Kamis, Juli 2, 2026
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
Iklan Honda PT Indako Trading Coy Desktop
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
CURRENCY LIVE
USD/IDR
Memuat...
SGD/IDR
Memuat...
MYR/IDR
Memuat...
SAR/IDR
Memuat...
EUR/IDR
Memuat...
GBP/IDR
Memuat...
JPY/IDR
Memuat...
AED/IDR
Memuat...
AUD/IDR
Memuat...
BND/IDR
Memuat...
CAD/IDR
Memuat...
CHF/IDR
Memuat...
CNH/IDR
Memuat...
CNY/IDR
Memuat...
DKK/IDR
Memuat...
HKD/IDR
Memuat...
KRW/IDR
Memuat...
KWD/IDR
Memuat...
LAK/IDR
Memuat...
NOK/IDR
Memuat...
NZD/IDR
Memuat...
PGK/IDR
Memuat...
PHP/IDR
Memuat...
SEK/IDR
Memuat...
THB/IDR
Memuat...
VND/IDR
Memuat...
Iklan PT Indako Trading Coy
Beranda Ekonomi

Pemerintah Siapkan DME dan CNG Sebagai Pengganti LPG 3 Kg untuk Kurangi Impor

Oleh Redaksi 15
Kamis, 7 Mei 2026
Foto: Pemerintah Indonesia menyiapkan dua alternatif utama pengganti LPG 3 kilogram (kg).(Dok:Pertamina Sumbagut)

Pemerintah Indonesia menyiapkan dua alternatif utama pengganti LPG 3 kilogram (kg).(Dok:Pertamina Sumbagut)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Jakarta, SeputarSumut — Upaya menekan angka impor gas terus dimatangkan oleh Pemerintah Indonesia dengan menyiapkan dua alternatif utama pengganti LPG 3 kilogram (kg). Strategi yang diambil meliputi konversi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) serta pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) dalam kemasan tabung gas 3 kg.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa pengembangan kedua proyek strategis ini merupakan langkah krusial untuk memangkas ketergantungan pada LPG impor yang saat ini mencapai kisaran 7 juta ton per tahun. Tingginya angka impor tersebut berdampak signifikan pada kondisi keuangan negara.

Berita Ekonomi: Pemerintah Siapkan DME dan CNG Sebagai Pengganti LPG 3 Kg untuk Kurangi Impor

Iklan Indako SeputarSumut

Bahlil mengungkapkan bahwa belanja impor LPG menguras devisa negara antara Rp 130 triliun hingga Rp 140 triliun setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, pemerintah mengalokasikan dana sekitar Rp 80 triliun sampai Rp 87 triliun khusus untuk subsidi.

“Devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja, sekitar Rp 130 sampai Rp 140 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia seperti sekarang, itu pasti lebih besar lagi. Dan subsidi kita, itu Rp 80 sampai Rp 87 triliun,” ujar Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Substitusi Melalui Hilirisasi Batu Bara Menjadi DME

Berita Terkait

Bazar UMKM Ramaikan APEKSI di Medan, PWPM Ikut Gerakkan Ekonomi Lokal

Laba Bersih PTPN IV PalmCo Melonjak 90 Persen Capai Rp7,08 Triliun pada 2025

Proyek DME sebenarnya sudah lama direncanakan, namun realisasinya sempat tertunda. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, proyek ini resmi dimulai yang ditandai dengan groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Fase II dengan nilai total investasi Rp 116 triliun. Salah satu fokus utamanya adalah fasilitas produksi DME berkapasitas 1,4 juta ton per tahun yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

“Menurut pendapat saya ini cukup bersejarah dan sangat membanggakan yaitu groundbreaking hilirisasi tahap kedua, yang mencakup 13 proyek strategis hilirisasi senilai kurang lebih Rp 116 triliun meliputi lima proyek di sektor energi 5 proyek di sektor mineral, 3 proyek di sektor pertanian,” kata Prabowo dikutip detikFinance dari peresmian yang dilakukan virtual, Rabu (29/4/2026).

Presiden menekankan bahwa hilirisasi merupakan instrumen penting bagi kebangkitan bangsa. Ia menyebutkan bahwa kebijakan ini merupakan kelanjutan dari pondasi yang telah dibangun oleh para pemimpin terdahulu.

