Kamis, Juli 2, 2026
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
Iklan Honda PT Indako Trading Coy Desktop
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
CURRENCY LIVE
USD/IDR
Memuat...
SGD/IDR
Memuat...
MYR/IDR
Memuat...
SAR/IDR
Memuat...
EUR/IDR
Memuat...
GBP/IDR
Memuat...
JPY/IDR
Memuat...
AED/IDR
Memuat...
AUD/IDR
Memuat...
BND/IDR
Memuat...
CAD/IDR
Memuat...
CHF/IDR
Memuat...
CNH/IDR
Memuat...
CNY/IDR
Memuat...
DKK/IDR
Memuat...
HKD/IDR
Memuat...
KRW/IDR
Memuat...
KWD/IDR
Memuat...
LAK/IDR
Memuat...
NOK/IDR
Memuat...
NZD/IDR
Memuat...
PGK/IDR
Memuat...
PHP/IDR
Memuat...
SEK/IDR
Memuat...
THB/IDR
Memuat...
VND/IDR
Memuat...
Iklan PT Indako Trading Coy
Beranda Ekonomi

Rupiah Terpuruk ke Rp17.360 Usai The Fed Tahan Bunga Acuan Ini Analisis Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin

Oleh Redaksi 15
Kamis, 30 April 2026
Foto: ilustrasi ihsg 44.(istimewa)

ilustrasi ihsg 44.(istimewa)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Medan, SeputarSumut — Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,75% memberikan tekanan besar terhadap pasar keuangan domestik. Kebijakan moneter yang diambil menjelang rencana pergantian Gubernur Bank Sentral AS tersebut memperburuk kinerja mata uang Rupiah hingga indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, memberikan analisis mendalam terkait dampak kebijakan tersebut terhadap stabilitas ekonomi nasional dan regional. Dalam keterangannya di Medan pada Kamis, 30 April 2026, beliau menyoroti bagaimana situasi geopolitik dan inflasi global menjadi faktor dominan di balik sikap hati-hati The Fed.

Berita Ekonomi: Rupiah Terpuruk ke Rp17.360 Usai The Fed Tahan Bunga Acuan Ini Analisis Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin

Iklan Indako SeputarSumut

“Kebijakan The Fed yang mempertahankan bunga acuan seakan menegaskan bahwa ancaman inflasi di Amerika Serikat masih tetap tinggi. Kondisi ini diperparah oleh keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam perang dengan Iran yang memicu ketidakpastian global,” ujar Gunawan Benjamin.

Beliau menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama tingginya inflasi adalah lonjakan harga minyak mentah dunia. Sikap The Fed yang belum menurunkan suku bunga menunjukkan kehati-hatian yang luar biasa, sehingga pasar mulai melihat adanya kecenderungan kebijakan bank sentral di seluruh dunia yang akan bersifat hawkish atau tetap ketat.

Dampak langsung dari sentimen tersebut terasa pada nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan melemah ke level 17.360 per US Dolar pada pagi ini. Gunawan Benjamin memperingatkan bahwa kinerja mata uang Garuda ini sudah sangat dekat dengan level psikologis baru yang mengkhawatirkan.

Berita Terkait

Bazar UMKM Ramaikan APEKSI di Medan, PWPM Ikut Gerakkan Ekonomi Lokal

Laba Bersih PTPN IV PalmCo Melonjak 90 Persen Capai Rp7,08 Triliun pada 2025

“Nilai tukar Rupiah sedikit lagi menyentuh level 17.400 per US Dolar. Pelemahan yang tajam ini akan memberikan multiplier effect atau efek berganda yang besar, mulai dari tekanan pada fiskal negara, pelemahan IHSG, hingga potensi lonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari,” tegas Gunawan.

Kondisi pasar modal juga terpantau tertekan akibat sentimen negatif ini. IHSG yang sempat dibuka menguat di level 7.103 pada sesi perdagangan pagi, justru berbalik arah ke zona merah. Saat ini, IHSG terus melemah dan mendekati level psikologis 7.000. Gunawan menilai peluang IHSG untuk menembus ke bawah level tersebut sangat terbuka lebar, meskipun bursa saham di Asia bergerak variatif dengan kecenderungan menguat.

Pelemahan Rupiah menjadi beban utama bagi pergerakan IHSG, ditambah dengan harga minyak mentah dunia yang masih tertahan di atas level 100 dolar AS per barel. Saat ini, minyak jenis WTI ditransaksikan di kisaran 109 dolar AS per barel, sementara jenis Brent berada di angka 112 dolar AS per barel.

Di sisi lain, harga emas dunia terpantau relatif stabil di kisaran 4.568 dolar AS per ons troy, atau setara dengan sekitar 2,56 juta rupiah per gram. Gunawan Benjamin melihat adanya kekuatan teknikal pada komoditas logam mulia ini di tengah gempuran kebijakan moneter AS.

“Secara teknikal, harga emas diprediksi akan mampu bertahan dari tekanan fundamental, terutama dari keputusan The Fed yang menahan suku bunga. Emas masih menjadi pilihan di tengah tingginya risiko inflasi dan ketidakpastian perang,” pungkas Gunawan Benjamin.(Siong)

Konten berbayar dibawah ini adalah iklan platform MGID, SeputarSumut.com tidak terkait dengan pembuatan konten ini

BeritaTerbaru

  • Bazar UMKM Ramaikan APEKSI di Medan, PWPM Ikut Gerakkan Ekonomi Lokal
  • Laba Bersih PTPN IV PalmCo Melonjak 90 Persen Capai Rp7,08 Triliun pada 2025
  • HUT ke-436 Kota Medan: Stasiun Medan Layani 913 Ribu Pelanggan Selama Semester Pertama 2026
  • Pilihan Warna Baru New Honda BeAT Meluncur Simak Perubahan Desain dan Daftar Harganya
  • Kecelakaan Lalu Lintas di Tikungan Siahaan Toba Dua Mobil Terlibat Tabrakan dan Dua Pengemudi Dilarikan ke Rumah Sakit
Seputar Sumut

Portal berita terkini Medan & Sumatra Utara. Info ekonomi, politik, daerah, nasional, internasional, hingga hiburan terpercaya di SeputarSumut.com.

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial

@ 2020 SeputarSumut.com