Medan, SeputarSumut — Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,75% memberikan tekanan besar terhadap pasar keuangan domestik. Kebijakan moneter yang diambil menjelang rencana pergantian Gubernur Bank Sentral AS tersebut memperburuk kinerja mata uang Rupiah hingga indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, memberikan analisis mendalam terkait dampak kebijakan tersebut terhadap stabilitas ekonomi nasional dan regional. Dalam keterangannya di Medan pada Kamis, 30 April 2026, beliau menyoroti bagaimana situasi geopolitik dan inflasi global menjadi faktor dominan di balik sikap hati-hati The Fed.
Berita Ekonomi: Rupiah Terpuruk ke Rp17.360 Usai The Fed Tahan Bunga Acuan Ini Analisis Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin
“Kebijakan The Fed yang mempertahankan bunga acuan seakan menegaskan bahwa ancaman inflasi di Amerika Serikat masih tetap tinggi. Kondisi ini diperparah oleh keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam perang dengan Iran yang memicu ketidakpastian global,” ujar Gunawan Benjamin.
Beliau menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama tingginya inflasi adalah lonjakan harga minyak mentah dunia. Sikap The Fed yang belum menurunkan suku bunga menunjukkan kehati-hatian yang luar biasa, sehingga pasar mulai melihat adanya kecenderungan kebijakan bank sentral di seluruh dunia yang akan bersifat hawkish atau tetap ketat.
Dampak langsung dari sentimen tersebut terasa pada nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan melemah ke level 17.360 per US Dolar pada pagi ini. Gunawan Benjamin memperingatkan bahwa kinerja mata uang Garuda ini sudah sangat dekat dengan level psikologis baru yang mengkhawatirkan.
“Nilai tukar Rupiah sedikit lagi menyentuh level 17.400 per US Dolar. Pelemahan yang tajam ini akan memberikan multiplier effect atau efek berganda yang besar, mulai dari tekanan pada fiskal negara, pelemahan IHSG, hingga potensi lonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari,” tegas Gunawan.
Kondisi pasar modal juga terpantau tertekan akibat sentimen negatif ini. IHSG yang sempat dibuka menguat di level 7.103 pada sesi perdagangan pagi, justru berbalik arah ke zona merah. Saat ini, IHSG terus melemah dan mendekati level psikologis 7.000. Gunawan menilai peluang IHSG untuk menembus ke bawah level tersebut sangat terbuka lebar, meskipun bursa saham di Asia bergerak variatif dengan kecenderungan menguat.
Pelemahan Rupiah menjadi beban utama bagi pergerakan IHSG, ditambah dengan harga minyak mentah dunia yang masih tertahan di atas level 100 dolar AS per barel. Saat ini, minyak jenis WTI ditransaksikan di kisaran 109 dolar AS per barel, sementara jenis Brent berada di angka 112 dolar AS per barel.
Di sisi lain, harga emas dunia terpantau relatif stabil di kisaran 4.568 dolar AS per ons troy, atau setara dengan sekitar 2,56 juta rupiah per gram. Gunawan Benjamin melihat adanya kekuatan teknikal pada komoditas logam mulia ini di tengah gempuran kebijakan moneter AS.
“Secara teknikal, harga emas diprediksi akan mampu bertahan dari tekanan fundamental, terutama dari keputusan The Fed yang menahan suku bunga. Emas masih menjadi pilihan di tengah tingginya risiko inflasi dan ketidakpastian perang,” pungkas Gunawan Benjamin.(Siong)


