Jakarta, SeputarSumut — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa penandatanganan kesepakatan dengan pihak Iran direncanakan bakal berlangsung pada Hari Minggu (14/6). Menurut penuturannya, pascapenandatanganan perjanjian tersebut terealisasi, jalur pelayaran Selat Hormuz akan menjadi “open to all,” yang bermakna terbuka bagi seluruh pihak.
“Kesepakatan dijadwalkan ditandatangani besok, dan segera setelah ditandatangani, Selat Hormuz TERBUKA UNTUK SEMUA,” tulis Trump melalui platform Truth Social pada Sabtu (13/6) pukul 23.45 waktu setempat, seperti diberitakan Anadolu.
Dunia Internasional: AS-Iran Dijadwalkan Tandatangani Kesepakatan Damai, Donald Trump Sebut Selat Hormuz Segera Terbuka untuk Semua
Pernyataan yang dilayangkan oleh Trump tersebut mengemuka tidak lama setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengutarakan bahwa kesepakatan damai itu memiliki potensi untuk difinalisasi dalam kurun waktu 24 jam ke depan.
Negara Pakistan sendiri tercatat memegang peran krusial sebagai mediator atau penengah dalam agenda gencatan senjata perang antara pihak AS-Israel dengan Iran yang pecah pada April lalu, serta terus terlibat aktif dalam rangkaian proses negosiasi berikutnya.
Sharif memaparkan bahwa Pakistan saat ini tengah mengondisikan persiapan untuk proses penandatanganan elektronik atas naskah perjanjian damai tersebut, sebelum nantinya diteruskan dengan pembahasan ke tingkat teknis pada pekan mendatang.
Trump mengategorikan kesepakatan bersama Iran ini sebagai langkah nyata demi mendirikan sebuah “tembok terhadap senjata nuklir.”
Ia pun turut melontarkan klaim bahwa pihak Teheran sekarang tidak lagi mempunyai keinginan untuk memiliki senjata nuklir dan dipastikan tidak akan memperolehnya dalam wujud apa pun, baik lewat jalur pembelian, proses pengembangan, maupun metode lainnya.
“Hubungan kami dengan Iran sangat berbeda dan jauh lebih baik dibanding pemerintahan sebelumnya,” kata Trump seraya mengkritik kebijakan Iran dari administrasi sebelumnya. Ia juga menegaskan tidak akan ada aliran dana yang melibatkan Washington D.C. dan Teheran.
Melalui publikasi di unggahan yang sama, Trump menyatakan bahwa pihak Amerika Serikat bakal menangani sekaligus meluluhlantakkan material nuklir yang dipunyai oleh Iran.
Ia menyebutkan bahwa tindakan penanganan material tersebut akan dieksekusi pada momen yang dinilai tepat saat kondisi telah kondusif, dengan mengerahkan armada pesawat pengebom jenis B-2.
“Kami menantikan untuk bekerja sama dengan Iran dan seluruh Timur Tengah dalam jangka panjang. Semoga proses ini berjalan cepat, mudah, dan lancar. Jika tidak, kami punya alternatif terakhir, yang semoga tidak pernah perlu digunakan lagi,” tulis Trump.
Pada sudut pandang yang berlainan, beberapa pejabat dari otoritas Amerika Serikat memberikan keterangan bahwa agenda penandatanganan kesepakatan tersebut bakal dilaksanakan secara virtual, dengan pertimbangan utama menyangkut aspek logistik.
Akan tetapi, pihak Iran menyanggah klaim yang menyatakan bahwa proses penandatanganan kesepakatan tersebut akan dilangsungkan pada hari Minggu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa kepastian waktu mengenai momen penandatanganan tersebut sejauh ini masih belum dapat dipastikan secara mutlak.
“Kita harus menunggu dan melihat waktu pasti penandatanganan nota itu. Meski bukan besok, kemungkinan itu terjadi dalam beberapa hari ke depan tidak bisa dikesampingkan,” kata Baghaei.
Baghaei mengimbuhkan keterangan bahwa jajaran tim negosiasi dari Iran sama sekali tidak mengantongi agenda perjalanan menuju ke Jenewa ataupun destinasi wilayah lain dalam kurun waktu dua hari ke depan.
Eskalasi ketegangan yang melibatkan pihak AS, Israel, dan Iran terpantau berada di titik puncak semenjak perang mulai pecah pada tanggal 28 Februari terkait isu program nuklir Iran serta adanya klaim mengenai ancaman mendesak yang bersumber dari rezim Teheran.
Pihak Iran selanjutnya meluncurkan aksi balasan dengan melepaskan serangan ke wilayah Israel beserta para negara sekutunya di area kawasan Teluk, yang di dalamnya termasuk tindakan penutupan akses Selat Hormuz sehingga berakibat pada lumpuhnya aktivitas ekspor minyak dan gas di tingkat global.(*/cnni)

