Jakarta, SeputarSumut — Rentetan serangan yang diluncurkan oleh militer Israel dilaporkan telah merenggut sedikitnya 32 korban jiwa di beberapa wilayah Lebanon sejak hari Minggu (21/6) pagi waktu setempat. Gempuran mematikan tersebut ironisnya terjadi di tengah situasi gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Salah satu titik lokasi yang menjadi sasaran hantaman bom adalah kawasan Qennarit yang terletak di bagian selatan Lebanon. Seorang saksi mata di lokasi kejadian, Abbas Ezzedine, mengungkapkan bahwa sebuah serangan udara menghantam bangunan rumah tinggal sekitar pukul 08.30 pagi saat para penghuninya yang merupakan warga sipil masih dalam kondisi tertidur.
Dunia Internasional: Serangan Militer Israel Tewaskan 32 Warga Lebanon di Tengah Gencatan Senjata dan Picu Ancaman Penutupan Selat Hormuz oleh Iran
“Ada serangan udara pagi ini ke rumah ini pukul 08.30. Rumah itu menjadi target pesawat tempur Israel. Di dalamnya ada orang-orang yang sedang tidur, anak-anak, seorang perempuan, dua anaknya, suaminya, dan seorang warga sipil muda. Semuanya warga sipil,” tutur Abbas sebagaimana dikutip dari unggahan akun Instagram Al Jazeera pada Minggu (21/6).
Lebih lanjut, Abbas menyatakan bahwa masyarakat setempat pada dasarnya berharap bisa merasakan rasa aman setelah adanya kesepakatan gencatan senjata. Kendati demikian, aksi penyerangan justru kembali berulang dan menyasar langsung area permukiman padat warga.
Di sisi lain, pihak militer Israel mengeluarkan klaim bahwa operasi serangan tersebut dieksekusi setelah kelompok Hezbollah terpantau meluncurkan lebih dari 50 proyektil yang diarahkan ke basis pasukan Israel pada malam sebelumnya.
Berdasarkan data harian yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Lebanon, rangkaian agresi militer Israel secara akumulatif telah menewaskan lebih dari 4.000 jiwa di Lebanon terhitung sejak tanggal 2 Maret. Memanasnya eskalasi keamanan di wilayah Lebanon selatan ini juga memaksa ribuan penduduk berbondong-bondong meninggalkan kota Tyre pasca keluarnya perintah evakuasi paksa oleh pihak militer Israel.
Merespons perkembangan serangan mematikan tersebut, pemerintah Iran dikabarkan mengumumkan rencana untuk kembali melakukan penutupan pada jalur Selat Hormuz. Pihak Teheran juga melayangkan tuntutan agar Israel segera menghentikan aksi invasi di Lebanon, di mana desakan ini menjadi bagian dari poin kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Kawasan Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai jalur pelayaran yang sangat strategis karena memegang peranan sebagai rute krusial bagi lalu lintas perdagangan komoditas minyak global. Adanya ancaman pemblokiran terhadap jalur laut internasional tersebut dikhawatirkan memiliki potensi besar untuk memperluas dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.(*/cnni}


