Medan, SeputarSumut — Kebijakan Bank Sentral Tiongkok yang memutuskan untuk tetap mempertahankan besaran bunga pinjaman di level 3% ternyata belum memberikan dampak positif yang signifikan bagi pergerakan pasar saham di kawasan Asia pada awal pekan ini. Kondisi pasar saat ini masih dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, mulai dari kebijakan moneter internasional hingga tensi geopolitik yang belum mereda. Menanggapi situasi tersebut, Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, memberikan pandangannya terkait dinamika pasar keuangan terkini pada Selasa, 21 April 2026.
Gunawan Benjamin menjelaskan bahwa selain langkah dari Bank Sentral Tiongkok, perhatian pelaku pasar kini mulai beralih pada rilis data ekonomi dari Amerika Serikat. Data penjualan ritel Negeri Paman Sam tersebut diprediksi akan menjadi sentimen utama yang menggerakkan pasar keuangan pada sesi perdagangan berikutnya. Di tingkat domestik, para investor juga tengah menanti dengan cermat keputusan kebijakan moneter yang akan diumumkan oleh Bank Indonesia pada esok hari sebagai kompas investasi di dalam negeri.
Berita Ekonomi: Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin Analisis Dampak Bunga Pinjaman Tiongkok dan Sentimen Geopolitik terhadap IHSG
Mengenai situasi global, Gunawan menyoroti pengaruh besar dari dinamika geopolitik di Timur Tengah terhadap psikologi pasar pada perdagangan hari ini. Menurutnya, kondisi di wilayah tersebut tidak menunjukkan perubahan berarti dibandingkan periode sebelumnya. Sikap pesimisme masih menyelimuti para pelaku pasar terhadap peluang terwujudnya gencatan senjata lanjutan.
Fakta bahwa gencatan senjata sebelumnya sempat terganggu oleh memburuknya ketegangan di Selat Hormuz membuat investor semakin berhati-hati. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Gunawan Benjamin dalam analisisnya.
Pasar saat ini masih sangat meragukan kemungkinan adanya kesepakatan damai yang permanen. Situasi di Selat Hormuz yang kian memanas justru mencederai upaya-upaya diplomasi yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga pasar cenderung mengambil posisi aman, ujar Gunawan Benjamin.
Beralih ke performa lantai bursa, mayoritas pasar saham di Asia terpantau bergerak di zona merah pada sesi perdagangan pagi ini. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG tidak luput dari tren negatif tersebut dan dibuka melemah ke posisi 7.560. Namun, pemandangan berbeda terlihat pada nilai tukar Rupiah yang justru menunjukkan penguatan ke level 17.125 per US Dolar. Gunawan menilai stabilitas USD Index yang berada di kisaran 98 dengan kecenderungan menurun menjadi faktor pendukung bagi Rupiah untuk terhindar dari tekanan hebat hari ini.
Sementara itu, instrumen investasi emas dunia mencatatkan kenaikan harga hingga mencapai angka 4.822 dolar AS per ons troy, atau jika dikonversi setara dengan Rp2,66 juta per gram. Kenaikan harga logam mulia ini didorong oleh adanya secercah harapan dari rencana pembicaraan damai putaran kedua antara Iran dan Amerika Serikat. Meski demikian, Gunawan Benjamin mengingatkan adanya risiko volatilitas tinggi pada komoditas ini.
Meskipun harga emas menguat seiring harapan dialog antara Iran dan AS, pelaku pasar sebenarnya masih dibayangi rasa pesimis. Ketidakstabilan ini membuat harga emas sangat rentan terhadap koreksi dalam jangka pendek jika hasil negosiasi tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, pungkas Gunawan Benjamin.(Siong)


