Medan, SeputarSumut — Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, memberikan analisis mendalam terkait kondisi industri kelapa sawit di Medan pada Senin, 27 April 2026. Meski saat ini harga pupuk tengah merangkak naik dan meresahkan petani, terdapat sejumlah faktor fundamental yang diyakini mampu menjaga stabilitas pendapatan di sektor ini.
Kenaikan harga pupuk sebelumnya sempat memicu kekhawatiran mengenai penurunan kualitas perawatan kebun karena biaya operasional yang membengkak. Namun, Gunawan menilai ada fakta lapangan yang justru memberikan harapan bagi para petani, terutama terkait pergerakan nilai tukar mata uang.
Berita Ekonomi: Harga TBS Sawit di Sumut Tembus 3 Ribu Rupiah per Kilogram di Tengah Pelemahan Rupiah
“Pelemahan nilai tukar Rupiah yang menyentuh angka 17.400 per US Dolar pada perdagangan hari ini justru mendorong aktivitas ekspor minyak olahan sawit,” jelas Gunawan.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini meningkatkan pendapatan eksportir yang berdampak langsung pada harga di tingkat bawah. “Harga Tandan Buah Segar atau TBS di tingkat petani berpotensi tetap tinggi atau bahkan merangkak naik, sehingga kenaikan harga TBS tersebut diharapkan dapat menutupi beban biaya pupuk yang mahal,” tuturnya.
Selain faktor mata uang, jaminan ketersediaan stok pupuk dari pemerintah menjadi poin penting kedua. Pemerintah telah memastikan bahwa pasokan di lapangan mencukupi untuk kebutuhan petani sawit, yang sangat krusial di tengah isu kelangkaan akibat eskalasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel.
Mengenai kinerja ekspor ke negara tujuan utama seperti Tiongkok dan India, Gunawan melaporkan bahwa sejauh ini tidak ada gangguan signifikan. Arus pengiriman ke dua negara konsumen terbesar tersebut masih berjalan dengan baik meskipun tensi geopolitik global sedang memanas.
Terkait tantangan alam, fenomena El Nino memang masih mengancam produktivitas nasional, namun dampaknya di setiap wilayah berbeda-beda. “Wilayah Sumatera Utara dan Aceh dinilai masih memiliki kondisi yang lebih baik karena tetap mendapatkan curah hujan,” beber Gunawan.
Ia juga memproyeksikan bahwa kinerja ekspor dari Sumatera Utara akan terus terjaga konsistensinya sepanjang tahun 2026. Namun, Gunawan tetap memberikan catatan waspada terhadap dinamika peperangan yang sulit diprediksi karena bisa menjadi faktor ketidakpastian di masa mendatang.
“Secara perhitungan ekonomi saat ini, kenaikan harga pupuk belum dianggap sebagai ancaman yang serius bagi produktivitas,” tegas Gunawan.
Hal ini diperkuat dengan fakta harga di lapangan yang sangat menguntungkan petani saat ini. “Pelemahan Rupiah telah mengerek harga TBS di level petani hingga menembus angka di atas 3 ribu rupiah per kilogram,” pungkasnya.(Siong)

