Medan, SeputarSumut– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara mencatat pertumbuhan signifikan pada sektor pasar modal hingga periode Oktober 2025. Jumlah investor di Sumatera Utara yang tercermin dalam Single Investor Identification (SID) menembus angka 806,5 ribu, atau mengalami lonjakan sebesar 32,52 persen secara tahunan (Year on Year/YoY).
Kepala Kantor OJK Provinsi Sumatera Utara, Khoirul Muttaqien, mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat Sumatera Utara dalam berinvestasi di pasar modal terus menunjukkan tren positif yang dibarengi dengan peningkatan literasi keuangan.
Berita Ekonomi: Pasar Modal Sumut Tumbuh Pesat di Oktober 2025
“Hingga Oktober 2025, kita melihat aktivitas pasar modal di Sumatera Utara berkembang sangat positif. Instrumen reksadana tetap menjadi primadona dengan jumlah 759,2 ribu SID, disusul oleh saham sebanyak 378,9 ribu SID, dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 68,9 SID,” ujar Khoirul Muttaqien dalam keterangannya di Medan, Rabu (14/1/2026).
Tidak hanya dari jumlah investor, nilai transaksi saham di Sumatera Utara juga mengalami lonjakan hampir tiga kali lipat. Per Oktober 2025, nilai penjualan saham mencapai Rp16,5 triliun, sementara nilai pembelian tercatat sebesar Rp16,8 triliun.
Kinerja Perbankan Tetap Terjaga
Memasuki bulan November 2025, sektor perbankan di Sumatera Utara juga menunjukkan performa yang stabil. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp338,4 triliun atau tumbuh 3,40 persen (YoY). Di sisi lain, penyaluran kredit tumbuh 7,38 persen (YoY) dengan total Rp313,1 triliun.
Khoirul Muttaqien menjelaskan bahwa penyaluran kredit ini masih didominasi oleh Kredit Modal Kerja. Namun, ada pertumbuhan menarik pada sektor investasi.
“Kredit investasi di Sumatera Utara tumbuh signifikan hingga 20,04 persen YoY. Ini mencerminkan adanya ekspansi usaha yang cukup masif di daerah kita,” jelasnya. Profil risiko perbankan juga dinilai aman dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) rendah di angka 1,91 persen.
Dinamika Asuransi dan Dana Pensiun
Berbeda dengan pasar modal, sektor asuransi di Sumatera Utara tengah berada dalam fase penyesuaian. Premi asuransi jiwa terkontraksi tipis 0,98 persen (YoY) menjadi Rp9,40 triliun, sementara premi asuransi umum terkontraksi 12,09 persen (YoY) menjadi Rp2,13 triliun.
“Industri asuransi memang sedang dalam fase penyesuaian sepanjang 2025, terutama pada sisi permintaan produk. Namun, hal berbeda terlihat pada dana pensiun di mana investasinya tumbuh 7,65 persen mencapai Rp1,3 triliun. Ini tanda kesadaran masyarakat akan perlindungan jangka panjang mulai meningkat,” tambah Khoirul.
Pembiayaan dan Pinjaman Daring Solid
Sektor lembaga pembiayaan juga menunjukkan tren yang menggembirakan. Piutang perusahaan pembiayaan tercatat Rp23,3 triliun. Menariknya, industri pergadaian swasta melesat 51,87 persen (YoY) dengan penyaluran Rp126 miliar seiring dengan langkah OJK yang terus mendorong perizinan perusahaan gadai swasta.
Di sektor teknologi finansial, industri Pinjaman Daring (Pindar) atau fintech lending mencatat outstanding pembiayaan Rp3,3 triliun, tumbuh 39,21 persen (YoY) dengan tingkat wanprestasi (TWP90) yang terkendali di angka 1,60 persen.
“Secara keseluruhan, kinerja sektor jasa keuangan di Sumatera Utara tetap solid. OJK akan terus berkomitmen memperluas akses pembiayaan guna mendukung percepatan aktivitas ekonomi daerah,” tutup Khoirul Muttaqien.(Siong)

