Jakarta, SeputarSumut — Setidaknya 200 orang dilaporkan tewas sepanjang akhir pekan ini akibat rangkaian serangan terkoordinasi yang dilakukan kelompok pemberontak di Provinsi Balochistan, Pakistan.
Kekerasan berdarah ini tercatat sebagai salah satu insiden terburuk yang pernah menghantam wilayah tersebut dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir.
Dunia Internasional: 200 Orang Tewas dalam Serangan Balochistan
Sarfaraz Bugti selaku Ketua Menteri Balochistan memberikan konfirmasi pada Minggu (1/2) bahwa total korban jiwa meliputi 17 personel keamanan, 31 warga sipil, serta 145 anggota milisi yang dilumpuhkan dalam operasi balasan sepanjang Jumat dan Sabtu.
Berbagai titik strategis menjadi sasaran utama dalam rangkaian serangan yang terencana matang ini, mencakup instalasi paramiliter, bank, penjara, hingga kantor polisi. Pihak militer Pakistan mengklaim telah menewaskan hampir 100 militan hanya dalam kurun waktu satu hari pada Sabtu kemarin.
“Otoritas saat ini telah mengamankan jenazah 145 teroris yang tewas,” ungkap Bugti sebagaimana dikutip dari Independent. Ia menekankan bahwa demi mencegah jatuhnya korban dari kalangan warga yang tidak bersalah, operasi militer dijalankan secara terbatas berdasarkan data intelijen.
Tanggung jawab atas serangan yang dinamai “Operasi Badai Hitam” tersebut diklaim oleh kelompok Tentara Pembebasan Baloch (BLA). Aksi kekerasan ini pecah secara serentak di 12 titik berbeda, termasuk di wilayah Noshki, Mastung, Gwadar, dan Quetta.
Provinsi Balochistan sendiri merupakan wilayah termiskin di Pakistan meski memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, sehingga sejak lama terjebak dalam pemberontakan separatis demi menuntut otonomi yang lebih besar.
Pemicu utama konflik yang telah berlarut-larut selama puluhan tahun di sana adalah kuatnya sentimen nasionalis etnis Baloch serta tuduhan adanya korupsi akut di tubuh pemerintahan daerah.
Tuduhan rutin dalam narasi keamanan Islamabad kembali muncul saat militer Pakistan menuding bahwa aksi BLA tersebut mendapat “sponsor dari India”. Namun, pihak New Delhi bereaksi cepat dengan memberikan bantahan keras atas tuduhan itu.
“Tuduhan tak berdasar dari Pakistan kami tolak mentah-mentah,” tegas Randhir Jaiswal, juru bicara Kementerian Luar Negeri India.
Pihak India balik menuduh bahwa Islamabad sengaja mencoba mengalihkan perhatian publik dari tuntutan rakyat di wilayah tersebut serta berbagai permasalahan internal mereka sendiri.
Sementara itu, dukungan internasional datang dari Amerika Serikat melalui Natalie Baker selaku Kuasa Usaha (Charge d’Affaires), yang menyatakan solidaritasnya serta menegaskan komitmen Washington untuk tetap menjadi mitra setia Pakistan dalam menjaga stabilitas dan perdamaian kawasan.(*/cnni)


