Jakarta, SeputarSumut – Masyarakat Sulawesi Utara memiliki instrumen kebanggaan berupa alat musik tradisional berbahan dasar kayu yang dimainkan dengan cara dipukul untuk menghasilkan nada berjenjang. Musik yang dikenal dengan sebutan kolintang ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya nusantara yang sangat unik.
Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sejarah perkembangan kolintang berakar kuat dari tradisi masyarakat Minahasa. Pada masa lampau, fungsi utama instrumen ini adalah sebagai sarana pendukung dalam berbagai ritual kepercayaan dan upacara adat setempat.
Kilas Hiburan: Kolintang Alat Musik Tradisional Sulawesi Utara
Asal-usul nama kolintang sendiri diyakini lahir dari tiruan bunyi yang dihasilkan saat alat tersebut dipukul, yakni suara “tong” untuk nada rendah, “ting” untuk nada tinggi, serta “tang” untuk nada sedang. Istilah ini merujuk pada ajakan “Meimo Kumolintang” dalam bahasa Minahasa, yang memiliki arti mari kita melakukan bunyi tong ting tang tersebut.
Secara teknis, konstruksi kolintang terdiri atas serangkaian bilah kayu ringan yang ditata sedemikian rupa di atas sebuah kotak resonator. Pengaturan setiap bilahnya telah disesuaikan sedemikian rupa agar dapat menghasilkan nada-nada yang akurat mengikuti sistem tangga nada diatonis.
Fungsi dan bentuk kolintang terus mengalami transformasi signifikan seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern. Saat ini, instrumen kayu tersebut tidak lagi hanya dimainkan secara tunggal, melainkan telah berkembang menjadi bentuk ansambel yang mampu mengiringi berbagai genre lagu populer.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun menetapkan kolintang sebagai salah satu identitas budaya daerah yang sangat menonjol. Oleh karena itu, kehadiran musik kolintang sering kali menjadi sajian utama dalam berbagai ajang pariwisata maupun promosi kebudayaan di tingkat nasional.
Prestasi internasional berhasil diraih pada tahun 2023 ketika UNESCO secara resmi mengakui kolintang sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia. Pengukuhan ini menjadi tonggak sejarah yang semakin memperkokoh posisi instrumen tradisional asal Minahasa tersebut di kancah global.
Guna menjaga keberlangsungan warisan berharga ini, pemerintah secara konsisten mendorong upaya pelestarian melalui jalur pendidikan serta penyelenggaraan festival budaya. Serangkaian langkah strategis tersebut dilakukan agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai musik tradisional kolintang di masa depan.(*/rri)


