Nagan Raya, SeputarSumut — Krisis kesehatan yang dipicu oleh polusi industri di wilayah Nagan Raya telah mencapai level yang sangat mengkhawatirkan menurut pernyataan Direktur Yayasan Apel Green Aceh Rahmat Syukur Kondisi ini diperkuat dengan fakta adanya lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA yang mencapai angka 40 persen dalam kurun waktu dua tahun belakangan
Peningkatan tajam jumlah penderita ISPA tercermin dari data Dinas Kesehatan Nagan Raya yang menunjukkan kenaikan dari 512 kasus pada tahun 2024 menjadi 728 kasus di tahun 2025 Rahmat Syukur menyebutkan bahwa sebaran kasus yang signifikan ini terkonsentrasi di beberapa titik yaitu Gampong Padang Rubek Gampong Lhok Gampong Kuala Baro Gampong Suak Puntong serta Gampong Pulo
Kabar Daerah: Kasus Penyakit ISPA di Nagan Raya Melonjak 40 Persen Akibat Polusi Industri yang Memprihatinkan
Angka-angka statistik tersebut bukanlah sekadar data di atas kertas melainkan gambaran nyata krisis kesehatan yang sedang menghimpit masyarakat tutur Rahmat Syukur dalam agenda pelatihan Riset Evaluasi Partisipatif di Aula Bappeda Nagan Raya pada Selasa 14 April 2026. Ia menegaskan bahwa warga terpaksa menghirup debu dan polusi setiap hari tanpa adanya proteksi yang cukup sehingga pihak industri diingatkan agar tidak mengorbankan nyawa rakyat demi mengejar profit
Temuan lapangan oleh Apel Green Aceh menyoroti adanya praktik buruk dalam pengelolaan limbah Fly Ash and Bottom Ash atau FABA yang dibongkar secara terbuka tanpa menggunakan pelindung seperti bangunan khusus maupun alas terpal Kelalaian ini berakibat pada debu halus yang mengandung zat berbahaya menjadi sangat mudah terbang dan mencemari pemukiman warga di sekitar lokasi industri
Masalah di Nagan Raya tidak hanya terbatas pada pencemaran udara karena pembuangan air bahang bersuhu tinggi juga menjadi sorotan utama Syukur menjelaskan adanya pembuangan air dengan suhu mencapai 30,5 hingga 35,5 derajat Celcius di sejumlah titik dengan kadar pH antara 7,8 sampai 8,3 Selain itu ditemukan pula aktivitas salah satu industri yang mengeluarkan asap dengan warna kekuningan
Partikel fly ash yang diduga terkandung dalam asap tersebut disinyalir menjadi pemicu berbagai penyakit kronis di tengah masyarakat Rahmat Syukur mengungkapkan bahwa warga mulai mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan mulai dari penyakit kulit ISPA hingga kondisi berat seperti batuk berdarah yang kenyataannya berbanding terbalik dengan laporan resmi perusahaan
Ketimpangan antara dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau AMDAL dengan fakta empiris di lapangan menjadi isu krusial yang mencuat dalam forum yang melibatkan akademisi organisasi mahasiswa HMI dan IMM serta warga terdampak Dokumen formal tersebut dianggap sering kali gagal dalam menangkap realitas penderitaan yang dialami oleh masyarakat yang tinggal di garis depan zona industri
Upaya untuk melahirkan data alternatif yang berbasis pada pengalaman langsung warga kini didorong melalui pelaksanaan pelatihan Riset Evaluasi Partisipatif Langkah strategis ini diambil dengan harapan agar kebijakan lingkungan di masa mendatang tidak lagi sekadar menjadi formalitas administratif namun benar-benar mengutamakan aspek keselamatan ekologis
Pemerintah diminta untuk tidak tinggal diam dan hadir secara nyata di tengah indikasi kuat adanya kerusakan lingkungan serta gangguan kesehatan massal Rahmat Syukur mendesak agar segera diambil langkah konkret serta melakukan evaluasi lingkungan yang secara aktif melibatkan suara masyarakat yang selama ini cenderung tidak didengar.(*/AJNN)


