Jakarta, SeputarSumut — Sebanyak sembilan orang dilaporkan meninggal dunia dan 11 orang lainnya masih dalam pencarian akibat bencana banjir bandang yang menerjang beberapa wilayah di Tiongkok sejak akhir pekan lalu. Berdasarkan data yang dihimpun pada Senin (25/5), bencana hidrometeorologi ini juga memaksa sekitar 2.000 penduduk setempat diungsikan ke lokasi yang lebih aman.
Peristiwa ini bermula saat hujan lebat dengan intensitas ekstrem mengguyur kawasan di distrik Yongchuan, kota Chongqing, sejak Sabtu malam hingga Minggu. Kantor berita Tiongkok Xinhua mengabarkan bahwa guyuran hujan ekstrem tersebut memicu terjadinya banjir bandang serta tanah longsor. Hingga saat ini, proses penyelamatan masih terus diupayakan di lapangan mengingat banyak kota dan kecamatan yang mengalami kerusakan serius. Berdasarkan dokumentasi yang ada, aliran air bercampur lumpur terlihat menerjang wilayah pemukiman warga, sementara sejumlah alat berat berupa ekskavator telah dikerahkan untuk mendukung kelancaran operasi penyelamatan.
Dunia Internasional: Sembilan Orang Tewas dan 11 Warga Hilang Akibat Banjir Bandang yang Menerjang Tiongkok
Fenomena hujan dengan intensitas tinggi seperti ini memang kerap melanda berbagai wilayah di Tiongkok. Catatan dari Pusat Iklim Nasional menunjukkan bahwa sejak awal musim pada 1 April, rata-rata curah hujan di sana sudah menyentuh angka 110,1 militer atau berada di kisaran 18,6 persen di atas ambang batas normal. Pakar di Pusat Iklim Nasional, Sun Mingyang, menyampaikan bahwa sebaran hujan ekstrem tersebut meluas ke seluruh area Tiongkok bagian utara dan selatan.
“Sebanyak 76 stasiun meteorologi tingkat nasional mencatat curah hujan harian yang memecahkan rekor,” kata Sun dalam laporan China Daily.
Lonjakan rekor curah hujan harian tersebut salah satunya terjadi di wilayah Enping, provinsi Guangdong, dengan angka mencapai 597,7 mm dalam kurun waktu satu hari. Selain itu, pelampauan rekor curah hujan harian juga terdeteksi di Jingzhou provinsi Hubei, Shangyou di provinsi Jiangxi, serta Guigang yang berada di wilayah otonom Guangxi Zhuang.
Mengenai pemicu situasi tersebut, ahli meteorologi lain di Pusat Iklim Nasional, Gao Hui, memaparkan bahwa tingginya curah hujan saat ini sebagian besar disebabkan oleh efek kombinasi dari beberapa sistem atmosfer utama. Sepanjang pekan lalu, tekanan tinggi subtropis Pasifik barat yang menjadi sistem cuaca utama pemengaruh Asia Timur terpantau bertahan sangat kuat dengan posisi yang bergeser lebih jauh ke arah barat dan utara dari kondisi normalnya.
“Sisi barat sistem tersebut terus-menerus mengangkut udara hangat dan lembap dari samudra tropis ke pedalaman China, yang membantu memicu curah hujan lebat,” kata Gao.(*/cnni)


