Medan, SeputarSumut — Sejumlah pedagang grosir barang tahan lama di Sumatra Utara mulai mengeluhkan kelangkaan pasokan untuk berbagai produk kebutuhan rumah tangga, terutama yang menggunakan kemasan plastik. Kondisi ini berdampak signifikan terhadap kinerja bisnis di lapangan, di mana mayoritas pedagang kebutuhan harian melaporkan penurunan omzet penjualan hingga mencapai 50 persen dibandingkan dengan periode hari normal.
Penyakit penurunan omzet ini utamanya disebabkan oleh minimnya distribusi barang dari pihak produsen kepada para pedagang. Beberapa komoditas yang pasokannya saat ini sangat dikeluhkan meliputi produk kebutuhan mandi dan mencuci seperti sabun cair, detergen cair, serta pewangi pakaian. Selain itu, ketersediaan produk minuman kemasan juga mengalami penyusutan jumlah pasokan yang cukup tajam.
Berita Ekonomi: Optimasi Pasokan Plastik Terhambat Pelemahan Rupiah dan Konflik Global Omzet Pedagang Grosir Sumut Anjlok 50 Persen
Jenis produk minuman yang pasokannya menurun signifikan mencakup kopi sachet, sari buah, air minum dalam kemasan plastik, hingga kopi dalam botol plastik. Berdasarkan hasil diskusi dengan para pelaku usaha, gangguan distribusi ini sejatinya telah mulai dirasakan sejak tiga pekan lalu dan situasinya kian memburuk hingga saat ini. Padahal, produk-produk dengan kemasan plastik tersebut mendominasi sekitar 70 persen dari total volume barang yang diperdagangkan oleh para grosir.
Hingga saat ini, para pedagang masih berupaya bertahan karena konsumen mulai beralih memburu merek-merek alternatif yang sebelumnya kurang diminati akibat kelangkaan stok utama. Meski demikian, muncul kekhawatiran mendalam di kalangan pedagang terkait ketahanan stok yang ada. Terdapat kecemasan bahwa persediaan barang yang tersedia saat ini akan segera terkuras habis apabila tidak ada penambahan barang masuk dari pihak produsen dalam waktu dekat.
Ekonom Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa ketidakpastian kondisi global menjadi faktor utama di balik gangguan ini. Dampak peperangan di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir telah memicu kekhawatiran akan terganggunya suplai bahan baku nafta yang merupakan komponen utama pembuatan plastik. Situasi ini diperparah dengan pelemahan nilai tukar Rupiah yang meningkatkan beban impor, serta potensi kelangkaan biji plastik yang mendorong kenaikan harga bahan baku tersebut secara global.
Sebenarnya pemerintah telah mengambil langkah dengan menerapkan kebijakan pajak impor nol persen (0%) untuk bahan baku biji plastik guna meringankan beban pelaku usaha. Namun, Gunawan Benjamin menilai kebijakan tersebut belum memberikan dampak yang signifikan karena tertutup oleh berbagai faktor eksternal lainnya.
“Sejauh ini pemerintah telah menggratiskan pajak impor (0%) untuk bahan baku plastik (biji plastik). Sudah pasti kebijakan tersebut memperingan beban pelaku usaha. Namun sayangnya langkah pemerintah itu justru tertutupi dengan pelemahan mata uang Rupiah, kenaikan harga minyak dunia hingga kenaikan harga plastik itu sendiri,” jelasnya di Medan, Selasa 12 Mei 2026.
Akibat kondisi tersebut, efektivitas kebijakan pemerintah menjadi tidak terlihat karena tren harga plastik dan stabilitas pasokannya masih terus berada di bawah tekanan. Selama konflik di wilayah Selat Hormuz masih berlangsung, dampak negatifnya diprediksi akan langsung dirasakan oleh konsumen, khususnya ibu rumah tangga. Tanpa adanya inovasi dari produsen dalam menyediakan produk alternatif, peningkatan eskalasi perang dapat membawa konsumen pada ancaman kenaikan harga serta potensi kelangkaan bahan baku nafta itu sendiri.(Siong)


