Iklan PT Indako Trading Coy
Senin, Juni 22, 2026
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
Iklan Honda PT Indako Trading Coy Desktop
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
No Result
View All Result
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
CURRENCY LIVE
USD/IDR
Memuat...
SGD/IDR
Memuat...
MYR/IDR
Memuat...
SAR/IDR
Memuat...
EUR/IDR
Memuat...
GBP/IDR
Memuat...
JPY/IDR
Memuat...
AED/IDR
Memuat...
AUD/IDR
Memuat...
BND/IDR
Memuat...
CAD/IDR
Memuat...
CHF/IDR
Memuat...
CNH/IDR
Memuat...
CNY/IDR
Memuat...
DKK/IDR
Memuat...
HKD/IDR
Memuat...
KRW/IDR
Memuat...
KWD/IDR
Memuat...
LAK/IDR
Memuat...
NOK/IDR
Memuat...
NZD/IDR
Memuat...
PGK/IDR
Memuat...
PHP/IDR
Memuat...
SEK/IDR
Memuat...
THB/IDR
Memuat...
VND/IDR
Memuat...
SS
SeputarSumut
Advertisement
Beranda Politik

BRIN Bersama Sofyan Tan Gelar Bimtek Pemanfaatan Limbah Plastik di Medan untuk Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Oleh Redaksi 15
Senin, 22 Juni 2026
Foto: Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Dr. Sofyan Tan berpose bersama Perekayasa Ahli Muda BRIN, Riana Yenni Hartana Sinaga dalam kegiatan Bimtek bertema Pemanfaatan Limbah dan Sampah Plastik pada Senin, 22 Juni 2026.(SeputarSumut/Siong)

Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Dr. Sofyan Tan berpose bersama Perekayasa Ahli Muda BRIN, Riana Yenni Hartana Sinaga dalam kegiatan Bimtek bertema Pemanfaatan Limbah dan Sampah Plastik pada Senin, 22 Juni 2026.(SeputarSumut/Siong)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Medan, SeputarSumut — Upaya mengedukasi masyarakat dalam menekan penumpukan sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari limbah domestik terus digalakkan di Kota Medan. Langkah ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis (Bimtek) bertema Pemanfaatan Limbah dan Sampah Plastik pada Senin, 22 Juni 2026, oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang bersinergi dengan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Dr. Sofyan Tan. Kegiatan edukasi yang dilangsungkan di Four Points Hotel Medan, Jalan Gatot Subroto Medan tersebut dibuka secara resmi langsung oleh Dr. Sofyan Tan.

Saat menyampaikan kata sambutan, Sofyan Tan memberikan penegasan bahwa sisa buangan plastik sebenarnya merupakan material produktif yang mempunyai peluang melahirkan perputaran roda ekonomi bernilai tinggi apabila dikelola menggunakan inovasi dan kreativitas yang tepat.

Sorot Politik: BRIN Bersama Sofyan Tan Gelar Bimtek Pemanfaatan Limbah Plastik di Medan untuk Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Iklan Indako SeputarSumut

“Limbah, atau yang sering kita sebut sebagai sampah, sebenarnya bukan berarti tidak bisa dimanfaatkan lagi. Kalau ada istilah sampah masyarakat, itu berarti orang tersebut sudah tidak bisa diharapkan lagi. Namun, sampah yang saya maksud di sini adalah material yang jika kita olah kembali dengan tepat, akan memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi,” ujarnya.

Secara mendalam ia menguraikan bahwa zat sisa terbagi ke dalam kelompok organik seperti sisa makanan atau dedaunan yang gampang hancur secara alami menjadi pupuk, serta kelompok anorganik layaknya plastik dan baterai bekas yang sangat berisiko merusak ekosistem alam.

“Jenis yang kedua adalah sampah anorganik. Salah satu contoh terbesarnya adalah plastik, termasuk juga baterai-baterai bekas. Ini adalah jenis sampah anorganik yang berbahaya. Bayangkan, jika plastik ini dibiarkan begitu saja di alam, ia akan bertahan hingga seratus tahun ke depan. Namun, jika kita membakarnya secara sembarangan, proses tersebut justru akan menimbulkan polusi udara dan keracunan zat berbahaya bagi pernapasan kita,” jelasnya.

