Jakarta, SeputarSumut — Langkah mitigasi di sejumlah titik rawan bencana susulan di wilayah terdampak hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini diperkuat oleh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera. Tindakan ini diambil demi memastikan proses pemulihan pascabencana berjalan beriringan dengan peningkatan keselamatan masyarakat serta ketahanan wilayah untuk jangka panjang.
Implementasi dari upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui kunjungan lapangan yang dilakukan oleh Tim Satgas PRR Aceh bersama Balai Kementerian Pekerjaan Umum, yaitu Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh dan PT Hutama Karya. Peninjauan yang berlangsung pada Jumat (12/6) ini menyasar kawasan Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah dan lokasi sinkhole di Kampung Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.
Lintas Nasional: Satgas PRR Pascabencana Sumatera Perkuat Langkah Mitigasi di Wilayah Rawan Aceh hingga Sumbar
Kedua titik lokasi peninjauan tersebut mendapat perhatian khusus lantaran dinilai masih menyimpan risiko lanjutan pascabencana. Kerusakan jalan dan jembatan di kawasan Enang-Enang dipicu oleh adanya longsoran tebing dan bencana banjir bandang. Sementara itu, fenomena tanah amblas atau sinkhole yang terjadi di Pondok Balek masih memiliki potensi untuk meluas, sehingga mengancam kawasan lahan pertanian, akses jalan, hingga jaringan kelistrikan.
Akses mobilitas masyarakat sebelumnya sempat terputus akibat kerusakan jalan dan jembatan di kawasan Tajuk Enang-Enang yang terletak di ruas Jalan Raya Bireuen-Takengon, tepatnya di jalur Simpang Lancang yang menjadi penghubung antara Desa Alur Cuncin dan Desa Menderak. Selama ini, jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi transportasi penting yang menghubungkan wilayah Gayo dengan kawasan pesisir utara Aceh, sekaligus bertindak sebagai jalur distribusi utama bagi hasil pertanian dan perkebunan.
Meskipun warga setempat telah membuka akses secara swadaya agar kendaraan dapat melintas dengan kapasitas terbatas, pihak BPJN Aceh memberikan peringatan bahwa jalur tersebut masih mempunyai tingkat risiko yang tinggi. Faktor utama yang perlu diwaspadai di lokasi ini meliputi kondisi struktur tanah yang labil, medan yang curam, minimnya sarana penerangan, serta adanya kerusakan serius pada bagian jembatan eksisting berupa fondasi yang patah dan miring.
Pihak Satgas PRR memberikan penilaian bahwa penanganan di kawasan Enang-Enang wajib dilaksanakan secara hati-hati dengan selalu mengedepankan kajian teknis serta geologi. Berdasarkan pandangan tim, pembukaan akses jalan sementara dianggap tidak cukup apabila tidak dibarengi dengan jaminan keamanan jalur bagi masyarakat pengguna jalan. Oleh sebab itu, jalinan koordinasi antara BPJN, Balai Wilayah Sungai (BWS), pemerintah daerah, serta instansi terkait terus diperkuat untuk menangani masalah jalan, jembatan, tebing, hingga aliran sungai di area sekitar lokasi.
Pemerintah juga telah menyiapkan rencana jangka panjang berupa pembangunan jembatan shortcut yang ditargetkan mulai dikerjakan pada tahun 2027 mendatang. Sembari menunggu dimulainya proyek pembangunan permanen tersebut, BPJN Aceh melalui Satuan Kerja Wilayah 3 berupaya melakukan pemeliharaan terhadap jalan alternatif demi menjaga konektivitas jalur lintas tengah menuju ke arah Takengon.
Fokus perhatian yang serupa turut diarahkan pada fenomena sinkhole yang melanda Kampung Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Merujuk pada data sementara milik BPJN, lubang amblas yang terbentuk di lokasi tersebut diperkirakan mempunyai kedalaman hingga mencapai 85 meter dengan total luas kawasan sekitar tiga hektare. Adanya fenomena alam ini telah mengakibatkan hilangnya lahan pertanian milik warga, amblasnya menara listrik, serta terputusnya akses jalan di area sekitar lokasi bencana.
Melalui laporan kegiatannya, Satgas PRR memaparkan bahwa BPJN bersama PT Hutama Karya menemukan fakta mengenai struktur tanah di area sinkhole yang didominasi oleh material bekas abu vulkanik dengan kandungan batuan yang sangat minim.
“Kondisi tersebut membuat material bawah tanah lebih mudah terkikis, terutama saat curah hujan tinggi dan dipengaruhi aktivitas gempa,” tulis Satgas PRR dalam laporan kegiatannya.
Di samping itu, tim di lapangan juga mencatat terjadinya perubahan arah dari perkembangan sinkhole tersebut. Apabila sebelumnya arah pelebaran cenderung menuju ke bagian hulu Sungai Peusangan, saat ini pergerakannya terpantau beralih mengarah ke Danau Laut Tawar. Berdasarkan kondisi tersebut, Satgas PRR memberikan penekanan bahwa pelaksanaan pemantauan harian, pembaruan rambu-rambu peringatan, serta pembatasan akses warga untuk mendekati zona berbahaya menjadi langkah mendesak yang harus dilakukan guna mencegah timbulnya korban jiwa.(*/cnni)

