Jakarta, SeputarSumut – Laporan terbaru menunjukkan sebanyak 2.403 orang meninggal dunia dalam gelombang demonstrasi yang melanda Iran pada Selasa (13/1).
Angka kematian tersebut, menurut laporan dari organisasi hak asasi manusia yang berpusat di Amerika Serikat, HRANA, mencakup pula korban dari kalangan anak di bawah usia 18 tahun.
Dunia Internasional: 2.403 Orang Tewas dalam Demo Iran
Data ini menunjukkan adanya lonjakan drastis jumlah korban jiwa dalam aksi protes yang kian memanas di Iran. Dalam catatan sebelumnya, HRANA melaporkan angka kematian sebanyak 1.850 jiwa, meskipun hingga kini CNN belum dapat melakukan verifikasi secara independen atas kebenaran laporan tersebut.
Kericuhan besar-besaran ini sejatinya telah mengguncang Iran sejak 28 Desember lalu. Bentrokan antara aparat keamanan dan massa tak terhindarkan setelah unjuk rasa yang semula damai berubah menjadi anarkis.
Aksi pembakaran terhadap sejumlah gedung pemerintah serta rumah ibadah dilaporkan terjadi di tengah kekacauan. Selain itu, banyak pengunjuk rasa yang terekam melakukan aksi merobek bendera nasional Iran sebagai bentuk protes.
Krisis ekonomi yang mencekik rakyat pada awalnya menjadi pemicu utama gerakan ini. Namun seiring berjalannya waktu, tuntutan massa meluas menjadi desakan untuk menggulingkan rezim Ayatollah Ali Khamenei.
Pemerintah Iran sendiri telah mengeluarkan peringatan keras bahwa aksi demonstrasi ini telah ditunggangi oleh Amerika Serikat dan Israel. Kedua negara tersebut memang sejak awal menyatakan dukungan terhadap upaya rakyat Iran dalam meruntuhkan kekuasaan Khamenei.
Situasi kian genting setelah Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan berbagai opsi intervensi, termasuk kemungkinan serangan militer. Menanggapi ancaman tersebut, pihak Iran menyatakan kesiapan mereka untuk berperang dan mengancam akan melancarkan serangan antisipasi jika AS dan Israel nekat melakukan campur tangan lebih jauh.(*/cnni)


