Jakarta, SeputarSumut — Prestasi membanggakan diukir oleh karya terbaru Pixar dan Disney, ‘Hoppers’, yang sukses menduduki posisi puncak box office Amerika Utara pada akhir pekan peluncurannya. Film animasi ini berhasil mengantongi pendapatan domestik dari penjualan tiket yang diperkirakan mencapai 46 juta dolar atau setara dengan Rp776,6 miliar.
Pundi-pundi pendapatan film ini semakin tebal berkat kontribusi dari pasar internasional yang menyumbang angka 42 juta dolar (Rp709,1 miliar) sebagaimana dilaporkan oleh CNBC pada Rabu, 11 Maret 2026. Jika dikalkulasikan secara menyeluruh, total pendapatan global ‘Hoppers’ di pekan pembukaannya telah menyentuh angka fantastis 88 juta dolar atau sekitar Rp1,4 triliun.
Kilas Hiburan: Film Animasi ‘Hoppers’ Garapan Pixar dan Disney Rajai Box Office Amerika Utara di Pekan Perdana
Pencapaian luar biasa ini tercatat sebagai pembukaan paling masif untuk kategori film animasi orisinal sejak penayangan ‘Coco’ di tahun 2017 silam. Bagi Pixar, performa gemilang ini menjadi angin segar sekaligus pembuktian kembali setelah sebelumnya sempat mengalami hasil yang kurang memuaskan saat pembukaan film ‘Elio’ pada tahun lalu.
Jika dibandingkan dengan ‘Elemental’ yang mengudara pada 2023, ‘Hoppers’ bahkan mampu mencatatkan angka pembukaan yang jauh lebih tinggi. Film yang menelan biaya produksi sekitar 150 juta dolar (Rp1,5 triliun) ini merupakan hasil arahan sutradara Daniel Chong yang membawa visi kreatif baru ke layar lebar.
Dukungan talenta papan atas juga memperkuat daya tarik film ini melalui pengisi suara seperti Piper Curda, Bobby Moynihan, Jon Hamm, hingga Kathy Najimy. Peluang untuk terus meraup keuntungan dalam jangka panjang sangat terbuka lebar, mengingat ‘Hoppers’ telah mengantongi skor 94 persen di Rotten Tomatoes dan mendapatkan nilai A dari CinemaScore.
Alur cerita film ini menyoroti kehidupan Mabel Tanaka, seorang perempuan muda yang sangat mencintai dunia binatang. Demi bisa menjalin komunikasi dengan para hewan dan berupaya menyelamatkan habitat mereka, pikiran Mabel diceritakan berpindah ke dalam raga seekor berang-berang robotik.
Kisah berlatar di sebuah kota bernama Beaverton, di mana saat masih kecil Mabel sering menghabiskan hari bersama neneknya di hutan kecil yang dihuni banyak satwa liar, terutama berang-berang. Pengalaman masa kecil bersama sang nenek tersebut menanamkan kecintaan yang mendalam terhadap alam dalam diri Mabel hingga ia dewasa.
Konflik mulai memuncak ketika Wali Kota Beaverton, Jerry Generazzo, merancang proyek pembangunan jalan bebas hambatan yang akan menggusur hutan tersebut. Kini, di usianya yang menginjak 19 tahun, Mabel berdiri di garda terdepan untuk menentang rencana Jerry dan berusaha mengumpulkan petisi meski awalnya menemui kegagalan.
Begitu fokusnya pada aksi aktivisme lingkungan, Mabel sampai mengabaikan kewajiban studinya di kampus yang memicu kekecewaan dosen biologinya, Dr. Samantha “Sam” Fairfax. Pada suatu malam, dalam upaya mengajak para berang-berang kembali ke habitat aslinya, sebuah penemuan besar terjadi.
Mabel akhirnya menyadari bahwa Dr. Sam dan tim penelitinya tengah melakukan pengembangan teknologi mutakhir yang diberi nama “Hoppers”. Melalui teknologi tersebut, Mabel memulai perjalanan heroik demi mempertahankan kelestarian hutan dari ancaman ekspansi pembangunan manusia.(*/rri)


