Medan, SeputarSumut — Pasar keuangan Asia menunjukkan pergerakan variatif dengan kecenderungan menguat pada perdagangan awal pekan ini, namun kondisi berbeda terlihat pada pasar domestik. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terpantau melemah ke level 6959 pada pembukaan perdagangan Senin 11 Mei 2026. Pelemahan ini beriringan dengan kinerja mata uang Rupiah yang ditransaksikan merosot ke level 17370 per US Dolar. Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai pergerakan mata uang Garuda kini kembali mendekati level psikologis 17400 per US Dolar seiring kenaikan harga minyak mentah dunia.
Kondisi Rupiah tersebut dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta membaiknya kinerja USD Index yang relatif stabil di kisaran 99 dolar AS hingga 104 dolar AS per barel. Selain dinamika mata uang, Gunawan Benjamin menjelaskan bahwa fokus pelaku pasar dalam sepekan ke depan akan tertuju pada sejumlah agenda ekonomi penting, terutama terkait langkah Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Salah satu agenda krusial adalah pengumuman pembobotan yang akan dilakukan oleh peringkat efek tersebut.
Berita Ekonomi: IHSG Melemah dan Rupiah Dekati 17400 Pengamat Ekonomi Sumut Soroti Agenda MSCI Serta Geopolitik Global
“Pelaku pasar akan menanti apakah MSCI nantinya akan menambah bobot sahamnya di pasar keuangan domestik atau justru menguranginya,” ungkap Gunawan Benjamin di Medan, Senin 11 Mei 2026.
Menurutnya, kabar tersebut akan menjadi informasi yang sangat krusial bagi integritas pasar keuangan tanah air. Namun, ia juga memberikan catatan mengenai beberapa indikator ekonomi makro yang berpotensi menjadi sentimen negatif bagi keputusan MSCI. Tantangan tersebut meliputi data manufaktur yang mengalami kontraksi, kondisi defisit fiskal, hingga memanasnya tensi geopolitik global.
“Pelemahan mata uang Rupiah bisa saja menjadi pemberat bagi keputusan MSCI. Meski demikian, rilis data pertumbuhan ekonomi yang melonjak ke level 5,61 persen menjadi salah satu faktor yang diharapkan bisa mengembalikan kepercayaan investor,” jelas Gunawan lebih lanjut.
Dari sisi eksternal, kewaspadaan pelaku pasar meningkat drastis seiring memburuknya situasi konflik di Timur Tengah. Eskalasi ketegangan melibatkan peringatan dari pihak Israel kepada Iran bahwa konflik tersebut belum sepenuhnya berakhir. Di saat yang sama, Amerika Serikat secara resmi menolak proposal perdamaian yang diajukan Iran, sementara pihak Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan tunduk pada Amerika Serikat maupun Israel.
Situasi geopolitik yang tidak menentu ini memberikan dampak negatif pada harga logam mulia dunia. Harga emas terpantau mengalami penurunan di kisaran level 4683 dolar AS per ons troy, atau setara dengan sekitar 2,62 juta rupiah per gram. Meskipun tren saat ini menunjukkan koreksi, Gunawan menilai nilai emas masih memiliki daya tahan di pasar global.
“Harga emas masih diselimuti sentimen negatif di tengah memburuknya tensi geopolitik belakangan ini. Walaupun demikian, harga emas masih mampu bertahan di atas level 4500 dolar AS per ons troy dan tetap ditopang oleh sentimen fundamental yang kuat,” pungkas Gunawan.(Siong)


