Medan, SeputarSumut – Pelaku pasar keuangan di Asia tengah menantikan rilis data indeks manufaktur PMI (purchasing manufacturing index) Tiongkok pada pekan ini. Data tersebut diprediksi menjadi penggerak utama pasar di tengah minimnya agenda ekonomi lainnya karena masih dalam suasana libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, memberikan pandangannya terkait kondisi ini pada Senin (29/12/2025). Menurutnya, situasi pasar saat ini menunjukkan indikasi adanya tekanan yang lebih kuat pada pasar keuangan dibandingkan potensi penguatan.
Berita Ekonomi: Data PMI Tiongkok Jadi Fokus Pasar Keuangan Asia
“Data manufaktur Tiongkok diproyeksikan masih akan berada di bawah level 50, yang artinya masih mengalami kontraksi. Hal ini menjadi perhatian serius karena agenda ekonomi sedang minim di masa libur Nataru,” ujar Gunawan Benjamin di Medan.
Kondisi berbeda justru diperkirakan terjadi pada kinerja manufaktur Amerika Serikat (AS) yang diekspektasikan tetap bertahan di periode ekspansi. Sesuai jadwal, Tiongkok akan merilis data manufakturnya pada hari Rabu mendatang, sedangkan Amerika Serikat baru akan menyusul pada akhir pekan ini.
Melihat kondisi domestik, rilis data inflasi menjadi kabar selanjutnya yang ditunggu untuk memberikan gambaran perubahan harga kebutuhan pangan masyarakat. Gunawan menilai bahwa secara keseluruhan, angka inflasi pada bulan Desember ini diprediksi tetap terkendali sehingga tidak akan memberikan guncangan besar bagi pasar keuangan nasional.
“Untuk inflasi di bulan Desember, kami melihat masih akan sangat terkendali. Jadi, rilis data tersebut kemungkinan tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pasar keuangan tanah air,” tambah Gunawan.
Pergerakan bursa saham di wilayah Asia pada awal pekan ini terpantau bergerak mendatar atau sideways. Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan sempat menguat di posisi 8.545, namun diproyeksikan akan bergerak stabil dalam rentang 8.500 hingga 8.570.
Situasi berbeda dialami oleh nilai tukar Rupiah yang tercatat mengalami pelemahan di awal pekan ini. Mata uang Garuda tersebut ditransaksikan pada level 16.770 per US Dolar dengan potensi pergerakan di kisaran 16.750 hingga 16.785 sepanjang perdagangan hari ini.
Kenaikan signifikan justru terlihat pada harga emas dunia yang saat ini diperdagangkan di kisaran $4.505 per ons troy. Jika dikonversi, nilai tersebut setara dengan kurang lebih 2,44 juta per gram, sebuah angka yang menunjukkan tren penguatan logam mulia.
Gunawan Benjamin menjelaskan bahwa kenaikan harga emas ini dipicu oleh faktor eksternal yang cukup kuat. “Harga emas kembali merangkak naik dan menembus level psikologis $4.500 per ons troy seiring dengan memburuknya tensi geopolitik global belakangan ini,” pungkasnya.(Siong)


