Jakarta, SeputarSumut — Setiap kali perayaan Tahun Baru Imlek tiba, suasana lingkungan sekitar biasanya akan berubah secara instan menjadi serba merah, yang mungkin sering Anda sadari. Dekorasi di pusat perbelanjaan, deretan lampion di jalanan, hingga busana yang dikenakan oleh keluarga Tionghoa semuanya tampak didominasi oleh warna-warna cerah tersebut.
Di balik kemeriahannya, terdapat filosofi mendalam serta legenda kuno yang menjelaskan mengapa warna merah dan kuning keemasan selalu digunakan, bukan sekadar untuk estetika visual. Kedua warna ini memiliki makna simbolis yang sangat kuat dalam tradisi masyarakat Tionghoa.
Kilas Hiburan: Warna Merah Ubah Suasana Tahun Baru Imlek
Waktu yang sakral untuk berkumpul bersama keluarga besar dan menghormati para leluhur adalah esensi dari Tahun Baru Imlek, sebagaimana dijelaskan dalam jurnal Mitos Tradisi Perayaan Tahun Baru Imlek karya Jepriyanti Br Tambunan, dkk.
Lambang kebahagiaan, kegembiraan, serta keberuntungan menjadi alasan utama mengapa warna merah dipilih secara khusus untuk perayaan tahunan ini. Sementara itu, sentuhan aksen kuning keemasan yang kerap mendampinginya merupakan representasi dari kekayaan dan kemegahan.
Harapan besar agar tahun yang baru dapat memberikan kehidupan yang lebih cerah serta manfaat yang lebih baik tertuang dalam penggunaan kedua warna ikonik tersebut.
Legenda Nian, Alasan Si Raksasa Takut Merah
Tahukah Anda bahwa pada zaman dahulu, warna merah sebenarnya difungsikan sebagai senjata untuk mengusir monster? Berdasarkan cerita kuno, terdapat seekor raksasa mengerikan bernama Nian yang selalu menampakkan diri setiap akhir musim dingin.
Raksasa Nian sering turun dari gunung untuk mengganggu ternak, mengambil hasil panen, bahkan masuk ke pemukiman penduduk. Awalnya, warga desa hanya bisa pasrah dengan menyiapkan makanan di depan pintu agar Nian merasa kenyang dan tidak mencelakai manusia.
Namun, sebuah peristiwa tidak terduga terjadi dan mengubah cara warga menghadapi makhluk tersebut. Mereka menyaksikan Nian lari tunggang langgang karena ketakutan setelah berpapasan dengan seorang anak kecil yang memakai baju merah.
Kesadaran warga mulai muncul sejak hari itu bahwa suara bising dan warna merah adalah kelemahan utama Nian. Inilah alasan mengapa masyarakat rutin memasang lentera merah dan menempelkan kertas merah di pintu setiap kali menyambut pergantian tahun.
Secara harfiah, istilah menyambut tahun baru yaitu Guò Nián memiliki arti “Mengusir Nian”. Mengingat Imlek adalah momen untuk memulai awal yang positif, pemilihan warna pakaian yang dikenakan pun menjadi hal yang sangat krusial.
Disarankan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hitam atau putih selama merayakan hari raya ini. Dalam sudut pandang budaya Tionghoa, kedua warna tersebut justru identik dengan suasana duka cita atau perasaan sedih.
Kita tentu tidak ingin membawa aura suram ke dalam hari kemenangan yang seharusnya penuh semangat. Dengan memilih warna merah, penampilan Anda tidak hanya terlihat lebih segar, tetapi Anda juga ikut menjaga makna mendalam dari tradisi yang indah ini.(*/rri)


