Jakarta, SeputarSumut — Gelombang kebangkrutan yang dialami perusahaan-perusahaan di Jepang kini terus mengalami peningkatan yang signifikan. Fenomena tersebut dipicu oleh melemahnya nilai tukar mata uang yen yang kemudian memicu percepatan inflasi, sehingga memberikan tekanan yang sangat berat terhadap stabilitas keuangan pelaku bisnis, khususnya bagi sektor usaha kecil dan menengah.
Laporan dari Tokyo Shoko Research menunjukkan bahwa total perusahaan yang menyatakan bangkrut di Jepang sepanjang semester pertama tahun 2026 telah menyentuh angka 5.346 kasus. Jumlah tersebut merepresentasikan kenaikan sebesar 7,1 persen jika dibandingkan dengan periode yang serupa pada tahun lalu, sekaligus menandai titik tertinggi dalam 12 tahun terakhir.
Berita Ekonomi: Lonjakan Kasus Kebangkrutan Perusahaan di Jepang Capai Level Tertinggi dalam 12 Tahun
“Laju kebangkrutan mungkin akan meningkat mulai musim gugur,” ungkap salah seorang pejabat dari perusahaan riset tersebut sebagaimana dilansir oleh The Mainichi pada Minggu, 12 Juli 2026.
Tren penutupan usaha di Jepang diprediksi bakal terus meluas akibat adanya krisis kekurangan tenaga kerja yang berlangsung lama. Di samping itu, penurunan tingkat penjualan di pasar domestik juga telah menyebabkan tergerusnya arus kas perusahaan secara perlahan namun pasti.
Data mencatat bahwa perusahaan yang gulung tikar akibat lonjakan harga barang dan jasa telah meningkat sebesar 27,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 439 kasus. Sementara itu, kasus kebangkrutan yang berhubungan langsung dengan masalah kekurangan tenaga kerja tercatat naik 37,7 persen dengan total 237 kasus. Di antara angka-angka tersebut, kasus yang dipicu oleh kenaikan biaya tenaga kerja mengalami lonjakan hingga 2,4 kali lipat, yakni mencapai 120 kasus.
Jika ditinjau dari pembagian sektor industrinya, angka kebangkrutan tercatat meningkat pada 8 dari total 10 sektor yang ada. Sektor jasa menempati posisi teratas dengan jumlah 1.819 kasus atau naik 7,2 persen, yang kemudian diikuti oleh sektor konstruksi dengan total 1.026 kasus.
Secara geografis, kegagalan bisnis ini telah merambah ke sembilan wilayah di Jepang, kecuali wilayah Tohoku di bagian timur laut. Peningkatan kasus paling tajam terjadi di wilayah Hokuriku yang terletak di Jepang tengah dengan kenaikan sebesar 37,3 persen, disusul oleh wilayah Hokkaido di bagian utara dengan peningkatan mencapai 17,1 persen.
Pihak perusahaan riset tersebut menegaskan bahwa kondisi ketidakpastian di Timur Tengah saat ini juga telah memberikan dampak nyata terhadap arus kas bagi usaha kecil dan menengah di Jepang. Hanya dalam bulan Juni 2026 saja, angka kebangkrutan telah melonjak hingga 20,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan total 1.021 kasus.
“Fenomena tersebut terjadi hampir di seluruh wilayah Jepang. Artinya, tekanan yang dialami dunia usaha bukan hanya persoalan daerah tertentu, melainkan mencerminkan perlambatan yang bersifat nasional,” demikian bunyi laporan tersebut.(*/dtk)

