Jakarta, SeputarSumut — Rencana penyelenggaraan dialog damai fase kedua antara Amerika Serikat dan Iran kini tengah dimatangkan oleh Washington sebelum tenggat waktu gencatan senjata berakhir pada 21 April mendatang.
Langkah internal untuk merumuskan rincian pertemuan tatap muka lanjutan dengan pihak Teheran sedang dibahas secara intensif oleh pemerintahan Presiden Donald Trump, menurut pernyataan seorang pejabat AS kepada CNN pada Senin 13 April.
Dunia Internasional: AS Pertimbangkan Perundingan Damai Putaran Kedua dengan Iran Sebelum Gencatan Senjata Berakhir
Apabila komunikasi tertutup yang melibatkan mediator saat ini menunjukkan perkembangan positif, para pejabat dilaporkan mulai mendiskusikan penentuan waktu serta lokasi yang memungkinkan untuk pertemuan tersebut.
Seorang sumber mengungkapkan kepada CNN bahwa persiapan cepat harus dilakukan guna mengantisipasi situasi jika dinamika diplomasi mengarah pada kesepakatan pertemuan baru.
Kendati demikian, respons Iran terkait kesediaan mereka untuk kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat masih menjadi tanda tanya besar, mengingat Teheran sebelumnya menegaskan belum memiliki agenda untuk berdialog lagi dengan Washington.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump dikabarkan telah memberikan lampu hijau untuk melanjutkan negosiasi langsung asalkan Iran berkomitmen memenuhi persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh Amerika Serikat.
Kebuntuan sempat terjadi dalam perundingan damai di Islamabad, Pakistan, pada Minggu 12 April setelah pihak Iran secara tegas menolak tuntutan AS, terutama yang berkaitan dengan penghentian total program nuklir mereka.
Kegagalan diplomasi di Pakistan tersebut langsung direspons Trump dengan pengumuman blokade di Selat Hormuz yang mulai diberlakukan pada Senin 13 April pukul 10.00 ET.
Detail operasi blokade yang dirilis Komando Pusat AS atau CENTCOM menyebutkan bahwa pasukan militer akan bertindak imparsial terhadap seluruh kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran di kawasan Teluk Persia dan Teluk Oman, namun tetap menjamin kebebasan navigasi bagi kapal menuju pelabuhan non-Iran.
Melalui pernyataan resminya pada hari Senin, Trump mengklaim bahwa pihak Iran sebenarnya telah menghubungi pemerintahannya untuk membicarakan peluang kesepakatan baru.
Trump menyebut bahwa pihak lawan sangat berambisi untuk mencapai mufakat, walaupun ia tidak menjabarkan secara detail mengenai siapa yang menginisiasi maupun menerima kontak telepon tersebut.
Di pihak lawan, pernyataan resmi Iran mencerminkan rasa percaya diri yang tinggi bahwa mereka memiliki posisi tawar kuat terhadap AS karena kendali strategis mereka atas Selat Hormuz.
Washington sendiri tetap optimis bahwa langkah blokade di jalur pelayaran vital tersebut merupakan instrumen tekanan yang efektif untuk memaksa Iran kembali bernegosiasi.
Namun, sejumlah pengamat menilai blokade militer ini berisiko menciptakan ketidakpastian baru alih-alih meredakan konflik, mengingat belum adanya kepastian mengenai sejauh mana keterlibatan militer AS dan bagaimana respons balasan dari Iran.
Para pejabat di lingkaran Presiden Trump tetap menaruh harapan pada solusi diplomatik dan menyatakan kesediaan untuk memperpanjang durasi gencatan senjata jika diperlukan demi memberi ruang bagi proses pertimbangan.
Seorang pejabat AS mengonfirmasi adanya keterlibatan yang terus berlangsung antara kedua negara serta mencatat adanya kemajuan dalam upaya mencapai kesepakatan bersama.
Berdasarkan informasi dari sumber di kawasan, Jenewa atau Islamabad muncul kembali sebagai kandidat kuat lokasi perundingan putaran kedua, menyisihkan opsi lain seperti Wina dan Istanbul yang sempat dipertimbangkan sebelumnya.
Sementara itu, Turki dilaporkan sedang mengambil peran aktif sebagai mediator untuk menjembatani perbedaan posisi yang lebar di antara Amerika Serikat dan Iran.(*/cnni)