Berita Terkait

Jawab PU Fraksi-Fraksi DPRD, Rico Waas: Pemko Medan Anggarkan 1.000 Titik LPJU Baru

Pabrik Mainan di Medan Johor Terbakar, Jusup Ginting: Perusahaan Harus Beri Kompensasi Bagi Warga Terdampak

Dampak buruk dari perilaku membuang sampah sembarangan dipaparkan oleh Sofyan Tan telah mengakibatkan wilayah perairan di Indonesia terkontaminasi oleh partikel mikroplastik. Berdasarkan hasil riset terbaru, materi kasat mata ini bisa menjadi pemicu timbulnya penyakit kanker hingga mendatangkan risiko kemandulan bagi manusia.

“Jadi, plastik memang sebuah limbah. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana mengolah limbah tersebut agar lingkungan kita tetap bersih, sekaligus mampu memberikan nilai ekonomi yang tinggi. Banyak sekali peluang manfaat yang bisa kita temukan dari sana,” tuturnya.

Kisah Misi Kemanusiaan di Aceh dan Hambatan Produktivitas

Anggota DPR RI tersebut kemudian mengisahkan perjalanan pribadinya tatkala menjalankan misi kemanusiaan pasca-bencana tsunami Aceh pada tahun 2004 silam. Pada masa itu, dirinya harus berkoordinasi secara intensif dengan tim medis internasional dari negara Swiss, Austria, Belanda, Italia, serta perwakilan Roma dan Vatikan demi menangani hampir 14.000 pasien yang mengalami cedera.

“Di samping misi kemanusiaan tersebut, saya juga melihat ada begitu banyak pendatang dan relawan dari negara-negara barat yang berdatangan ke Aceh. Setelah masa tanggap darurat tsunami berlalu, muncullah masalah baru di mana banyak sekali botol-botol plastik bekas air minum berserakan dan dibuang begitu saja. Di mata saya, tumpukan sampah itu justru tampak sebagai sebuah peluang bisnis yang besar,” paparnya.

Peluang bisnis tersebut mendorong Sofyan Tan untuk menggalang kolaborasi bersama sebuah perusahaan asal Prancis bernama Danone melalui Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) miliknya, yang pada saat itu sebenarnya berfokus pada program perlindungan satwa orang utan. Rencana pemrosesan limbah plastik yang dirintisnya bersama warga lokal di Aceh semula memperlihatkan perkembangan lancar, akan tetapi pada akhirnya menemui kegagalan akibat terkendala oleh masalah produktivitas tenaga kerja setempat.

“Apakah Bapak dan Ibu tahu mengapa program itu gagal? Jujur, saya juga merasa cukup lelah saat itu. Saya sudah berusaha keras meyakinkan masyarakat, namun ternyata bisnis pengolahan sampah ini menuntut produktivitas yang sangat tinggi. Tidak ada kata libur dan tidak ada kata berhenti dalam perputarannya,” akunya.

Kendala sosial yang berkembang di tengah kultur masyarakat Aceh kala itu ikut diceritakannya, seperti adanya pelaksanaan kegiatan arisan maupun wirid yang menyebabkan para buruh memilih untuk tidak masuk kerja sejak pagi hari, sehingga stabilitas operasional industri pengolahan menjadi terganggu.

“Usaha pengelolaan limbah ini memang membutuhkan ketekunan yang luar biasa, mulai dari proses mengumpulkan, memilah jenis plastik, hingga menjemur materi agar benar-benar kering sebelum digiling. Segala prosedur itu harus dipenuhi agar bisnis bisa mencapai titik impas. Padahal, jika kita melihat nilai ekonominya saat ini, harga limbah plastik yang sudah dipilah dan siap olah bisa mencapai sekitar dua belas ribu rupiah per kilogram. Itulah sedikit pengalaman saya dalam mengurus limbah plastik di masa lalu,” terangnya.

