Medan, SeputarSumut — Pasar keuangan domestik bergerak fluktuatif di tengah penantikan data inflasi Amerika Serikat dan eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat. Investor saat ini memilih bersikap defensif sembari mencermati arah kebijakan moneter yang bakal diambil oleh bank sentral Federal Reserve dalam waktu dekat.
Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin menyatakan bahwa respons pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global baru akan terlihat secara jelas pada perdagangan esok hari. Penilaian dari lembaga pemeringkat internasional terhadap kekuatan ekonomi nasional belum cukup meredam gejolak eksternal.
“Setelah S&P mempertahankan peringkat kredit sovereign credit rating tanah air dengan outlook stabil, pelaku pasar keuangan saat ini masih harus berhadapan dengan spekulasi kebijakan apa yang akan diambil AS setelah rilis data inflasi AS pada dini hari nanti,” ujarnya di Medan, Selasa (14/7).
Data inflasi dari negara berkekuatan ekonomi terbesar tersebut menjadi indikator utama yang terus dipantau oleh para pelaku pasar global. Indikator ini sangat menentukan langkah lanjutan yang akan diambil oleh otoritas moneter tertinggi di Amerika Serikat terkait suku bunga acuan mereka.
“Sehingga respon pasar keuangan domestik akan baru bisa terlihat pada perdagangan besok. Karena data inflasi AS menjadi salah satu acuan yang paling sering digunakan untuk melihat arah kebijakan moneter The Fed kedepan,” tuturnya.
Pada sektor pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan sempat membuka perdagangan hari ini dengan bergerak positif pada posisi 6.057. Tren ini melanjutkan performa impresif yang ditunjukkan oleh indeks saham gabungan pada penutupan sesi perdagangan sebelumnya.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama setelah indeks berbalik arah ke zona negatif akibat tekanan sentimen geopolitik luar negeri. Performa buruk ini sejalan dengan jatuhnya mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang juga tertekan oleh kecemasan para investor.
“Pada sesi pembukan perdagangan hari ini IHSG masih melanjutkan penguatan di level 6.057 setelah sempat ditutup menguat cukup meyakinkan pada perdagangan sebelumnya. Namun IHSG berbalik arah dan sejauh ini ditransaksikan di zona merah,” jelasnya.
Konflik bersenjata di Timur Tengah menjadi faktor penekan utama yang mengganggu stabilitas pasar keuangan dunia saat ini. Meningkatnya tensi permusuhan antara kedua negara tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai masa depan pertumbuhan ekonomi global.
“Seiring dengan memburuknya perang, ditambah pergerakan bursa saham di Asia yang mayoritas alami pelemahan. Pasar keuangan global masih terus dihantui oleh perang Iran dengan AS yang intensitasnya alami peningkatan belakangan ini,” paparnya.
Dampak langsung dari ketegangan geopolitik tersebut terlihat dari lonjakan komoditas energi di pasar internasional. Harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik dengan jenis Brent yang kini bertengger pada level perdagangan 84 dolar AS per barel.
Situasi yang tidak menentu ini membuat para pelaku pasar mengkhawatirkan dampaknya terhadap profitabilitas lembaga keuangan di masa mendatang. Kecemasan ini terus membayangi pergerakan modal di berbagai instrumen investasi.
“Harga minyak mentah dunia kembali alami kenaikan, dimana untuk jenis minyak Brent saat ini ditransaksikan di kisaran harga $84 per barel. Ditengah perang yang kian memburuk, pelaku pasar kembali dihantui rasa cemas terkait dengan prosfek kinerja sektor keuangan kedepan,” tambahnya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau melemah pada posisi 18.115 per dolar AS pada sesi pagi. Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh penguatan indeks dolar AS yang kini berada pada level 101.12.
Kondisi fiskal dalam negeri juga diproyeksikan akan menerima tekanan tambahan akibat kebijakan subsidi energi yang diambil oleh otoritas terkait. Hal ini berpotensi memperpanjang tren koreksi mata uang lokal terhadap greenback.
“Sementara itu mata uang rupiah pada perdagangan pagi ini kembali melemah ke level 18.115 per US Dolar. Rupiah kembali alami tekanan sejalan dengan kenaikan USD Index di level 101.12 serta memburuknya sejumlah sentimen eksternal,” urainya.
Faktor ketahanan anggaran negara kini mulai menjadi fokus perhatian berikutnya bagi para pelaku pasar keuangan domestik. Potensi pemburukan ekonomi dari sektor eksternal dinilai bisa merembet dan mengganggu stabilitas industri keuangan di dalam negeri.
“Tekanan terhadap Rupiah berpotensi berlanjut ditengah sikap pemerintah yang akan tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi. Terkanan fiskal akan menjadi sorotan pasar selanjutnya,” kata Gunawan.
Di sisi lain, komoditas logam mulia internasional juga tidak luput dari tekanan dan mencatatkan penurunan nilai transaksi. Emas dunia saat ini diperdagangkan pada kisaran angka 3.996 dolar AS per ons troy, atau setara dengan 2.34 juta rupiah per gram.
Penurunan harga komoditas pelindung nilai ini terjadi bersamaan dengan kembali mencuatnya isu inflasi global yang menjadi perhatian utama investor. Pelaku pasar terus menyesuaikan portofolio mereka terhadap risiko pemburukan ekonomi eksternal tersebut.
“Terlebih ada ancaman ekonomi eksternal yang memburuk dan nantinya memicu tekanan pada kinerja pasar keuangan di tanah air. Disisi lain harga emas dunia kembali alami tekanan dan ditransaksikan dikisaran harga $3.996 per ons troy, atau sekitar 2.34 juta per gram,” terangnya.
Kombinasi antara tekanan fiskal dalam negeri, lonjakan harga energi akibat perang, serta penantian rilis data inflasi global menjadi tantangan berat bagi ketahanan pasar keuangan nasional saat ini.
“Harga emas memburuk disaat inflasi kembali menjadi sorotan pasar,” pungkasnya.(Siong)

