Medan, SeputarSumut — Laju inflasi Amerika Serikat yang tercatat melampaui ekspektasi serta kebijakan rebalancing indeks MSCI menjadi faktor utama yang menekan kinerja pasar keuangan domestik.
Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa rilis data inflasi Amerika Serikat pada bulan April menunjukkan kenaikan sebesar 3,8 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara inflasi inti tercatat berada di level 2,8 persen secara yoy.
Berita Ekonomi: Sentimen Negatif Inflasi Amerika Serikat dan Rebalancing MSCI Tekan Kinerja IHSG Serta Rupiah
Realisasi angka inflasi yang cukup tinggi tersebut memicu proyeksi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed akan mengambil sikap yang lebih hawkish dalam menentukan kebijakan moneter selanjutnya.
“Dengan realisasi inflasi sebesar itu, The Fed atau Bank Sentral AS diproyeksikan akan lebih bersikap hawkish dalam keputusan moneter selanjutnya. Setidaknya sepkulasi yang berkembang mengarah pada kemungkinan The Fed akan mempertahankan bunga acuan,” ujar Gunawan Benjamin di Medan pada Rabu, 13 Mei 2026.
Selain tekanan dari data ekonomi global, pasar modal Indonesia juga dibayangi sentimen negatif akibat langkah rebalancing yang dilakukan oleh Morgan Stanley Capital Indonesia (MSCI). Lembaga pemeringkat saham internasional tersebut memutuskan untuk mengeluarkan enam emiten dari komposisi MSCI Indonesia Index tanpa adanya emiten baru yang masuk untuk menggantikannya dalam komponen indeks tersebut.
Kombinasi sentimen negatif ini berdampak langsung pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terpantau langsung merosot pada pembukaan perdagangan.
Gunawan memaparkan bahwa indeks berada di posisi 6.763 dan memiliki potensi besar untuk menguji level psikologis di angka 6.700. Menurutnya, terdapat banyak faktor eksternal yang secara bersamaan memberikan tekanan pada kinerja sektor keuangan di tanah air sepanjang hari ini.
Kondisi tertekan tidak hanya dialami oleh pasar saham, namun juga merembet ke nilai tukar mata uang Garuda. Rupiah dilaporkan mengalami pelemahan hingga menyentuh level 17.535 per Dolar AS akibat besarnya tekanan dari kenaikan inflasi di negeri Paman Sam tersebut.
“Rupiah melemah ditengah tekanan besar dari kenaikan inflasi di AS. Laju tekanan inflasi di AS berpeluang memperlebar selisih bunga acuan The Fed dan BI kedepan. Sehingga dalam jangka pendek Rupiah akan melemah terhadap US Dolar, hingga pasar nantinya akan melihat arah baru kebijakan suku bunga kedepan,” tuturnya.
Di tengah gejolak pasar keuangan, harga emas dunia terpantau bergerak relatif lebih stabil dan diperdagangkan pada kisaran level 4.700 per ons troy, atau setara dengan kisaran harga 2,66 juta per gram. Gunawan menjelaskan bahwa meskipun komoditas emas sebenarnya turut terpapar oleh sentimen negatif dari kenaikan inflasi di Amerika Serikat, daya tahannya tetap terjaga berkat faktor lain.
Ia menambahkan bahwa peran otoritas moneter global menjadi kunci bertahannya nilai logam mulia tersebut di pasar internasional.
“Harga emas pada dasarnya juga terpapar sentimen negatif kenaikan inflasi AS. Namun belakangan ini akumulasi emas oleh Bank Sentral membuat emas lebih mampu bertahan ditengah kenaikan inflasi,” jelasnya menutup analisis mengenai kondisi pasar terkini.(Siong)


