Jakarta, SeputarSumut — Kesehatan organ ginjal memegang peranan krusial dalam menjaga kestabilan fungsi berbagai organ vital lainnya di dalam tubuh manusia. Gangguan pada ginjal berpotensi memberikan dampak negatif yang luas terhadap seluruh sistem metabolisme, sehingga upaya deteksi dini menjadi sangat penting dilakukan, termasuk dengan mengamati perubahan pada kondisi urine.
Dokter spesialis penyakit dalam, Zubairi Djoerban, memaparkan bahwa munculnya busa pada urine dapat menjadi indikasi awal terjadinya kebocoran protein atau albumin dari organ ginjal. Melalui penjelasan di media sosial X yang dikutip oleh CNNIndonesia.com, ia menyatakan bahwa busa tersebut mencerminkan tingginya kadar protein dalam urine yang merupakan salah satu gejala klinis penyakit ginjal.
Pernik Ragam: Mengenal Tanda Penyakit Ginjal Melalui Perubahan Urine dan Deteksi Dini Kebocoran Protein
Langkah yang dianggap paling efektif untuk mengukur tingkat kerusakan fungsi ginjal adalah dengan melakukan pemeriksaan urine secara rutin di laboratorium. Dalam proses pengujian tersebut, tenaga medis akan memantau kadar albumin, yaitu jenis protein darah yang memiliki peran esensial dalam pembentukan plasma tubuh.
Tingkat keparahan kebocoran ginjal diklasifikasikan menggunakan skala positif 1 hingga 4 berdasarkan temuan albumin dalam urine. Skala 1 sampai 2 merujuk pada indikasi kebocoran pada tahap awal, sementara hasil yang menunjukkan skala 4 menandakan bahwa kondisi kebocoran ginjal sudah masuk dalam kategori berat.
Guna memperoleh hasil analisis yang memiliki akurasi lebih tinggi, pasien umumnya akan diminta untuk melakukan penampungan sampel urine selama 24 jam penuh. Sampel kolektif ini nantinya akan diukur secara kuantitatif oleh dokter untuk mengetahui jumlah pasti protein yang terbuang selama periode satu hari tersebut.
Urgensi mengenai kesehatan ginjal ini semakin meningkat seiring dengan munculnya fenomena gagal ginjal akut pada anak-anak di Indonesia. Merujuk pada data terakhir, terdapat ratusan kasus yang tercatat di mana mayoritas di antaranya berujung pada kematian.
Tanda utama yang perlu diperhatikan orang tua untuk deteksi dini pada anak adalah frekuensi buang air kecil. Penurunan volume urine secara signifikan serta jarangnya anak berkemih harus diwaspadai sebagai peringatan kuat adanya gangguan pada fungsi ginjal mereka.
Di sisi lain, melansir laporan dari Detik, dokter spesialis urologi Hilman Hadiansyah menjelaskan bahwa karakteristik perubahan urine sangat bergantung pada jenis gangguan yang diderita oleh pasien.
Pertama, pada penderita gagal ginjal, volume urine biasanya mengalami penurunan yang sangat drastis jika dibandingkan dengan kondisi orang sehat. Selain jumlahnya yang sedikit, urine penderita gagal ginjal umumnya memiliki tampilan yang keruh dan tidak jernih.
Kedua, kondisi berbeda ditemukan pada kasus batu ginjal. Masalah kesehatan ini sering kali ditandai dengan hematuria atau munculnya kandungan darah dalam urine. Selain itu, terdapat gejala passing stone di mana butiran pasir atau batu berukuran kecil ikut keluar saat proses buang air kecil. Jika batu tersebut memicu infeksi, urine akan mengeluarkan aroma yang sangat tajam dan menyengat.
Gejala klinis pada batu ginjal ini biasanya disertai dengan keluhan nyeri pada area pinggang dan rasa tidak nyaman di bagian perut samping. Pada kasus di mana ukuran batu cukup besar hingga menyumbat saluran kemih, pasien dapat mengalami serangan nyeri hebat yang dikenal sebagai kolik renal.(*/cnni)

