Jakarta, SeputarSumut – Aksi demonstrasi yang terus memanas pada Senin (12/1) memicu Amerika Serikat (AS) untuk mendesak seluruh warga negaranya agar segera angkat kaki dari Iran.
Melalui saluran resmi, Kedutaan Besar Virtual AS di Iran mengeluarkan seruan agar warga Amerika melakukan evakuasi secara mandiri selagi pintu perbatasan masih dibuka.
Dunia Internasional: AS Desak Warga Amerika Segera Tinggalkan Iran
“Sangat disarankan bagi warga negara AS untuk segera meninggalkan wilayah Iran dengan usaha sendiri, tanpa menggantungkan diri pada bantuan dari pemerintah AS,” tulis pernyataan Kedubes AS sebagaimana dilaporkan oleh Iran International.
Terkait jalur evakuasi, pihak Kedutaan menjelaskan bahwa akses darat menuju Armenia via Agarak/Norduz serta jalur ke Turki melalui Gürbulak/Bazargan, Kapıköy/Razi, dan Esendere/Serow masih terpantau terbuka. Sementara itu, perbatasan Turkmenistan memerlukan izin khusus untuk dilalui, sedangkan akses ke Azerbaijan sangat dibatasi. Warga juga diingatkan untuk benar-benar menghindari perjalanan ke arah Afghanistan, Irak, maupun wilayah perbatasan Pakistan-Iran.
Langkah serupa diambil oleh pemerintah Australia pada hari yang sama dengan mengeluarkan instruksi agar warganya keluar dari Iran “sekarang juga.”
Otoritas Negeri Kanguru melalui laman Smartraveler menginformasikan bahwa saat ini sarana transportasi komersial masih bisa diakses meski dalam jumlah yang sangat terbatas.
“Segera tinggalkan Iran. Pilihan perjalanan komersial masih ada namun ketersediaannya kian menipis. Penutupan ruang udara serta pembatalan jadwal penerbangan bisa terjadi kapan saja secara mendadak, yang berisiko menutup akses perjalanan di masa mendatang,” tegas pernyataan resmi Australia.
Selain perintah evakuasi, Australia mengimbau warganya membatalkan rencana kunjungan ke Iran mengingat kondisi di sana “sangat tidak stabil.” Hal ini diperparah dengan pemutusan koneksi internet secara masif serta tingginya angka penangkapan dan korban jiwa di kalangan sipil.
“Jauhi segala bentuk demonstrasi dan kerumunan publik. Warga Australia, termasuk mereka yang memiliki kewarganegaraan ganda, menghadapi risiko besar untuk ditahan,” tambah pihak berwenang Australia.
Kementerian Luar Negeri Swedia tidak ketinggalan mengeluarkan peringatan di hari yang sama, mendesak warganya segera pergi dan meminta siapa pun untuk membatalkan semua agenda perjalanan ke Iran.
Eskalasi ini mengikuti jejak Belgia, Polandia, dan Ukraina yang pada pekan sebelumnya telah lebih dulu meminta warga mereka meninggalkan Iran akibat kerusuhan yang meluas.
Gelombang protes besar-besaran memang telah mengguncang seluruh provinsi di Iran sejak 28 Desember lalu. Awalnya, aksi ini dipicu oleh kemarahan atas krisis ekonomi, namun dalam waktu singkat bertransformasi menjadi tuntutan untuk menggulingkan rezim Ayatollah Ali Khamenei.
Berdasarkan data dari kelompok hak asasi manusia (HAM) yang berbasis di AS, dilaporkan lebih dari 500 orang telah tewas dalam rangkaian demo tersebut, sementara lebih dari 10.000 orang lainnya dijebloskan ke tahanan.
Pemerintah Iran sendiri telah memberikan peringatan keras kepada AS dan Israel agar tidak mengintervensi urusan domestik Teheran. Iran bahkan mengancam akan melakukan serangan balasan yang bersifat antisipasi jika kedua negara tersebut terbukti melakukan tindakan provokatif.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan komitmennya untuk memberikan dukungan kepada rakyat Iran jika pihak otoritas tetap menggunakan kekuatan militer. Trump menyatakan bahwa pihaknya sedang mengkaji berbagai pilihan strategis, termasuk kemungkinan dilakukannya serangan militer.(*/cnni)


