Banda, Aceh, SeputarSumut – Sembilan titik panas (hotspot) terpantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di berbagai wilayah Provinsi Aceh pada Selasa, 13 Januari 2026. Keberadaan titik-titik panas ini diidentifikasi memiliki potensi kuat sebagai pemicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah tersebut.
Nofrida Handayani Sodik, selaku Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, mengungkapkan bahwa sensor MODIS pada Satelit Terra, Aqua, Suomi NPP, dan NOAA-20/VIIRS telah mendeteksi sebaran hotspot ini. Berdasarkan hasil pantauan satelit, tingkat kepercayaan terhadap data titik panas tersebut berada pada kategori sedang.
Kabar Daerah: BMKG Pantau Sembilan Titik Panas di Aceh
“Sebaran hotspot terpantau di Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Bener Meriah, Kota Lhokseumawe, dan Pidie. Kondisi ini perlu diwaspadai karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan,” ujar Nofrida terkait situasi terkini di lapangan.
Aceh Jaya tercatat sebagai wilayah dengan konsentrasi hotspot paling tinggi menurut data BMKG, yakni ditemukan sebanyak tiga titik. Lokasi spesifiknya berada di Kecamatan Setia Bakti dengan dua titik panas serta satu titik lainnya terdeteksi di wilayah Kecamatan Pasie Raya.
Distribusi titik panas lainnya ditemukan di Kota Lhokseumawe sebanyak dua titik yang berlokasi di Kecamatan Muara Satu. Sementara itu, wilayah Kecamatan Pasi Raja (Aceh Selatan), Syiah Utama (Bener Meriah), Danau Paris (Aceh Singkil), dan Padang Tiji (Pidie) masing-masing mencatatkan satu titik panas dalam pantauan terbaru.
Tidak hanya mengamati hotspot, BMKG Aceh pun merilis peringatan dini terkait kondisi cuaca untuk rentang waktu 13 hingga 15 Januari 2026. Pertumbuhan awan hujan diprediksi meningkat akibat adanya faktor konvergensi, belokan angin, serta suhu muka laut yang hangat di kawasan Pesisir Barat Aceh.
“Wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang pada 13 Januari meliputi Aceh Tenggara dan Gayo Lues. Sementara untuk dua hari ke depan, potensi hujan diperkirakan nihil,” kata Nofrida menjelaskan prakiraan cuaca kedepan.
Masyarakat diharapkan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi seperti angin kencang, tanah longsor, hingga banjir. Imbauan ini terutama ditujukan bagi warga yang bermukim di daerah aliran sungai maupun kawasan pegunungan guna mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.(*/ajnn)


