.(*/ajnn)


