Medan, SeputarSumut — Pasar keuangan Asia kembali mengalami tekanan berat pada awal pekan ini akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang menghapus harapan damai para pelaku pasar global. Sentimen negatif dari memanasnya situasi geopolitik tersebut langsung memukul kinerja instrumen investasi domestik pada sesi pembukaan perdagangan. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dilaporkan langsung terjun bebas dan bertengger di level 5.486 seiring merosotnya nilai tukar mata uang Garuda.
Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, memberikan analisis mendalam mengenai peta pergerakan pasar keuangan terkini langsung dari Kota Medan pada Senin, 8 Juni 2026.
Berita Ekonomi: Konflik Iran-AS Memanas Bikin IHSG Anjlok ke 5.486 dan Rupiah Terpuruk ke Level 18.100
“Pelaku pasar saat ini dihadapkan pada kondisi dimana gencatan senjata yang sebelumnya digaungkan sebagai jalan keluar perang Iran – AS. Saat ini pudar setelah Iran melakukan serangan ke Israel,” ujarnya.
Gunawan memaparkan bahwa pudarnya ekspektasi damai tersebut terjadi akibat aksi militer terbuka yang kembali dilancarkan di wilayah konflik tersebut. Dampak dari kegagalan diplomasi ini memicu kepanikan massal para investor di pasar modal regional.
“Aksi saling serang kedua belah pihak AS – Iran kembali terjadi. Pasar saham di Asia kembali alami tekanan, dimana IHSG pada sesi pembukaan perdagangan hari ini melemah ke level 5.486,” tuturnya.
Selain harus menghadapi hantaman dari isu geopolitik dunia, konsentrasi para pelaku pasar keuangan dalam waktu dekat juga akan tertuju pada sejumlah perilisan agenda ekonomi krusial. Rapor cadangan devisa nasional yang dijadwalkan keluar pada sesi transaksi pertama diproyeksikan bakal menjadi motor penggerak utama bagi fluktuasi nilai tukar Rupiah maupun pergerakan IHSG.
“Selain tensi geopolitik yang kian memanas belakangan ini, situasi pasar keuangan sejauh ini juga akan fokus pada sejumlah agenda ekonomi penting,” jelasnya.
Otoritas terkait di dalam negeri juga bersiap meluncurkan rangkaian indikator makro lainnya yang sangat memengaruhi psikologis pasar. Beberapa data strategis tanah air yang dinantikan tersebut meliputi angka indeks kepercayaan konsumen, volume penjualan kendaraan bermotor, hingga performa penjualan ritel.
“Selanjutnya sejumlah data penting dari tanah air lainnya adalah indeks kepercayaan konsumen, penjualan kendaraan bermotor hingga data penjualan ritel,” paparnya.
Dinamika pasar diprediksi akan semakin bergejolak mengingat dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, yakni Amerika Serikat dan China, juga bersiap mempublikasikan rapor laju perekonomian mereka.
“Ditambah lagi ada data penting dari AS dan China dimana kedua negara tersebut akan merilis data inflasi di pekan ini,” ungkapnya.
Jika realisasi angka pemantauan harga di kedua negara adidaya tersebut terbukti membengkak, maka pelaku pasar akan langsung mengembangkan spekulasi baru terkait arah kebijakan moneter internasional.
“Jika data inflasi dari kedua negara alami peningkatan, maka spekualsi selanjutnya adalah tren kenaikan suku bunga acuan,” katanya.
Potensi pengetatan moneter global ini muncul di saat Bank Indonesia sendiri tengah mengkaji opsi untuk mendongkrak biaya pinjaman domestik dalam jangka pendek. Namun, rilis data dari luar negeri tersebut tetap memegang peranan vital dalam mendikte pergerakan kebijakan suku bunga di masing-masing bank sentral mereka.
“Meskipun BI mempertimbangkan akan menaikkan bunga acuan dalam waktu dekat. Namun data inflasi AS maupun China bisa membentuk ekspektasi kenaikan bunga acuan di kedua Bank Sentral tersebut,” urainya.
Tekanan di pasar domestik kian nyata setelah nilai tukar Rupiah terkapar ke posisi 18.100 per US Dolar pada awal perdagangan pagi hari. Kemunduran nilai tukar mata uang lokal ini terjadi secara linear dengan penguatan performa mata uang sekunder global serta lonjakan tingkat keuntungan obligasi negara sekutu.
“Mata uang Rupiah pada sesi pembukaan perdagangan hari ini terpantau alami pelemahan ke level 18.100 per US Dolar,” sebutnya.
Aksi jual aset di negara berkembang tidak terhindarkan karena instrumen pembanding di pasar global menawarkan tingkat pengembalian yang jauh lebih kompetitif di tengah risiko yang meninggi.
“Pelemahan mata uang Rupiah terjadi disaat kinerja USD Index dan imbal hasil US Treasury 10 Tahun alami kenaikan. USD Index saat ini berada di posisi 100, sementara imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di atas level 4.5%,” sambungnya.
Di sisi lain, komoditas logam mulia secara mengejutkan justru ikut terperosok ke zona merah dan gagal menjalankan fungsinya sebagai aset aman di tengah kecemasan perang. Harga komoditas emas internasional terpantau mengalami koreksi yang cukup dalam menjelang keluarnya rilis data ekonomi penting yang berisiko memantik pengetatan moneter lanjutan.
“Disisi lain harga emas mengalami tekanan hebat setelah tensi geopolitik di timur tengah alami peningkatan,” terangnya.
Nilai transaksi komoditas emas batangan di pasar spot global saat ini bergerak aktif pada kisaran level 4.322 US Dolar per ons troy akibat besarnya tekanan proyeksi suku bunga dunia.
“Harga emas saat ini ditransaksikan dikisaran level $4.322 per ons troy, tertekan jelang rilis data inflasi yang berpeluang menyulut potensi kenaikan bunga acuan. Jika dirupiahkan harga emas saat ini ditransksikan dikisaran harga 2.52 juta per gram,” pungkasnya.(Siong)

