seputar-Jakarta | Saat diundang di Podcast Cuap Cuan, penyanyi rock senior Ikang Fawzi yang saat ini aktif di bisnis properti menegaskan bahwa dirinya tak percaya dengan menabung.
Suami dari Marissa Haque ini mengatakan bahwa dirinya terjun ke bisnis properti di saat masih aktif di dunia hiburan. Saat itu, Ikang memiliki banyak tabungan yang tentunya berstatus uang dingin.
Kilas Hiburan: Ikang Fawzi Tak Percaya Nabung dan Titip Duit
“Saya percaya bahwa yang namanya uang itu harus dikelola. Karena kalau nabung kita kalah dengan inflasi,” ujar Ikang.
Ikang menegaskan kembali bahwa sangat penting bagi setiap orang untuk bisa mengelola investasinya seorang diri.
Awal mula Ikang terjun ke investasi properti, dimulai dari bekerja bersama kakak kandungnya yang berprofesi sebagai arsitek.
“Gak diberikan semata-mata sama orang lain. Nih, gue titip uangnya ke elu, nah gue gak bisa kayak gitu. Kita cari (uang) capek-capek, udah gitu kita mengambil risiko seperti itu,” lanjutnya.
Bicara soal cara mengelola uang, Ikang Fawzi sendiri memang menginvestasikan uang ke aset properti. Adapun alasan Ikang terjun ke properti ternyata cukup sederhana, yaitu karena soal demand supply.
“Ini very simple (sangat sederhana), demand dan supply (permintaan dan ketersediaan). Permintaan naik terus, supplynya tetap. Kita yang punya rumah pengin punya rumah lagi, pengin punya kantor, yang udah punya kantor harus ada fasilitasnya lagi, itu berkembang terus sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita. Supplynya? Yang namanya bumi ya segitu-gitu aja, sampai saat ini Elon Musk (soal rencana membawa manusia ke Mars) belum visible,” ujarnya.
Dan hal itulah yang menurut Ikang bisa mengerek harga tanah, alhasil Ikang memandang properti sebagai aset yang layak diperhitungkan untuk investasi.
Bicara soal tabungan, Ikang mengakui bahwa bukan berarti dirinya sama sekali tidak punya tabungan. Ikang tentu memiliki tabungan, namun karena bisnisnya sebagai developer properti, dia harus memiliki banyak aset berbentuk tanah.
“Kalau memang masih ampuh (investasi properti) kenapa tidak? Tapi kalau memang udah gak relevan lagi ya mungkin saya berubah kali,” tegasnya.
Tak Punya Asuransi
Ikang Fawzi juga blak-blakan mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki asuransi kesehatan swasta. Untuk jaminan kesehatan sendiri, Ikang mengandalkan BPJS Kesehatan.
“Saat ini enggak (punya asuransi kesehatan swasta), dulu iya. Karena saya itung-itung lebih visible punya BPJS, dengan usia segini udah saya itung-itung tuh. BPJS sekarang ini kan fleksibel, kalau kita pengin (dirawat di kamar) VVIP, kita tinggal nambah (bayar lagi) aja. Paling mahal (iuran BPJS Kesehatan) Rp 150 ribu sebulan, kelas I,” ujar Ikang dalam Podcast Cuap-Cuap Cuan.
Ikang juga ikut berkomentar mengenai rencana penerapan sistem Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) BPJS Kesehatan. Menurutnya, sistem tersebut dinilai lebih baik lagi.
Namun, Ikang sendiri mengatakan kalau sampai saat ini dirinya belum pernah mencoba berobat dengan BPJS Kesehatan.
“Belum (pernah), tapi kakak saya pernah menggunakan, saya jadi tahu lah. Saya itu, kalau ada layanan publik atau negara ingin memberikan sesuatu, saya pengin menikmati gitu lho,” lanjutnya.
Dalam podcast tersebut, Ikang pun mengatakan bahwa BPJS sendiri sudah menjadi sebuah syarat untuk berbagai proses administrasi. Salah satunya adalah membeli properti.
Belajar dari Ikang Fawzi, apakah keputusan finansial Ikang yang memutuskan untuk menggunakan BPJS Kesehatan adalah salah?
Tentu saja, setiap perencanaan keuangan akan disesuaikan pada beban serta tujuan finansial orang yang bersangkutan.
Memiliki asuransi itu sendiri juga merupakan pilihan. Ketika seseorang tidak masalah untuk merogoh kocek pribadi untuk membayar selisih atas biaya pengobatan tanpa mengorbankan keamanan finansial, tidak ada yang salah dengan hal tersebut. (cnbcindonesia/ss)