Kreasi Unik Daur Ulang dan Pemberdayaan Kelompok Disabilitas

Kendati pernah menghadapi kegagalan, Sofyan Tan menyampaikan apresiasi tinggi kepada salah seorang relawan di dalam timnya yang saat ini telah sukses menerapkan sistem pemrosesan limbah, yang berjalan selaras dengan peningkatan kesadaran publik untuk menyulap sampah plastik menjadi beraneka macam produk bernilai ekonomi.

“Salah satu contoh menarik yang pernah saya lihat di kanal Youtube adalah inovasi pembuatan batako warna-warni dari sampah plastik. Pengrajinnya mencampur bahan plastik putih dengan potongan tutup botol air mineral yang berwarna biru, lalu dikombinasikan lagi dengan botol soda berwarna merah. Hasilnya, terciptalah produk batako hias warna-warni yang memiliki nilai guna dan nilai jual yang sangat baik di pasar,” tuturnya.

Kombinasi kreativitas individu dinilainya sanggup memproses materi sisa menjadi karya patung yang indah ataupun bermacam produk kerajinan unik bernilai tinggi seperti yang banyak dikembangkan di wilayah Yogyakarta, bahkan hasil daur ulang tersebut sukses dipasarkan dengan harga mahal lantaran dibekali sertifikat keaslian.

“Saya pribadi termasuk orang yang sangat menghargai karya daur ulang. Jika saya membeli suvenir atau cinderamata dan penjualnya menjelaskan bahwa barang tersebut terbuat dari bahan daur ulang, saya pasti akan membelinya. Walaupun harganya relatif lebih mahal, bagi saya hal itu tidak menjadi masalah. Itu adalah bentuk apresiasi saya terhadap kreativitas yang memberikan manfaat peningkatan ekonomi sekaligus berkontribusi dalam penyelamatan lingkungan hidup. Hal ini menurut saya sangat menarik,” jelasnya.

Di samping itu, politisi dari Fraksi PDI Perjuangan ini turut membeberkan cita-cita besarnya untuk mengintegrasikan program pengelolaan sampah plastik dengan agenda pemberdayaan ekonomi bagi para penyandang disabilitas.

“Saya mengombinasikan program pertanian hidroponik ini dengan mendirikan Sekolah Luar Biasa di lokasi tersebut. Kami mengumpulkan anak-anak berkebutuhan khusus untuk belajar menanam dan membuat wadah tanaman yang memanfaatkan limbah sampah plastik. Dengan cara ini, tidak ada satu pun material yang terbuang sia-sia. Program ini tidak hanya menghasilkan makanan yang sehat bagi konsumen, tetapi juga memberikan manfaat kelestarian alam sekaligus mengangkat martabat dan harga diri para penyandang disabilitas. Beberapa tujuan mulia akan tercapai sekaligus, termasuk membantu menurunkan angka kemiskinan dengan memanfaatkan limbah plastik,” pungkasnya.

Sesi Bimbingan Teknis kali ini juga disambut dengan gembira oleh Sofyan Tan atas kehadiran Perekayasa Ahli Muda BRIN, Riana Yenni Hartana Sinaga, selaku narasumber utama, dengan harapan materi edukasi yang disampaikan mampu memicu kemandirian ekonomi bagi keluarga peserta.

“Kita tidak boleh selamanya hidup dengan hanya berharap pada bantuan-bantuan gratis dari pemerintah. Jika kita sebagai warga negara hanya diam, pasif, serta tidak inovatif dan kreatif, kita hanya akan mewariskan lingkungan penuh polusi yang tidak sehat kepada generasi keturunan kita kelak. Kita juga akan terjebak dalam lingkaran kemiskinan tanpa memiliki harapan untuk hidup dengan lebih sejahtera,” tegasnya.

Data Lonjakan Volume Sampah Nasional dan Tantangan Kota Medan

Pada kesempatan yang sama, Perekayasa Ahli Muda BRIN, Riana Yenni Hartana Sinaga, menyampaikan bahwa pelaksanaan agenda edukasi di Kota Medan tersebut merupakan bagian dari realisasi penugasan resmi BRIN selaku mitra kerja Komisi X DPR RI yang membidangi sektor pendidikan, riset, dan teknologi.

