Aceh Tamiang, SeputarSumut – Kawasan pemukiman penduduk di Kampung (Desa) Raja, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang kembali terendam air sungai yang meluap. Musibah ini terjadi setelah tanggul sungai di wilayah tersebut dilaporkan jebol dan belum mendapatkan perbaikan secara permanen.
Tokoh pemuda wilayah Bendahara Hilir, M Daud, mengonfirmasi kondisi tersebut pada Kamis (1/1). Menurutnya, warga di Kampung Raja kembali menghadapi banjir karena infrastruktur tanggul yang rusak belum sempat diperbaiki oleh pihak terkait.
Kabar Daerah: Tanggul Jebol, Banjir Kembali Rendam Aceh Tamiang
Kronologi jebolnya tanggul di Kampung Raja terjadi pada Kamis sore sekitar pukul 18.00 WIB. Memasuki pukul 21.00 WIB, debit air dilaporkan semakin tinggi dan luapan banjir terus meluas menjangkau area yang lebih jauh.
Lokasi kerusakan tanggul ini berada tepat di akses jalan penghubung antara Kecamatan Bendahara dan Kecamatan Seruway. Akibatnya, air melimpah ke jalan raya serta merendam kembali pemukiman warga yang sebelumnya sudah hancur akibat terjangan banjir bandang.
M Daud memaparkan dampak memprihatinkan dari jebolnya tanggul ini bagi warga setempat. Saat ini, banyak warga Kampung Raja masih tinggal di tenda pengungsian, namun lokasi pengungsian tersebut kini justru kembali terendam banjir.
Hujan deras yang mengguyur wilayah pegunungan diduga menjadi pemicu banjir susulan ini. Warga memperkirakan luapan air merupakan kiriman dari wilayah hulu sungai yang mengalir deras ke arah pemukiman mereka.
Kondisi pesisir Kecamatan Bendahara memang rentan karena banyak titik tanggul yang rusak sejak banjir bandang pada 26 November 2025 lalu. M Daud mengungkapkan bahwa perbaikan terhadap titik-titik kerusakan tersebut belum sempat dilaksanakan secara menyeluruh.
Sejumlah titik tanggul yang mengalami kerusakan parah akibat bencana bulan November lalu tersebar di beberapa lokasi. Selain di Kampung Raja, titik rawan lainnya meliputi wilayah Lubuk Batil dan Desa Marlempang.
Kecemasan kini menyelimuti warga setiap kali mendengar informasi mengenai hujan lebat di wilayah hulu. M Daud menambahkan bahwa tanpa tanggul penahan yang berfungsi baik, kampung-kampung di wilayah hilir akan terus menjadi sasaran banjir kiriman.
Di tempat terpisah, luapan sungai dari objek wisata pemandian Gunung Pandan juga sempat merendam Desa Selamat, Kecamatan Tenggulun. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (31/12) malam akibat curah hujan yang tinggi di wilayah atas.
Meskipun demikian, Datok Penghulu (Kepala Desa) Kampung Selamat, Suherman, melaporkan bahwa banjir di wilayahnya tidak bertahan lama. Air yang masuk ke desa tersebut terpantau surut hanya dalam hitungan jam.
Suherman menegaskan bahwa banjir tersebut hanya sekadar melintas dan tidak menimbulkan korban jiwa. Sejauh ini, warga Desa Selamat tidak ada yang mengungsi karena air hanya menggenangi kawasan sekitar tower menuju arah Gunung Pandan.(*/cnni)


