Jakarta, SeputarSumut — Penundaan agenda pemakaman bagi mendiang pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang tewas akibat serangan militer Amerika Serikat-Israel pada akhir Februari lalu dilaporkan masih dilakukan oleh pihak otoritas Iran.
Langkah pemunduran jadwal upacara pemakaman tersebut dikonfirmasi oleh Wali Kota Teheran, Alireza Zakani, yang memberikan penjelasan bahwa prosesi sakral bersangkutan sengaja ditunda sampai dengan melewati masa 10 hari pertama di bulan Muharram.
Dunia Internasional: Iran Kembali Tunda Pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei Hingga Usai Muharram
“[Ini] untuk memberi kesempatan kepada umat Islam menyelesaikan masa berkabung tahunan mereka atas wafatnya Imam Hussein, pemimpin Syiah awal yang dihormati yang gugur dalam pertempuran Karbala pada 680 M,” demikian laporan AFP dikutip Fars News, Kamis (12/6).
Mengenai estimasi massa yang akan datang, jajaran pejabat di Teheran pada waktu sebelumnya sempat merilis proyeksi bahwa upacara pemakaman dari Khamenei tersebut diperkirakan bakal dihadiri oleh sekitar 20 juta orang.
Adanya keputusan penundaan yang paling baru ini secara otomatis membuat rangkaian ritual pemakaman Khamenei bergeser ke periode 10 hari kedua pada bulan Muharram, yang mana secara penanggalan kemungkinan besar bakal berlangsung di antara tanggal 26 Juni sampai dengan 5 Juli.
Berdasarkan catatan kronologi penjadwalan, otoritas Teheran pada awalnya sempat menetapkan bahwa prosesi pemakaman bagi Khamenei akan diselenggarakan pada tanggal 4 Maret. Walakin, rencana awal tersebut terpaksa diubah dan ditunda akibat situasi kecamuk perang yang terus berkobar di wilayah bersangkutan.
Pihak Iran sesudah itu menyusun kembali jadwal baru dengan menetapkan bahwa jalannya pemakaman akan dilangsungkan sepanjang tiga hari pertama di bulan Muharram, yang diestimasikan jatuh pada tanggal 19 Juni. Akan tetapi, agenda tersebut kembali menemui penundaan menyusul eskalasi gempuran dari pihak militer Amerika Serikat yang diidentifikasi masih berlangsung secara gencar.
Sosok Khamenei didokumentasikan telah menduduki posisi sebagai pemimpin tertinggi di negara Iran sepanjang kurun waktu 37 tahun. Dirinya dilaporkan mengembuskan napas terakhir setelah terkena dampak gempuran brutal yang dilancarkan oleh pasukan Amerika Serikat bersama Israel pada tanggal 28 Februari yang lalu.
Merespons adanya peristiwa kematian tersebut, pihak Iran secara spontan langsung mengalirkan serangan balasan yang membidik area teritorial Israel serta sejumlah pangkalan militer milik Amerika Serikat yang tersebar di beberapa negara Arab. Di samping itu, unit Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan turut mengambil langkah taktis berupa penutupan jalur perlintasan perdagangan global di Selat Hormuz sebagai instrumen untuk menekan kelompok musuh-musuhnya.(*/cnni)

