Jakarta, SeputarSumut — Penasihat utama Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei sekaligus Anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran, Moshen Rezaee, memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat untuk tidak mengganggu kapal-kapal tanker minyak milik Teheran. Ancaman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara di perairan internasional.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Rezaee melalui unggahan di media sosial X pada Minggu, 3 Mei. Ia menekankan bahwa apabila Washington tetap melanjutkan aksi terhadap kapal tanker Iran, maka Amerika Serikat harus siap melihat wilayah tersebut menjadi kuburan bagi pasukan dan kapal-kapal perang mereka.
Dunia Internasional: Pejabat Iran Peringatkan Amerika Serikat Mengenai Potensi Kuburan Kapal Induk dan Pasukan
Dalam pesan tertulisnya, Rezaee mengingatkan kembali peristiwa di Isfahan yang menyisakan puing-puing pesawat sebagai bukti kemampuan militer mereka. Ia secara tajam melabeli Amerika Serikat sebagai satu-satunya entitas bajak laut di dunia yang memiliki kapal induk, namun hal tersebut diklaim tidak akan menyurutkan kemampuan pertahanan Teheran.
Keyakinan Iran untuk melawan kekuatan maritim Washington terlihat dari pernyataan Rezaee yang menyebut bahwa kapasitas mereka dalam menghadapi bajak laut setara dengan kemampuan untuk menenggelamkan kapal perang. Ia menegaskan bahwa pihak Iran tidak akan ragu untuk bertindak apabila Amerika Serikat melakukan langkah-langkah yang merugikan.
Peringatan dari pejabat tinggi Iran ini merupakan reaksi atas pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang membuka peluang untuk menyerang Iran kembali. Sebelum menaiki pesawat Air Force One pada Sabtu, 2 Mei, Trump menyatakan kepada awak media bahwa serangan tersebut mungkin saja dilakukan apabila pihak Teheran menunjukkan perilaku yang buruk.
Respon keras Trump tersebut muncul setelah pihak Iran mengajukan proposal perdamaian yang terdiri dari 14 poin untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung. Di dalam dokumen tersebut, Teheran menawarkan kesepakatan gencatan senjata permanen dengan tenggat waktu selama 30 hari sebagai masa transisi.
Dalam proposal yang sama, Iran menuntut jaminan dari Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menghentikan serangan terhadap wilayah mereka serta mengakhiri seluruh blokade yang dilakukan pada pelabuhan-pelabuhan di Iran. Tuntutan ini menjadi poin krusial dalam upaya negosiasi yang diajukan oleh pihak Teheran.
Namun, Presiden Donald Trump segera menyatakan penolakan melalui platform Truth Social tidak lama setelah berbicara dengan para jurnalis. Trump membela langkah blokade pelabuhan tersebut sebagai tindakan yang ia sebut sangat ramah dan menolak untuk merundingkannya lebih lanjut.
Sebagai penutup pernyataannya, Trump melontarkan kritik tajam terhadap Iran dengan menyebut negara tersebut belum membayar harga yang setimpal atas tindakan mereka selama 47 tahun terakhir. Ia menilai tindakan Iran selama ini telah memberikan dampak negatif yang besar bagi umat manusia serta kondisi dunia secara global.(*/cnni)

