Taput, SeputarSumut — Bencana alam berupa banjir dan tanah longsor melanda wilayah Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), pada Rabu, 22 April 2026. Peristiwa ini mengakibatkan dampak kerusakan yang cukup parah, di mana tercatat tiga unit rumah warga hanyut terseret arus air yang sangat kuat, sementara tujuh bangunan rumah lainnya dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat yang beragam.
Humas Polres Tapanuli Utara, W Barimbing, memberikan konfirmasi bahwa meskipun dampak kerusakan materiil cukup luas, tidak ada laporan mengenai jatuhnya korban jiwa dalam musibah tersebut. Namun, situasi di lapangan menunjukkan bahwa hingga saat ini masih terdapat 40 unit rumah warga yang terendam oleh genangan air banjir.
Kabar Daerah: Banjir dan Longsor Terjang Simangumban Tapanuli Utara Tiga Rumah Hanyut dan Akses Jalan Terputus
Selain bencana air, tanah longsor juga melanda kawasan Desa Aek Nabara yang berdampak langsung pada aksesibilitas wilayah. Material longsor menutupi badan jalan di Dusun Aek Rau, Desa Simangumban Julu, Kecamatan Simangumban, sehingga mengakibatkan arus transportasi kendaraan terhenti total. W Barimbing menegaskan kembali pada Kamis, 23 April 2026, bahwa dari rangkaian dua bencana alam tersebut, seluruh warga dinyatakan selamat.
Pemicu utama terjadinya banjir dan longsor di Simangumban ini adalah curah hujan dengan intensitas tinggi yang terus mengguyur wilayah Tapanuli Utara selama beberapa hari terakhir. Akibat kondisi rumah yang masih terendam dan rusak, para warga yang terdampak saat ini telah dievakuasi dan masih menetap di lokasi pengungsian sementara.
Langkah penanganan darurat tengah dilakukan secara kolaboratif oleh petugas kepolisian bersama personel TNI dan jajaran Pemerintah Kabupaten Taput melalui aksi pembersihan material di jalur yang tertutup. Upaya normalisasi jalan ini dilakukan agar arus lalu lintas dapat segera pulih. Pihak kepolisian memperkirakan bahwa jalur yang menghubungkan Tapanuli Utara menuju Tapanuli Selatan baru dapat dilintasi kendaraan sekitar tiga jam ke depan setelah pengerjaan selesai.
Berdasarkan data dari pihak berwenang, berikut adalah rincian identitas warga yang mengalami kerusakan tempat tinggal akibat bencana banjir tersebut:
1. Wenni boru Sinaga (35), petani, warga Desa Aek Nabara. Kondisi: Rumah hanyut terbawa arus sungai.
2. Lamsihar Sihombing (50), petani, warga Desa Aek Nabara. Kondisi: Rumah hanyut terbawa arus sungai.
3. Masni Siregar (50), petani, warga Desa Aek Nabara. Kondisi: Rumah hanyut terbawa arus sungai.
4. Pardomuan Gultom (56), petani, warga Desa Aek Nabara. Kondisi: Bagian dapur rumah terbawa arus sungai.
5. Abdul Siagian, petani, warga Desa Aek Nabara. Kondisi: Teras rumah mengalami rusak ringan.
6. Sipopot Siagian (40), petani, warga Desa Aek Nabara. Kondisi: Teras rumah mengalami rusak ringan.
7. Si Alan Siagian (45), petani, warga Desa Aek Nabara. Kondisi: Teras rumah mengalami rusak ringan.
8. Sahlim Simamora (40), petani, warga Dusun Huta Jae, Desa Aek Nabara. Kondisi: Rumah mengalami rusak berat.
9. Renni Sihombing (70), petani, warga Dusun Huta Jae, Desa Aek Nabara. Kondisi: Rumah mengalami rusak berat.
10. Donna br Hutauruk (52), bidan, warga Desa Aek Nabara. Kondisi: Rumah mengalami rusak berat.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah Tapanuli Utara. Pihak BPBD dan instansi terkait terus memantau perkembangan di lokasi untuk memastikan pemenuhan kebutuhan logistik para pengungsi berjalan dengan lancar.(*/mst)


