Medan, SeputarSumut — Mayoritas bursa saham di kawasan Asia mencatatkan penguatan pada perdagangan hari ini, meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah dilaporkan kembali memburuk setelah Iran melakukan serangan balasan terhadap sejumlah aset Amerika Serikat (AS). Pasar keuangan global tampaknya memilih untuk mengabaikan konflik bersenjata tersebut seiring munculnya kabar positif mengenai rencana gencatan senjata antara Iran dan AS.
Kondisi meredanya kekhawatiran pasar juga tercermin dari pergerakan harga komoditas energi. Harga minyak mentah dunia saat ini mengalami tekanan dan berada di kisaran level 88 dolar AS per barel untuk jenis WTI, serta sekitar 92 dolar AS per barel untuk jenis Brent.
Berita Ekonomi: Pasar Saham Asia Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik, Rupiah Justru Melemah ke 17.800 per US Dolar
Ekonom Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa melandainya harga minyak dunia tersebut memberikan dampak positif bagi pasar modal domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia sempat dibuka melemah ke level 6.112 pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Namun, indeks domestik segera berbalik ke zona hijau, bergerak selaras dengan tren penguatan mayoritas bursa saham di Asia.
”Bursa saham di tanah air merespon positif pelemahan harga minyak mentah sejauh ini. Meskipun IHSG sempat dibuka melemah ke level 6.112, namun sejauh ini berbalik ke zona hijau dan mulai sejalan dengan penguatan mayoritas bursa saham di Asia pada umumnya,” ujar Gunawan Benjamin di Medan, Jumat (29/5/2026).
Kendati pasar saham bergairah, performa kontras justru ditunjukkan oleh nilai tukar mata uang domestik. Rupiah terus menunjukkan kinerja yang mengalami penurunan dan ditransaksikan melemah hingga menyentuh level 17.800 per US Dolar pada perdagangan hari ini. Menurut Gunawan, pelemahan mata uang Garuda ini berpotensi menjadi batu sandungan bagi laju IHSG yang sebenarnya sedang mendapatkan sentimen positif dari regional.
”Pelemahan Rupiah akan membebani IHSG yang pada dasarnya tengah mendapatkan sentimen positif penguatan pasar saham di Asia. Pelemahan Rupiah sendiri lebih banyak dipicu oleh gangguan fiskal yang mulai menggerogoti kemampuan APBN dalam menopang perekonomian,” tutur Gunawan menjelaskan penyebab koreksi mata uang tersebut.
Selain faktor domestik, pelaku pasar juga tetap perlu mewaspadai ketidakpastian geopolitik global yang masih menyisakan potensi volatilitas tinggi di pasar keuangan, serta berpeluang memicu harga minyak untuk tetap bertahan mahal dalam jangka panjang.
Di sisi lain, pergerakan aset aman (safe haven) seperti emas dunia terpantau mulai melandai. Harga emas dunia saat ini ditransaksikan di kisaran 4.501 dolar AS per ons troy, atau setara dengan kisaran 2,58 juta rupiah per gramnya.
”Memburuknya hubungan di antara Iran dengan AS baru-baru ini membebani kinerja emas secara keseluruhan,” pungkas Gunawan mengenai tren penurunan harga logam mulia tersebut.(Siong)