“Untuk mempersingkat waktu, seperti yang tadi sudah diperkenalkan oleh Mbak MC, nama saya Riana Boru Sinaga. Saya tinggal di Tangerang dan saat ini aktif bekerja sebagai peneliti di BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional),” kata Riana saat memulai penjelasannya.

Riana yang meniti awal karier di BPPT sejak tahun 2006 sebelum instansi tersebut dilebur ke dalam BRIN pada 2022 silam, langsung melemparkan pertanyaan interaktif kepada hampir 100 orang peserta yang hadir terkait kebiasaan membawa kantong belanja ramah lingkungan.

“Ketika Bapak atau Ibu pergi belanja ke warung atau ke pasar tradisional, adakah di antara kita yang selalu membawa tas belanja sendiri dari rumah? Ingat ya, membawa tas belanja kain atau keranjang belanja sendiri, bukan meminta kantong plastik dari pedagang,” tanyanya kepada hadirin.

Melihat respons dari kurang dari separuh jumlah peserta yang mengangkat tangan, Riana menarik kesimpulan bahwa sebagian besar masyarakat di Kota Medan masih menjadi pengguna aktif produk plastik sekali pakai yang berimbas pada kritisnya volume penumpukan sampah nasional.

Mengacu pada grafik data komparasi yang dipaparkan oleh pihak BRIN, jumlah akumulasi timbulan sampah nasional mengalami lonjakan besar dari angka rata-rata 67 juta ton per tahun pada rentang waktu 2019-2021 menjadi rata-rata sebesar 70,6 hingga 71 juta ton per tahun pada periode tahun 2024-2026.

Angka persentase sisa plastik dalam skala nasional terpantau ikut membengkak dari porsi semula yang hanya 14 persen menjadi 20 persen dari total keseluruhan jenis sampah, meskipun posisi negara Indonesia dalam urutan pencemaran materi plastik di wilayah perairan laut global mencatatkan perbaikan dari posisi kedua ke peringkat kelima dunia.

Secara lebih mendalam Riana memaparkan data bahwa wilayah Kota Medan menghasilkan sekitar 2.000 ton sampah pada setiap harinya, di mana kisaran 15 persen hingga 20 persen di antaranya merupakan variasi plastik yang tidak terkelola, sementara kondisi daya tampung di TPA Terjun saat ini telah mengalami kelebihan muatan atau overload.

Dampak dari situasi tersebut mengakibatkan hanya sekitar 60 persen dari volume sampah harian penduduk Medan yang dapat diangkut menuju ke TPA Terjun, sedangkan sisa sebanyak 40 persen lainnya tercecer di area lingkungan, menyumbat saluran-saluran air, serta mendatangkan ancaman kondisi darurat bagi lingkungan sekitar.

Karakteristik Komposisi Sampah Daerah dan Ancaman Bahaya Zat Kimia

Berdasarkan rujukan dari data resmi milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, struktur komposisi sampah di wilayah Provinsi Sumatera Utara secara umum didominasi oleh jenis sisa makanan dengan porsi mencapai 33,6 persen, di mana rekor angka tertinggi didapati di Kota Tanjungbalai yang menyentuh level 64,02 persen.

Peringkat kedua diisi oleh kategori sampah plastik dengan tingkat konsentrasi persentase paling tinggi berada di Kabupaten Pakpak Bharat, disusul oleh jenis sampah kayu yang mendominasi di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan, serta dominasi limbah rumah tangga di area Kabupaten Simalungun.

Riana memberikan penjelasan bahwa kinerja penanganan sampah di Kota Medan sejatinya masuk dalam kategori tinggi yang didorong oleh tumbuhnya kelompok swadaya masyarakat serta kehadiran bank sampah, namun hambatan utama masih terletak pada keterbatasan sarana infrastruktur di daerah satelit serta konsistensi pemilahan yang dimulai dari lingkup rumah tangga.

Pengalaman pribadinya saat bermukim di kawasan Tangerang Selatan ketika TPA Cipeucang mengalami kelebihan kapasitas turut ia bagikan, di mana aroma busuk dari tumpukan sampah tercium hingga radius jarak perjalanan 30 menit dari titik lokasi dan memicu tindakan buruk warga yang membuang sampah di tepian jalan umum.

