Medan, SeputarSumut — Pasar keuangan domestik mengalami tekanan signifikan pada penutupan perdagangan akhir pekan akibat imbas dari situasi geopolitik global yang kian memanas. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terpantau kembali bertengger di teritori negatif setelah mengalami pelemahan tipis sebesar 0,05 persen menuju ke level 6.127,381. Padahal, sepanjang berlangsungnya sesi transaksi, pergerakan indeks saham tanah air sempat berhasil merangkak naik dan bertahan di zona hijau.
Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, memberikan catatan serta analisisnya mengenai fluktuasi tajam yang terjadi pada pergerakan instrumen investasi domestik tersebut di Medan pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Berita Ekonomi: Konflik Timur Tengah Kian Memburuk, IHSG dan Rupiah Kompak Ditutup Melemah Akhir Pekan Ini
“Sentimen negatif pasar masih dipicu oleh memburuknya eskalasi konflik di timur tengah, dimana kabar terakhir menunjukan sikap saling jual beli serangan di kedua belah pihak,” ujarnya.
Menurut Gunawan, situasi saling serang yang melibatkan kekuatan militer di kawasan Timur Tengah tersebut secara langsung memukul optimisme para pelaku pasar di seluruh dunia. Investor saat ini merasa cemas karena harapan awal mengenai stabilitas geopolitik di wilayah tersebut belum menunjukkan tanda-tanda yang positif.
“Padahal pasar masih mengharapkan potensi gencatan senjata yang akan tercipta dari kedua belah pihak yakni AS dengan Iran,” tuturnya.
Kondisi lesu pada penutupan transaksi pekan ini sejatinya tidak memperlihatkan perbedaan yang jauh jika dibandingkan dengan posisi indeks pada saat pembukaan perdagangan pagi hari, di mana IHSG sempat merosot terlebih dahulu ke level 6.112. Penurunan performa pasar modal ini juga terjadi secara linier di tingkat regional, yang mana performa bursa saham di Asia akhirnya harus ditutup secara bervariasi walaupun sempat memperlihatkan tren penguatan yang cukup meyakinkan pada awal sesi transaksi.
Faktor utama yang ikut memicu aksi balik arah IHSG ke zona merah adalah penurunan performa mata uang Rupiah yang kian merosot terhadap Dolar AS hingga ditutup pada level 17.865. Mata uang Garuda tercatat tidak mampu keluar dari zona merah di sepanjang perdagangan bergulir, di mana tren depresiasi ini terus berlanjut dan diproyeksikan sedang bergerak menuju level 18.000.
Di tengah situasi pasar saham dan mata uang konvensional yang sedang tertekan, instrumen aset aman atau safe haven justru mencatatkan lonjakan harga yang sangat kontras.
“Terpisah harga emas alami kenaikan di level $4.533 per ons troy, atau sekitar 2.6 juta per gram,” jelasnya.(Siong)


