Medan, SeputarSumut — Kondisi ketidakpastian global kembali meningkat tajam menyusul memburuknya hubungan diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Kabar mengenai pembatalan pengiriman delegasi AS untuk melanjutkan negosiasi dengan Iran, ditambah dengan penutupan kembali Selat Hormuz, menjadi sinyal buruk bagi tensi geopolitik dunia yang berdampak langsung pada volatilitas pasar keuangan dan harga komoditas.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, memberikan analisis mendalam terkait situasi terkini di Medan pada Senin, 27 April 2026. Menurutnya, dinamika di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia jenis Brent yang kini menyentuh level 107 dolar AS per barel.
Berita Ekonomi: Konflik AS-Iran Memanas dan Rupiah Melemah ke 17.215, Begini Analisis Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin
Dinamika geopolitik yang berkembang belakangan ini benar-benar memburuk. Gagalnya dialog putaran kedua antara Iran dan AS menciptakan ketidakpastian tinggi. Penutupan Selat Hormuz sejauh ini cenderung menciptakan pola transaksi hit and run di semua pasar yang diperdagangkan, kata Gunawan Benjamin di Medan, Senin (27/4/2026).
Meskipun tensi geopolitik memanas, Gunawan mencatat adanya anomali di bursa saham Asia. Mayoritas bursa di kawasan Asia justru ditransaksikan menguat pada perdagangan pagi ini. Hal ini dipicu oleh sentimen positif dari China, di mana kinerja industri mereka masih mampu membukukan kenaikan profit sebesar 15,5 persen (y-o-y) pada bulan Maret, sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian bulan sebelumnya yang sebesar 15,2 persen.
Kondisi ini turut memberikan dampak pada pasar modal dalam negeri. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan perdagangan hari ini tercatat menguat ke level 7.158. Gunawan menilai bahwa untuk saat ini pasar cenderung mengabaikan kegagalan dialog Iran-AS, walaupun kewaspadaan terhadap dinamika Timur Tengah tetap tinggi.
Namun, Gunawan mengingatkan adanya tekanan serius pada mata uang domestik. Nilai tukar Rupiah terpantau kembali mengalami pelemahan dan ditransaksikan di kisaran harga 17.215 per US Dolar. Tekanan ini menjadi perhatian penting di tengah lonjakan harga energi dunia.
Di sisi lain, aset aman atau safe haven seperti emas menunjukkan pergerakan yang signifikan. Harga emas saat ini ditransaksikan menguat ke level 4.700 dolar AS per ons troy, atau jika dikonversi berada di kisaran 2,6 juta rupiah per gram.
Ditengah kenaikan harga minyak mentah dunia, harga emas sebenarnya masih berada di bawah tekanan. Tekanan tersebut turut berpeluang memicu terjadinya koreksi pada pasar keuangan secara lebih luas, jelas Gunawan Benjamin.
Menutup pernyataannya, Gunawan menekankan bahwa ketidakpastian di Selat Hormuz akan terus menjadi faktor kunci yang menentukan arah pasar ke depan. Selama jalur logistik energi tersebut masih dalam kondisi tidak pasti, para pelaku pasar diprediksi akan tetap bersikap hati-hati dalam mengambil posisi jangka panjang.(Siong)