Dirinya memberikan ilustrasi mengenai tingginya timbulan materi plastik dalam satu kali kegiatan pemesanan konsumsi rumah tangga, seperti ketika melakukan pembelian makanan capcay secara daring yang memanfaatkan plastik pembungkus bening, wadah stirofoam, karet pengikat, hingga kantong kresek berukuran besar. Kondisi buruk tersebut kian diperparah oleh adanya potensi kontaminasi dari zat kimia beracun asal wadah plastik panas yang ikut masuk ke dalam organ tubuh manusia, serta polusi mikroplastik di area perairan yang masuk ke dalam sistem rantai makanan lewat ikan yang dikonsumsi oleh warga masyarakat.

Pengenalan Kode Segitiga Daur Ulang dan Implementasi Prinsip 3R

Riana juga melayangkan peringatan mengenai dampak fatal yang bersumber dari kebiasaan membakar materi sampah plastik di pekarangan rumah, lantaran proses pembakaran yang tidak berlangsung sempurna bakal melepaskan kepulan asap hitam beracun ke dalam saluran pernapasan, dan sisa lelehannya akan menutup pori-pori tanah sehingga merusak kualitas air tanah.

Sebagai bagian dari sesi edukasi teknis, peneliti dari BRIN tersebut mengupas arti dari lambang segitiga daur ulang yang mencantumkan kode nomor khusus dari angka satu hingga tujuh pada setiap kemasan produk plastik, agar masyarakat dapat secara bijak mengidentifikasi jenis plastik yang aman maupun yang berbahaya.

Tipe satu (PET) digunakan untuk botol air minum kemasan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi untuk didaur ulang, tipe dua (HDPE) diaplikasikan pada kemasan botol susu putih atau galon air yang berkategori aman untuk pangan, serta tipe tiga (PVC) pada produk pipa paralon yang berstruktur keras dan menyimpan bahaya jika dibakar.

Selanjutnya, tipe empat (LDPE) merupakan material penyusun kantong kresek tipis yang tergolong sulit diproses daur ulang secara massal, tipe lima (PP) dimanfaatkan untuk pembuatan kotak bekal atau sedotan lantaran sifatnya yang tahan terhadap panas, sedangkan tipe Include enam (PS) merupakan stirofoam yang pada saat ini dilarang karena merusak ekosistem lingkungan laut.

Sementara untuk tipe tujuh (Other) merupakan jenis plastik campuran polikarbonat yang perlu diwaspadai karena memiliki potensi mengandung komponen zat kimia BPA berbahaya, sehingga warga masyarakat sangat disarankan untuk beralih menggunakan wadah yang bebas kandungan BPA atau yang berbahan stainless steel. Saat mengakhiri sesi pemaparan materinya, sang peneliti dari BRIN melayangkan ajakan kepada segenap peserta Bimtek untuk mengaplikasikan secara konsisten prinsip 3R, yaitu tindakan mengurangi sampah (Reduce), menggunakan kembali wadah yang layak pakai (Reuse), serta melakukan proses daur ulang (Recycle).(Siong)

Tags: Sofyan Tan
Konten berbayar dibawah ini adalah iklan platform MGID, SeputarSumut.com tidak terkait dengan pembuatan konten ini

BeritaTerbaru

  • Pelatihan Literasi Keuangan Bank DBS dan UISU di Medan
  • KAI Sumut Siagakan 194 Masinis Demi Keselamatan Perjalanan Masa Libur Sekolah 2026
  • Presiden Prabowo Panggil Sejumlah Menteri ke Istana Terkait Pemadaman Bergilir di Jawa dan Kerja Sama Pendidikan dengan Imperial College London
  • Jawab PU Fraksi-Fraksi DPRD, Rico Waas: Pemko Medan Anggarkan 1.000 Titik LPJU Baru
  • Jumlah Korban Tewas Tabrakan Bus Darma Putra dan Truk di Tol Lima Puluh-Indrapura Bertambah Jadi 7 Orang
Seputar Sumut

Portal berita terkini Medan & Sumatra Utara. Info ekonomi, politik, daerah, nasional, internasional, hingga hiburan terpercaya di SeputarSumut.com.

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan

@ 2020 SeputarSumut.com