“Kita lakukan di banyak bidang dalam tahun pertama pemerintahan yang saya pimpin yang kita lakukan adalah memperkuat pondasi yang sudah dilakukan oleh presiden-presiden terdahulu dari mulai presiden pertama sampai ke presiden ke-7,” ujar Prabowo.

Secara teknis, DME memiliki karakteristik kimia dan fisika yang menyerupai LPG sehingga memungkinkan penggunaan infrastruktur eksisting seperti tabung dan penyimpanan. Meskipun memiliki kandungan panas (calorific value) 7.749 Kcal/Kg dibandingkan LPG yang sebesar 12.076 Kcal/Kg, DME memiliki massa jenis lebih tinggi dengan perbandingan kalori sekitar 1 berbanding 1,6.

Dari sisi lingkungan, DME dianggap lebih ramah karena mudah terurai di udara, tidak merusak ozon, serta mampu meminimalisir gas rumah kaca hingga 20%. Nyala api yang dihasilkan juga lebih biru, stabil, dan bebas dari sulfur maupun nitrogen oksida (NOx).

Pengembangan CNG sebagai Alternatif yang Lebih Efisien

Selain DME, pemerintah tengah melakukan uji coba penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) untuk tabung ukuran 3 kg. Saat ini, penggunaan CNG sebenarnya sudah berjalan namun masih terbatas pada ukuran tabung 12 kg dan 20 kg yang menyasar sektor hotel serta restoran.

“Tapi kan untuk CNG ini, untuk yang 12 kilogran yang 20 kilogram tu sudah jalan, untuk dipakai di hotel dan restoran. Dan kemudian bagus, dan itu lebih efisien. Tapi kan rakyat kan enggak mungkin kita suruh yang berat-berat itu, 20 kilogra.. Nah, ini yang kita lagi godok. Dan ini sudah kita kerjakan sebenarnya sejak setahun lalu. Tapi untuk mendapatkan teknologi yang 3 kilogramnya, ini lagi kita tes. Gitu, ya,” terang Bahlil di Kementerian ESDM Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Menteri ESDM juga memastikan bahwa CNG nantinya akan mendapatkan subsidi sebagaimana LPG 3 kg agar tetap terjangkau bagi masyarakat luas sesuai instruksi Presiden.

“Arahan Bapak Presiden, baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi yang harus dilakukan untuk rakyat ya,” ujar Bahlil.

Keunggulan utama CNG terletak pada harganya yang diklaim 30% lebih murah daripada LPG karena ketersediaan bahan baku domestik yang melimpah. Hal ini membuat CNG tidak terbebani oleh ongkos transportasi impor yang tinggi.

“CNG itu sudah dilakukan kajian. Harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30% lah lebih murah,” kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).

Bahlil menambahkan bahwa efisiensi CNG didorong oleh keberadaan sumber gas dan industrinya yang berada di dalam negeri. “Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya kan ada di kita, di dalam negeri. Jadi, tidak kita melakukan impor. Cost transportasinya aja udah bisa meng-cover. Dan yang kedua, dia itu berada di hampir semua wilayah yang ada sumber-sumber gasnya, jadi itu jauh lebih efisien,” tutup Bahlil.(*/dtk)

Konten berbayar dibawah ini adalah iklan platform MGID, SeputarSumut.com tidak terkait dengan pembuatan konten ini

BeritaTerbaru

  • Bazar UMKM Ramaikan APEKSI di Medan, PWPM Ikut Gerakkan Ekonomi Lokal
  • Laba Bersih PTPN IV PalmCo Melonjak 90 Persen Capai Rp7,08 Triliun pada 2025
  • HUT ke-436 Kota Medan: Stasiun Medan Layani 913 Ribu Pelanggan Selama Semester Pertama 2026
  • Pilihan Warna Baru New Honda BeAT Meluncur Simak Perubahan Desain dan Daftar Harganya
  • Kecelakaan Lalu Lintas di Tikungan Siahaan Toba Dua Mobil Terlibat Tabrakan dan Dua Pengemudi Dilarikan ke Rumah Sakit
Seputar Sumut

Portal berita terkini Medan & Sumatra Utara. Info ekonomi, politik, daerah, nasional, internasional, hingga hiburan terpercaya di SeputarSumut.com.

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial

@ 2020 SeputarSumut.com