Medan, SeputarSumut — Lonjakan harga minyak mentah dunia yang terus bertahan di atas level 100 dolar AS per barel pada awal pekan ini kembali memicu kekhawatiran global terhadap potensi lonjakan inflasi tinggi.
Ekonom Sumatra Utara (Sumut), Gunawan Benjamin menyatakan bahwa pergerakan harga komoditas energi tersebut secara langsung memicu aksi koreksi di pasar keuangan global maupun domestik. Berdasarkan pemantauan terkini di Medan pada Senin (18/5), minyak mentah dunia untuk jenis West Texas Intermediate (WTI) saat ini diperdagangkan pada kisaran harga 108 dolar AS per barel, sementara untuk minyak mentah jenis Brent bergerak di kisaran level 111 dolar AS per barel.
Berita Ekonomi: Harga Minyak Mentah Dunia Bertahan di Atas 100 Dolar Per Barel Picu Pelemahan IHSG dan Rupiah
“Kenaikan harga minyak mentah tersebut kembali memicu kekuatiran akan potensi inflasi tinggi, dan sejauh ini memicu koreksi pada pasar keuangan,” jelas Gunawan Benjamin.
Dampak dari kenaikan harga komoditas energi tersebut langsung menekan mayoritas bursa saham yang terpantau bergerak di zona merah pada sesi perdagangan pagi. Kondisi serupa melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang langsung dibuka merosot ke posisi 6.628 pada pembukaan perdagangan hari ini. Fluktuasi negatif ini bahkan terus membawa IHSG bergerak turun mendekati level psikologisnya di posisi 6.500. Sejalan dengan kemerosotan pasar saham, nilai tukar mata uang Rupiah juga menunjukkan pelemahan dan ditransaksikan pada level 17.655 per Dolar AS.
“Mayoritas bursa saham di sesi perdagangan pagi ini melemah. IHSG pada sesi pembukaan perdagangan hari ini juga dibuka melemah ke level 6.628. Bahkan sejauh ini IHSG melemah mendekati level psikologis 6.500. Disisi lainnya, kinerja mata uang Rupiah ditransaksikan melemah ke level 17.655 per US Dolar. Pasar keuangan domestik masih terus diselimuti sentimen negatif,” paparnya.
Situasi pasar kian diperparah oleh eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang menunjukkan kecenderungan terus meningkat. Hubungan internasional kembali memanas seiring langkah Amerika Serikat yang belakangan ini kembali melontarkan ancaman terhadap Iran, sementara pihak Iran sendiri tetap mempertahankan posisi yang berseberangan dengan AS. Realitas di lapangan saat ini justru bertolak belakang dengan upaya negosiasi damai yang sempat digaungkan sebelumnya.
“Tensi geopolitik di timur tengah eskalasinya justru cenderung alami kenaikan. AS belakangan ini kembali menebar ancaman ke Iran, dan Iran sendiri juga masih berada di posisi yang berseberangan dengan AS. Negosiasi damai yang digaungkan sebelumnya justru bertolak belakang dengan realita yang ada di lapangan. Bahkan di akhir pekan kemarin serangan terhadap fasilitas energi di timur tengah tak luput dari serangan,” tuturnya.
Di tengah situasi geopolitik yang memburuk tersebut, pergerakan harga emas dunia justru mengalami tekanan dan saat ini ditransaksikan di kisaran 4.536 dolar AS per ons troy, atau setara dengan kisaran 2,58 juta rupiah per gram. Penurunan nilai komoditas logam mulia ini sudah berlangsung sejak akhir pekan lalu di tengah memanasnya situasi keamanan di Selat Hormuz. Dengan kondisi global yang tidak menentu seperti sekarang, perhatian dan dinamika pasar ke depan diproyeksikan akan lebih terfokus pada perkembangan konflik bersenjata.
“Terpisah harga emas dunia kembali alami tekanan dan ditransaksikan di kisaran harga $4.536 per ons troy, atau sekitar 2.58 juta per gram. Harga emas selama akhir pekan kemarin juga alami tekanan ditengah memburuknya tensi geopolitik di selat hormuz. Dinamika pasar akan kembali fokus pada dinamika perang dibandingkan dengan rilis data ekonomi fundamental,” ujarnya.(Siong)


