Medan, SeputarSumut – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara menilai stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah Sumatera Utara tetap terjaga kokoh hingga akhir Desember 2025. Performa positif ini diyakini terus berkontribusi signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah di tengah dinamika global yang menantang.
Kepala Kantor OJK Provinsi Sumatera Utara, Khoirul Muttaqien, menyampaikan bahwa ketahanan ini merupakan modal penting memasuki tahun 2026. Meskipun kondisi ekonomi global menunjukkan tren moderasi, kekuatan domestik dan regional Sumatera Utara masih menunjukkan taringnya.
Berita Ekonomi: OJK: Sektor Keuangan Sumut Stabil di 2025
Analisis Ekonomi Global dan Dampaknya
Dalam pernyataannya pada Selasa (13/1/2026), Khoirul Muttaqien menyoroti kondisi ekonomi dunia yang saat ini berada di zona ekspansi namun dengan laju yang melambat. Pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi berada di bawah rata-rata pra-pandemi, dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral utama seperti The Fed dan Bank of England yang mulai memangkas suku bunga.
“Kami mencermati dinamika global, di mana terjadi perbaikan di beberapa negara utama namun dibarengi penurunan kepercayaan konsumen. Namun, bagi Sumatera Utara, stabilitas sektor keuangan tetap menjadi jangkar di tengah risiko geopolitik global yang dinamis di awal tahun 2026 ini,” ujar Khoirul Muttaqien.
Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Utara
Data menunjukkan bahwa ekonomi Sumatera Utara tumbuh 4,55 persen (YoY) pada Triwulan III-2025. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi tulang punggung, diikuti oleh perdagangan besar serta real estate.
Khoirul Muttaqien menekankan bahwa struktur pertumbuhan ini mencerminkan resiliensi ekonomi lokal. Beliau menyatakan:
“Kinerja ekonomi Sumatera Utara sepanjang 2025 bergerak dalam tren yang terjaga. Ekspor barang dan jasa, terutama kelompok lemak dan minyak nabati, tetap menjadi motor penggerak utama. Hal ini membuktikan bahwa produk unggulan kita masih memiliki permintaan solid di pasar internasional,” jelasnya.
Tantangan Inflasi dan Pasokan Pangan
Meski sektor keuangan stabil, OJK Sumut juga memberikan perhatian pada kenaikan inflasi di akhir tahun yang mencapai 4,66 persen pada Desember 2025. Faktor cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor diakui menjadi penyebab utama gangguan distribusi pangan.
Menanggapi hal tersebut, Khoirul Muttaqien memberikan imbauan strategis bagi para pemangku kepentingan:
“Kenaikan inflasi pada akhir tahun lalu dipicu oleh gangguan pasokan akibat faktor cuaca yang berdampak pada komoditas strategis seperti cabai rawit dan bawang merah. Dinamika ini menegaskan bahwa kunci menjaga stabilitas harga di daerah adalah penguatan ketahanan pasokan serta kelancaran distribusi logistik. Sektor jasa keuangan akan terus kami arahkan untuk mendukung produktivitas di sektor-sektor kunci ini,” pungkasnya.
Hingga saat ini, OJK terus melakukan pemantauan ketat terhadap profil risiko lembaga jasa keuangan guna memastikan bahwa intermediasi tetap berjalan lancar untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara di tahun 2026.(Siong)

