Jakarta, SeputarSumut — Tarian tradisional Tionghoa yang dikenal dengan sebutan Barongsai senantiasa menjadi pemandangan wajib saat perayaan Tahun Baru Imlek tiba. Pertunjukan ikonik ini sangat kental dengan penggunaan kostum menyerupai singa yang ditarikan selaras dengan iringan musik tabuhan nan dinamis.
Dikutip dari laman Indonesia Kaya, satu kostum singa Barongsai tersebut dimainkan oleh dua orang penari secara bersamaan. Gerakan yang ditampilkan merupakan perpaduan harmonis antara unsur seni tari, bela diri, hingga aksi akrobatik yang memancarkan energi luar biasa.
Kilas Hiburan: Barongsai Hadir dalam Perayaan Tahun Baru Imlek
Dua kategori utama yang membedakan jenis kesenian ini adalah singa utara dan singa selatan. Perbedaan mencolok terlihat pada singa utara yang memiliki ciri khas bulu sangat tebal, sementara singa selatan cenderung tampil dengan gerakan yang lebih ekspresif serta lincah.
Atraksi memakan sayuran dan angpao menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam setiap pementasan Barongsai. Tradisi simbolis ini mengandung makna mendalam sebagai bentuk permohonan doa demi mendapatkan keberuntungan, limpahan rezeki, serta keselamatan.
Asal-usul Barongsai secara global diyakini telah bermula di Tiongkok sejak ribuan tahun silam. Tarian ini lahir dari sebuah legenda mengenai makhluk buas yang konon hanya dapat diusir menggunakan warna-warna mencolok dan suara-suara yang sangat keras.
Fungsi Barongsai pun berkembang menjadi bagian penting dari ritual keagamaan pada masa Dinasti Han hingga Dinasti Tang. Masyarakat kala itu meyakini bahwa pementasan ini memiliki kekuatan untuk mengusir roh-roh jahat sekaligus membawa suasana damai bagi lingkungan sekitar.
Penyebaran tradisi ini ke berbagai penjuru Asia terjadi seiring dengan gelombang migrasi masyarakat Tionghoa ke berbagai negara. Kini, Barongsai tumbuh subur di wilayah seperti Malaysia, Vietnam, Singapura, hingga Indonesia dengan keunikan lokalnya masing-masing.
Masyarakat Tionghoa membawa masuk pengaruh Barongsai ke Nusantara sekitar abad ke-17. Nama “Barongsai” itu sendiri merupakan hasil akulturasi unik antara kata ‘barong’ dari bahasa Jawa dan ‘sai’ dari bahasa Hokkian, yang secara harafiah keduanya bermakna singa.
Jika dahulu Barongsai sangat terbatas pada upacara keagamaan di kelenteng, kini penggunaannya telah meluas ke berbagai sektor. Pertunjukan ini sekarang rutin dipentaskan sebagai sarana hiburan di tempat publik bahkan telah diakui dalam kompetisi cabang olahraga resmi.
Keberadaan budaya Tionghoa ini memang sempat terhambat akibat larangan yang berlaku pada masa Orde Baru. Namun, Barongsai kembali menemukan geliatnya di era Reformasi dan kini tumbuh pesat di berbagai komunitas yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.
Nilai Barongsai saat ini telah bertransformasi bukan sekadar hiburan mata, melainkan menjadi simbol kebudayaan yang dipelajari lintas generasi dan etnis. Eksistensi kesenian ini turut andil dalam memperkokoh semangat toleransi serta kebersamaan antarbudaya di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.(*/rri)


