Tebing Tinggi, SeputarSumut — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara bersinergi dengan Pemerintah Kota Tebing Tinggi menyelenggarakan program edukasi keuangan bagi kaum perempuan di Kantor Walikota Tebing Tinggi pada Selasa, 23 Juni. Upaya penguatan literasi dan inklusi keuangan ini diikuti oleh jajaran pengurus PKK, Dharma Wanita, kaum perempuan pelaku usaha, hingga Aparatur Sipil Negara perempuan guna menopang ketahanan ekonomi domestik keluarga sekaligus meminimalkan risiko kerugian di sektor jasa keuangan.
Hadir sebagai narasumber dalam forum tersebut, Asisten Direktur Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Provinsi Sumatera Utara, Reza Leonhard. Dalam pemaparannya, ia menggarisbawahi posisi krusial kaum perempuan dalam memimpin manajemen finansial rumah tangga, sehingga pembekalan pengetahuan seputar keuangan menjadi pilar utama demi mewujudkan kemakmuran masyarakat dan keluarga.
Kabar Daerah: OJK Sumut dan Pemkot Tebing Tinggi Gelar Edukasi Keuangan Perempuan Demi Dorong Gencarkan
“Perempuan memiliki peran strategis sebagai pengelola keuangan keluarga sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, peningkatan literasi keuangan perempuan menjadi sangat penting agar masyarakat semakin cerdas dalam mengelola keuangan, mampu memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan secara tepat, serta terlindungi dari berbagai aktivitas keuangan ilegal yang dapat merugikan,” ujar Reza Leonhard.
Urgensi peningkatan pemahaman ini tecermin dari capaian angka indeks pada Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Tahun 2025. Hasil survei berskala nasional tersebut memperlihatkan angka indeks literasi keuangan nasional berada pada level 66,46 persen, dengan raihan indeks inklusi keuangan nasional menyentuh 80,51 persen. Jika ditinjau dari variabel gender, level indeks literasi keuangan kelompok laki-laki berada di angka 67,32 persen, yang mana persentase tersebut masih mengungguli kelompok perempuan yang tertahan di angka 65,58 persen. Sementara itu, tingkat indeks inklusi keuangan kelompok laki-laki dan perempuan terpantau hampir setara, dengan porsi masing-masing sebesar 80,73 persen serta 80,28 persen.
Indikator data tersebut memberikan gambaran bahwa perlu adanya akselerasi pembekalan pengetahuan, pemahaman, dan keahlian finansial di tengah masyarakat, kendati penetrasi akses terhadap ragam produk maupun fasilitas keuangan sudah semakin meluas. Langkah penguatan ini krusial agar publik sanggup mendayagunakan layanan keuangan dengan cara yang paling aman, optimal, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pandangan senada mengenai signifikansi andil kaum perempuan juga diutarakan oleh Sekretaris Daerah Kota Tebing Tinggi, Erwin Suheri Damanik, sewaktu menyampaikan pidato sambutannya dalam pembukaan agenda tersebut.
“Dalam banyak rumah tangga, perempuan berperan sebagai pengelola keuangan keluarga, pengambil keputusan dalam kebutuhan sehari-hari, bahkan menjadi pelaku usaha yang menopang perekonomian keluarga. Oleh karena itu, kemampuan dalam memahami dan mengelola keuangan secara bijak merupakan keterampilan yang sangat penting,” ujar Sekretaris Daerah Kota Tebing Tinggi.
Selama jalannya sosialisasi, kolaborasi OJK bersama Bank Indonesia diisi dengan penyampaian materi edukatif seputar taktik pengelolaan kas rumah tangga, tata cara pemilihan instrumen jasa keuangan yang memiliki legalitas resmi dan sesuai keperluan, mekanisme perlindungan hak konsumen, hingga peningkatan kewaspadaan publik terhadap aneka rupa modus operandi keuangan ilegal yang kian bervariasi.
Seluruh audiens yang hadir turut dibekali wawasan mengenai aspek krusial untuk selalu meneliti status izin dan pengawasan resmi dari OJK sebelum bertransaksi dengan sebuah entitas keuangan. Pihak penyelenggara mengimbau warga masyarakat agar konsisten mengadopsi jargon pemikiran 2L, ialah Legal dan Logis, sebelum memutuskan untuk memakai maupun menaruh dana investasi pada produk keuangan tertentu.
Lebih jauh lagi, para peserta menerima pemaparan mendalam seputar bermacam bahaya laten, seperti sebaran pinjaman online ilegal, kasus penyalahgunaan dokumen data privat, perangkap investasi bodong, sampai ancaman nyata dari jeratan judi online yang berpotensi merusak struktur keuangan dan keharmonisan internal keluarga.
Penyelenggaraan sosialisasi edukatif ini menjadi bagian integral dari pelaksanaan program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan atau GENCARKAN. Program strategis tersebut diinisiasi secara bersama oleh OJK dengan Dewan Nasional Keuangan Inklusif untuk mengakselerasi penyerapan literasi dan inklusi keuangan secara masif, proporsional, serta berkesinambungan di seluruh penjuru Indonesia.
Melalui konsolidasi berkala antara OJK, Pemerintah Kota Tebing Tinggi, Bank Indonesia, beserta seluruh pemangku kebijakan terkait, kaum perempuan diharapkan dapat bertumbuh menjadi pengatur sirkulasi keuangan keluarga yang andal, cakap dalam memformulasikan keputusan finansial secara tepat, sekaligus bertindak selaku motor perubahan demi membangun tatanan masyarakat yang lebih makmur dan tangguh dari sisi ekonomi.(REL/Siong)


