Lhokseumawe, SeputarSumut — Kabar terbaru mengenai pembangunan Hunian Sementara (Huntara) di Kota Lhokseumawe kembali membawa angin segar karena pengerjaannya kini terus dikebut. Hal ini dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kota Lhokseumawe, Taruna Putra Satya, setelah sebelumnya proses konstruksi sempat terhambat akibat kendala material.
“Saat ini progres pembangunan huntara di lokasi diperkirakan sudah mencapai angka 80 persen. Bahkan untuk mempercepat penyelesaiannya, pengerjaan dilakukan secara maraton hingga pukul 04.00 WIB,” ungkap Taruna saat memberikan keterangan pada Kamis, 5 Februari 2026.
Kabar Daerah: Pembangunan Huntara Lhokseumawe Kembali Dikebut
Hambatan teknis yang sebelumnya dialami para pekerja di lapangan, menurut Taruna, berkaitan erat dengan ketersediaan bahan bangunan pokok. Beberapa material seperti seng, rangka baja, hingga GRC Board sempat sulit didapatkan, namun kini seluruh kebutuhan tersebut sudah mulai tercukupi kembali.
Mengenai logistik bangunan tersebut, Taruna menjelaskan bahwa material tetap dipasok dari Kota Medan, namun proses distribusinya kini melalui salah satu toko rekanan terdekat yang berada di wilayah Lhokseumawe. Skema ini membuat kendala lapangan yang sebelumnya muncul kini sudah tidak ditemukan lagi.
“Besar harapan kami agar proses pembangunan ini terus berjalan tanpa hambatan berarti dan selesai tepat pada waktu yang telah ditargetkan. Dengan begitu, masyarakat pengungsi dapat segera menempati hunian tersebut,” tambah Taruna.
Kondisi ini merupakan kemajuan signifikan jika dibandingkan dengan pekan lalu. Pada Sabtu, 31 Januari 2026, Taruna Putra Satya sempat melaporkan bahwa pembangunan huntara bagi warga terdampak bencana masih mengalami keterbatasan stok bahan utama akibat ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Pada saat itu, hasil tinjauan lapangan menunjukkan bahwa stok rangka baja dan GRC board yang biasanya disuplai dari Medan sedang sulit diperoleh. Akibatnya, meski pembangunan di Lhokseumawe tetap berjalan, ritme pengerjaan tidak bisa maksimal karena stok yang tersedia sangat terbatas.
Bahkan, terdapat wacana dari para pelaksana pembangunan huntara di berbagai wilayah Aceh untuk memesan material secara kolektif langsung ke Jakarta guna menyiasati kelangkaan tersebut. Namun, opsi itu sempat dipertimbangkan secara matang karena waktu pengiriman barang dari Jakarta diperkirakan memakan waktu hingga sepuluh hari.
Kendati sempat menghadapi situasi sulit, Taruna menegaskan bahwa pemerintah bersama pihak pelaksana proyek tidak tinggal diam dan terus mencari jalan keluar. Pemerintah tetap memegang komitmen dan rasa optimistis bahwa proyek Huntara di Lhokseumawe ini bisa rampung sepenuhnya sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
“Kehadiran Huntara ini menjadi prioritas dan sangat krusial bagi masyarakat terdampak. Tujuannya agar mereka bisa merasakan rasa aman serta nyaman dalam beraktivitas, terutama saat menjalankan ibadah di bulan Ramadan nanti,” tutupnya.(*/AJNN)


