Jakarta, SeputarSumut — Proses mencuci beras sebelum dimasak kerap dianggap makin sehat jika dilakukan berulang kali hingga airnya bening, namun anggapan tersebut justru tidak sepenuhnya tepat. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa pembilasan yang terlalu sering berisiko membuang kandungan zat gizi esensial yang terdapat pada butiran beras.
Langkah membersihkan beras pada dasarnya bertujuan untuk meluruhkan sisa pati di permukaan, kotoran ringan, serta debu agar nasi matang nantinya tidak terlampau lengket. Kegiatan pembilasan ini sebenarnya memadai jika diterapkan sebanyak 1 sampai 2 kali saja tanpa harus menunggu air rendaman berubah menjadi jernih total.
Pernik Ragam: Cara Efektif Cuci Beras yang Benar Menurut Riset FDA
Penerapan metode pembersihan tersebut memang efektif meminimalkan residu di permukaan luar beras, tetapi proses ini memicu dampak lain yang merugikan. Zat gizi serta mineral penting berupa fosfor, kalium, dan magnesium berpotensi ikut hanyut bersama air bilasan, sehingga semakin intensif beras dibersihkan, maka kandungan nutrisinya kian merosot.
Munculnya cairan yang keruh sewaktu proses pencucian berlangsung mayoritas disebabkan oleh keberadaan pati alami dalam komoditas tersebut. Nasi berisiko mengalami penurunan nilai gizi sekaligus kehilangan tekstur khasnya apabila seluruh lapisan pati pada permukaan terus-menerus dikikis habis.
Berdasarkan data riset Food Science yang dikutip dari National Center for Biotechnology Information, tindakan membersihkan beras dengan frekuensi yang berlebihan terbukti tidak selalu mendatangkan efek baik bagi kualitas bahan pangan tersebut.
Fenomena lain yang memicu masyarakat melakukan pencucian secara berlebih adalah kekhawatiran terhadap kadar arsenik, walaupun zat ini umumnya berada dalam takaran yang masih dapat ditoleransi tubuh untuk konsumsi harian. Upaya membilas beras berkali-kali nyatanya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan zat kimia berbahaya tersebut.
Mengenai persoalan ini, Food and Drug Administration (FDA) memberikan catatan bahwa “membilas beras sebelum dimasak hanya memberi efek minimal terhadap kadar arsenik pada nasi matang.”
Langkah yang dinilai jauh lebih ampuh demi mereduksi konsentrasi arsenik yaitu menerapkan teknik memasak menggunakan volume air yang berlebih, kemudian sisa air rebusannya segera dibuang. Strategi memasak dengan pola ini diklaim mampu memangkas kadar arsenik di dalam beras berkisar antara 40 hingga 60 persen.
Akan tetapi, teknik memasak dengan air melimpah ini memicu konsekuensi yang cukup besar terhadap integritas nutrisi pangan tersebut. Zat besi, tiamin, niasin, serta folat yang merupakan deretan nutrisi krusial di dalam beras berpeluang ikut berkurang drastis dengan estimasi penyusutan mencapai 50 sampai 70 persen.(*/cnni)


