Jakarta, SeputarSumut — Kementerian Pertahanan Amerika Serikat mengajukan tambahan dana sebesar US67 miliar (Rp1.199 triliun) untuk mendanai kelanjutan konflik militer dengan Iran. Permohonan anggaran ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam sidang Senat terkait dana tambahan Pentagon pada Selasa (21/7). Hegseth mengungkapkan bahwa Washington sebelumnya telah menggelontorkan dana sekitar US37,5 miliar (Rp671 triliun) selama lima bulan terakhir untuk keperluan pertempuran tersebut.
Permintaan alokasi dana baru ini muncul seiring berlanjutnya kembali pertempuran dengan Iran dalam sepuluh hari terakhir, meskipun kedua belah pihak sempat menyetujui kesepakatan gencatan senjata dan nota kesepahaman (MoU) penghentian perang. “Perkiraan yang kami miliki hingga hari ini adalah US$37,5 miliar (Rp671 triliun),” kata Hegseth saat menjelaskan total pengeluaran militer sejauh ini. Ia mengklaim posisi militer Iran saat ini berada pada titik terlemah secara militer dalam satu dekade terakhir, bahkan mungkin yang terlemah dalam 47 tahun terakhir, dengan ribuan rudal balistik milik Iran yang berhasil dihancurkan.
Dunia Internasional: Menhan AS Ajukan Tambahan Anggaran Perang Iran US$67 Miliar
Sebagaimana dikutip Anadolu Agency, ketika disinggung mengenai penguasaan dan pemblokadean Selat Hormuz oleh pihak Iran, Hegseth berdalih bahwa AS berhasil memindahkan antara 200 hingga 500 juta barel minyak “tepat di bawah hidung Iran.” “Kami melakukannya secara diam-diam, karena itu jauh lebih efektif daripada dilakukan secara terbuka… Kami telah mengendalikan pergerakan lalu lintas di sana selama cukup lama,” tambahnya. Ia juga menyatakan, “Kami sempat memiliki gencatan senjata, tetapi kemudian mereka menyerang pelayaran komersial,” ujarnya.
Langkah pengajuan dana perang ini memicu penolakan keras dari jajaran Partai Demokrat. Pihak oposisi menilai pertempuran tersebut merupakan perang yang dipilih (‘war of choice’) dan bukan perang yang didorong oleh kebutuhan (‘war of necessity’). Mereka juga mempertanyakan ketidakkonsistenan serta kurang jelasnya pernyataan Menhan Pete Hegseth mengenai operasi militer AS di Iran selama ini. Dikutip Al Jazeera, Senator Jon Ossoff mempertanyakan alasan pemerintahan Trump meminta tambahan anggaran setelah sebelumnya menyatakan bahwa kemampuan tempur lawannya telah berhasil dilumpuhkan.
Di samping itu, sejumlah senator Demokrat lainnya menyoroti berbagai kebutuhan dalam negeri yang dinilai lebih layak menerima pendanaan tersebut, seperti layanan penitipan anak, layanan kesehatan, serta bantuan biaya energi bagi rumah tangga. Argumen-argumen tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap perang yang masih sangat tidak populer di Amerika. Bahkan di kalangan pendukung Presiden Donald Trump sendiri, terdapat sedikit dukungan untuk mengalokasikan anggaran tambahan untuk perang melawan Iran. Selama kampanye pemilu, banyak pemilih mendukung Trump karena percaya bahwa ia akan mencegah atau mengakhiri perang-perang di luar negeri. Kebijakan pemerintahannya yang secara agresif melanjutkan konflik dengan Iran dinilai bertolak belakang dengan harapan banyak pemilih. Seiring meningkatnya kekhawatiran masyarakat mengenai besarnya biaya perang, jatuhnya korban di kalangan personel militer AS, serta berlanjutnya keterlibatan militer di Timur Tengah, dukungan publik terhadap perpanjangan operasi militer tersebut tampak masih sangat terbatas.(*/cnni)

