Jakarta, SeputarSumut – Sebanyak 62 kasus super flu atau influenza dengan daya tular tinggi dilaporkan telah terdeteksi di berbagai wilayah Indonesia, menurut pernyataan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus.
“Dari total sekitar 62 kasus yang tercatat, Provinsi Jawa Timur menjadi wilayah dengan sebaran tertinggi yaitu sebanyak 35 kasus,” ujar Benjamin saat berada di Makassar, Selasa (13/1).
Lintas Nasional: Wamenkes: 62 Kasus Super Flu Terdeteksi di RI
Masyarakat pun diminta untuk tidak panik secara berlebihan oleh Wamenkes, lantaran fenomena ini adalah flu musiman tahunan yang biasanya mencapai puncak penularan pada periode Agustus hingga September.
“Tren kasus ini sebenarnya sudah menunjukkan penurunan sejak bulan Desember lalu. Meskipun sifatnya lebih infeksius, ini tetaplah flu biasa dan tidak memberikan dampak seberat atau seluas pandemi COVID-19,” jelasnya.
Walaupun tingkat penularannya lebih cepat, Wamenkes menjamin bahwa penanganan medis terhadap super flu masih sangat efektif dengan ketersediaan obat-obatan saat ini. Bagi warga yang merasakan gejala berat, disarankan menggunakan obat khusus sesuai dengan rekomendasi ahli.
“Penanganan untuk super flu adalah dengan mengonsumsi obat khusus penyakit tersebut, bukan sekadar obat flu biasa. Namun, penggunaannya tetap wajib mengikuti instruksi dokter atau tenaga kesehatan,” tambah Benjamin.
Sejalan dengan hal itu, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin sebelumnya juga telah menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus kematian akibat infeksi virus tersebut.
“Belum ada laporan fatalitas atau pasien meninggal dunia, sebab ini memang jenis flu yang gejalanya mirip dengan yang biasa kita alami,” tutur Budi saat mengunjungi RSUP Dr Sardjito, Sleman, DIY, Kamis (8/1).
Penjelasan Budi ini sekaligus merespons pertanyaan publik mengenai tingkat kesembuhan pasien, sembari menekankan bahwa Influenza A H3N2 subclade K bukanlah ancaman pandemi yang mematikan layaknya kemunculan Covid-19 tahun 2020 silam.
Ia memaparkan bahwa virus penyebab penyakit ini bukanlah varian baru, melainkan tipe influenza yang sudah diidentifikasi para ahli selama puluhan tahun. Faktor inilah yang membuat sistem imun manusia lebih siap menghadapi Influenza A H3N2 dibandingkan saat menghadapi Covid-19.
“Virus super flu ini sebenarnya sudah lama eksis, berbeda dengan Covid yang merupakan virus baru sehingga daya tahan tubuh kita belum mengenalinya dan belum memiliki proteksi alami,” pungkas Budi.(*/cnni)


