Jakarta, SeputarSumut — Keinginan untuk tidur siang yang berlebihan pada sebagian orang dewasa sebenarnya dapat menjadi indikasi awal bahwa kualitas istirahat mereka pada malam hari kurang baik. Padahal, kebiasaan tidur di siang hari ini kerap kali dipandang masyarakat sebagai solusi instan untuk memulihkan kembali stamina tubuh. Hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas tersebut tidak selalu diperlukan oleh setiap individu dewasa.
James Rowley selaku spesialis pengobatan tidur di Rush University System for Health memberikan penjelasannya melalui American Medical Association (AMA). Ia menerangkan bahwa munculnya dorongan kuat untuk tidur siang sering kali menjadi cerminan bahwa seseorang belum mendapatkan waktu istirahat yang cukup ataupun berkualitas ketika malam hari. Dengan demikian, langkah ini tidak selamanya menjadi jalan keluar primer, melainkan dapat menjadi penanda adanya gangguan pada pola tidur harian Anda.
Pernik Ragam: Mengenal Durasi Ideal dan Manfaat Tidur Siang bagi Kesehatan Tubuh Orang Dewasa
Meskipun begitu, aktivitas tidur siang pada dasarnya bukan merupakan suatu hal yang buruk untuk dilakukan. Apabila dijalankan dalam jangka waktu yang pas, kebiasaan tersebut justru dapat memicu peningkatan level energi, mengembalikan kesegaran tubuh, serta mengoptimalkan tingkat konsentrasi guna melanjutkan rutinitas harian. Rowley menambahkan bahwa jangka waktu yang paling ideal untuk melakukan tidur siang adalah berkisar antara 15 hingga 20 menit. Jeda waktu yang singkat tersebut dinilai sudah memadai untuk mengembalikan kesegaran fisik tanpa menimbulkan efek lemas pada tubuh ketika terbangun.
Sebagaimana yang dilansir oleh Nationwide Children’s, aktivitas tidur siang yang diterapkan secara tepat dapat memberikan bermacam-macam kegunaan positif bagi tubuh, yang meliputi:
• Mengurangi stres dan meningkatkan kewaspadaan.
• Memperbaiki suasana hati (mood).
• Meredam perasaan negatif seperti frustrasi dan perilaku impulsif.
• Mendukung fungsi kognitif, seperti daya ingat dan kemampuan berpikir.
Segudang efek positif tersebut dinilai dapat berbalik menjadi dampak buruk bagi tubuh apabila durasi pelaksanaannya dilakukan secara berlebihan. Seseorang yang tidur siang dengan waktu melebihi 30 menit memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi ‘sleep inertia’. Kondisi ini merupakan sebuah fase di mana seseorang akan merasakan pusing, tubuh lemas, serta mengalami kesulitan untuk fokus sesaat setelah dirinya terbangun. Oleh sebab itu, pembatasan waktu istirahat menjadi faktor penentu utama agar kegunaannya dapat dirasakan secara maksimal.
Faktor ketepatan waktu pelaksanaan juga memegang peranan penting di samping masalah durasi. Aktivitas tidur siang direkomendasikan untuk diselesaikan sebelum memasuki pukul 15.00. Waktu tersebut bertepatan dengan momen di mana kondisi tubuh manusia mengalami fase penurunan energi secara alamiah setelah mengonsumsi hidangan makan siang, atau yang dikenal dengan istilah ‘post-lunch dip’.
Tingkat keperluan tidur siang bagi setiap individu pada dasarnya tidaklah sama. Tubuh dari seorang individu dewasa yang sehat dan telah mencukupi kebutuhan waktu tidur malamnya selama kurang lebih tujuh jam umumnya tidak memerlukan agenda tidur siang secara berkala. Kendati demikian, terdapat beberapa kelompok masyarakat tertentu yang dinilai tetap memerlukan aktivitas ini, di antaranya:
• Pekerja dengan sistem shift.
• Orang yang mengalami jet lag.
• Penderita gangguan tidur tertentu.
• Lansia yang cenderung memiliki waktu tidur malam lebih singkat.
Hal yang penting untuk digarisbawahi, kebiasaan tidur siang yang terlalu sering dengan durasi yang panjang, khususnya pada kelompok lanjut usia, perlu mendapatkan perhatian lebih karena dapat berhubungan dengan indikasi kondisi kesehatan tertentu.
Berdasarkan data yang dikutip dari Sleep Foundation, kegiatan tidur siang terbukti mampu menaikkan level performa fisik sekaligus menjadi sebuah rutinitas yang mendatangkan faedah apabila dipraktikkan dengan metode yang benar. Namun, masyarakat diimbau untuk tidak memanfaatkan waktu tidur siang ini sebagai sarana ‘tambal sulam’ guna menutupi rusaknya pola istirahat pada malam hari. Langkah paling krusial dalam rangka mempertahankan kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh tetap bertumpu pada kepastian pemenuhan durasi serta kualitas tidur malam yang memadai.(*/cnni)

